Jumat, 27 Februari 2026

UMS Tekankan Iktikaf sebagai Jalan Hindari Kerugian di Malam Lailatul Qadar

UMS Tekankan Iktikaf sebagai Jalan Hindari Kerugian di Malam Lailatul Qadar
UMS Tekankan Iktikaf sebagai Jalan Hindari Kerugian di Malam Lailatul Qadar

JAKARTA - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengajak umat Islam memaksimalkan ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadan melalui kegiatan iktikaf, agar tidak termasuk golongan yang merugi saat malam Lailatul Qadar, malam yang disebut lebih baik dari seribu bulan.

Iktikaf UMS Dirancang untuk Dekatkan Diri pada Allah SWT

Kegiatan iktikaf yang digelar di Masjid Sudalmiyah Rais UMS dimulai pada 30 Maret 2024, bertepatan dengan malam ke-21 Ramadan. Ketua Takmir Masjid, Dr. Muchamad Ikhsan, S.H., M.H., menekankan bahwa inti dari iktikaf adalah bersyukur kepada Allah SWT atas kesempatan menjalani ibadah di masa penuh berkah.

Baca Juga

Peringatan Hari Dokter Vietnam 27 Februari Dan Pencapaian Medis Luar Biasa

Ikhsan mengatakan, saat mengikuti iktikaf seseorang tidak berharap selain mendapatkan ridha Allah atas amal yang dijalankan. Dia menegaskan bahwa setiap malam yang dilewati hingga malam ke-30 Ramadan pada dasarnya merupakan kesempatan untuk mengalami malam Lailatul Qadar.

Malam Lailatul Qadar disebut sebagai waktu penuh kemuliaan ketika pahala ibadah dilipatgandakan. Umat yang tidak memanfaatkan malam ini dengan amal saleh diperingatkan bisa kehilangan kesempatan besar tersebut.

Risiko Menjadi Golongan yang Merugi

Menurut penjelasan Ikhsan, seseorang yang hanya tidur sepanjang malam dari Isya hingga Subuh pada sepuluh hari terakhir Ramadan menyia-nyiakan waktu berharga tersebut. Tingkat pahala yang hilang disebut setara dengan kesempatan mengalami 83 tahun pahala ibadah, jika dibandingkan dengan malam biasa tanpa amalan ibadah.

Lebih jauh, Ikhsan memperingatkan bahwa tidak hanya orang yang melewatkan ibadah yang rugi, tetapi juga mereka yang melakukan perbuatan maksiat di malam-malam terakhir Ramadan. Ia menegaskan bahwa perbuatan negatif di periode ini bisa dikalikan pahala buruknya setara dengan dosa selama seribu bulan jika dilakukan tanpa tobat.

Hal ini menunjukkan bahwa fokus utama iktikaf bukan hanya banyaknya waktu yang dihabiskan di masjid, tetapi juga kualitas ibadah dan niat yang tulus untuk mendekat kepada Allah SWT.

Program Iktikaf Terbuka untuk Semua Peserta

Kepala Gema Kampus Ramadan (GKR) UMS, Nurgiyatna, S.T., M.Sc., Ph.D., menyatakan bahwa kegiatan iktikaf merupakan program rutin tahunan. Pada tahun ini, kegiatan tidak dibatasi oleh jumlah peserta. Siapa pun yang hadir di Masjid Sudalmiyah Rais siap dilayani sebaik-baiknya dalam mengikuti rangkaian kegiatan ibadah.

Demi kelancaran kegiatan, peserta iktikaf berusia 10–17 tahun diwajibkan melakukan registrasi dengan didampingi wali masing-masing. Rangkaian kegiatan yang disiapkan mencakup berbagai aktivitas ibadah seperti kajian Islam, khataman Al-Qur’an bersama, dan khataman mandiri.

Pengembangan kegiatan iktikaf ini tampak mencerminkan komitmen UMS dalam mendukung umat Islam meraih pahala maksimal di malam-malam penting Ramadan, khususnya dalam sepuluh malam terakhir.

Pemahaman Makna Lailatul Qadar dalam Ibadah

Malam Lailatul Qadar dikenal dalam literatur Islam sebagai malam yang penuh berkah, rahmat, dan keberkahan. Ia memiliki kedudukan yang tinggi sehingga setiap amal ibadah yang dilakukan dipandang lebih berharga daripada 1000 bulan amal biasa.

Dalam kondisi demikian, malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan seperti malam ke-21, ke-23, hingga ke-29 sering menjadi fokus pencarian Lailatul Qadar. Meskipun tanggal persisnya tidak dapat dipastikan, ibadah di hari-hari tersebut dinilai penting untuk memperbesar peluang mendapatkan malam penuh keberkahan.

Keutamaan malam Lailatul Qadar, secara umum, mencakup tawaran ampunan dosa, turunnya malaikat, dan pembukaan pintu rahmat Allah SWT. Umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, tilawah Al-Qur’an, dzikir, serta introspeksi diri sebagai wujud penghambaan kepada Sang Pencipta.

Refleksi Iman dan Amal di Sepuluh Hari Terakhir Ramadan

Kegiatan iktikaf seperti yang diselenggarakan UMS memberi ruang bagi umat Islam untuk fokus pada aktivitas spiritual di hari-hari akhir Ramadan. Ibadah yang dilakukan termasuk salat malam, doa, dan pengajian menjadi sarana yang efektif untuk memperdalam keimanan dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Tidak hanya bagi mahasiswa, kegiatan ini juga terbuka untuk masyarakat umum yang ingin mengisi waktu sepuluh hari terakhir dengan amalan yang fokus dan khusyuk. Fasilitas yang disiapkan di masjid memberikan kenyamanan peserta untuk menjalankan ibadah tanpa gangguan.

UMS berharap melalui iktikaf, peserta dapat lebih memahami esensi Ramadan sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas diri dan tidak hanya sekadar menjalankan ibadah formal. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana pengingat bahwa kesempatan memperoleh keutamaan di malam Lailatul Qadar bukanlah sesuatu yang datang dua kali.

Dengan pemahaman ini, umat Islam diharapkan lebih serius memanfaatkan malam-malam terakhir Ramadan dengan amal yang penuh makna, agar tidak termasuk dalam golongan yang merugi dalam catatan amal di hadapan Allah SWT.

Fery

Fery

teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Prof Zudan Tegaskan Data Kompetensi ASN Nasional Jadi Fondasi Sistem Merit

Prof Zudan Tegaskan Data Kompetensi ASN Nasional Jadi Fondasi Sistem Merit

Kemenkes Beri Bantuan Tambahan Pasien Guna Perkuat Eliminasi TBC Tahun 2026

Kemenkes Beri Bantuan Tambahan Pasien Guna Perkuat Eliminasi TBC Tahun 2026

Tarawih: Ibadah yang Menjadi Terapi Jiwa dan Tubuh di Bulan Ramadan

Tarawih: Ibadah yang Menjadi Terapi Jiwa dan Tubuh di Bulan Ramadan

Ceramah Tarawih 2026 Malam ke-12 Serukan Pentingnya Memahami Maaf Dalam Hati

Ceramah Tarawih 2026 Malam ke-12 Serukan Pentingnya Memahami Maaf Dalam Hati

Tunanetra Aceh Manfaatkan Al-Qur’an Braille Untuk Tadarus Ramadan Inklusif

Tunanetra Aceh Manfaatkan Al-Qur’an Braille Untuk Tadarus Ramadan Inklusif