JAKARTA - Lonjakan minat masyarakat terhadap emas sebagai instrumen investasi jangka menengah dan panjang kini semakin terasa. Di tengah dinamika ekonomi global, fluktuasi nilai tukar, serta ketidakpastian pasar keuangan, emas kembali menemukan momentumnya sebagai aset lindung nilai yang stabil. Kondisi tersebut tercermin dari kinerja PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) yang mencatat pertumbuhan signifikan pada produk tabungan dan penjualan emas. Dalam waktu relatif singkat, yakni delapan bulan, total tabungan emas BSI berhasil menembus angka dua ton, menandai perubahan pola investasi masyarakat yang semakin matang dan terencana .
Dorongan Tren Investasi Aman di Tengah Ketidakpastian Global
Ketidakpastian global yang dipicu oleh dinamika geopolitik, kebijakan moneter ketat, serta fluktuasi harga komoditas, mendorong masyarakat mencari instrumen investasi yang lebih aman. Dalam konteks ini, emas kembali menjadi pilihan utama karena sifatnya yang relatif stabil dan mampu mempertahankan nilai dalam jangka panjang. Kondisi tersebut turut mengerek minat masyarakat Indonesia untuk mengalihkan sebagian dana ke instrumen emas.
Baca JugaDukung Pembangunan Berkelanjutan, Perbankan Gencar Akselerasi Digitalisasi UMKM
Direktur Distribution and Sales BSI, Anton Sukarna, menilai bahwa lonjakan harga emas dalam satu tahun terakhir turut menjadi faktor pendorong meningkatnya minat nasabah. Menurutnya, emas sangat cocok digunakan untuk kebutuhan jangka menengah hingga panjang, seperti perencanaan ibadah haji, pendidikan anak, hingga dana darurat. Selain itu, emas juga dinilai fleksibel karena mudah dicairkan ketika dibutuhkan, sehingga semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat modern yang dinamis .
Capaian Dua Ton dalam Delapan Bulan, Bukti Kepercayaan Nasabah
Dalam periode delapan bulan, tabungan emas BSI mampu menembus angka dua ton, sebuah capaian yang mencerminkan kepercayaan tinggi nasabah terhadap layanan bullion bank yang dikembangkan perseroan. Hingga akhir Desember 2025, total penjualan emas BSI tercatat mencapai 2,18 ton, dengan jumlah nasabah khusus bulion bank menembus 500 ribu orang. Mayoritas nasabah berasal dari kelompok usia produktif, yakni 20 hingga 40 tahun, yang didominasi generasi Z dan milenial.
Fenomena ini menunjukkan terjadinya pergeseran perilaku finansial generasi muda yang semakin sadar akan pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang. Jika sebelumnya emas lebih identik dengan generasi tua, kini instrumen tersebut justru diminati kalangan muda yang akrab dengan teknologi digital dan transaksi daring. Kehadiran layanan emas digital BSI melalui aplikasi BYOND dinilai mempermudah akses masyarakat untuk mulai berinvestasi, bahkan dengan nominal kecil.
Inovasi Digital BSI Permudah Akses Investasi Emas
Salah satu kunci keberhasilan BSI dalam menggenjot pertumbuhan tabungan emas adalah pemanfaatan teknologi digital. Melalui platform BYOND, masyarakat dapat mulai menabung emas dengan nominal sangat terjangkau, yakni mulai dari 0,05 gram atau setara sekitar Rp100 ribu. Skema ini dinilai efektif dalam mendorong inklusi keuangan dan memperluas basis investor ritel.
Anton Sukarna menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi mendemokratisasi kepemilikan emas, agar tidak hanya dinikmati kalangan tertentu. Dengan kemudahan transaksi digital, masyarakat dapat memantau harga, melakukan pembelian, hingga menjual emas secara real time, tanpa harus datang ke kantor cabang. Inovasi ini juga memperkuat posisi BSI sebagai pelopor layanan bank emas syariah yang inklusif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Peran Bank Emas dalam Memperkuat Ekosistem Keuangan Syariah
Lebih dari sekadar produk investasi, kehadiran bank emas dinilai memiliki peran strategis dalam memperkuat ekosistem keuangan syariah nasional. Melalui layanan penitipan, perdagangan, dan simpanan emas, BSI tidak hanya menyediakan alternatif investasi, tetapi juga membuka peluang optimalisasi potensi emas nasional.
Kebijakan pemerintah yang mendorong pembentukan bullion bank diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada pasar luar negeri serta memaksimalkan nilai tambah komoditas emas di dalam negeri. Dengan demikian, pengelolaan emas dapat dilakukan secara lebih terstruktur, transparan, dan memberikan multiplier effect bagi perekonomian nasional.
Selain itu, meningkatnya literasi masyarakat terhadap investasi emas turut memperluas basis nasabah perbankan syariah. Hal ini sejalan dengan upaya mendorong pertumbuhan industri keuangan syariah yang berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing global.
Prospek Pertumbuhan yang Masih Terbuka Lebar
Melihat tren yang ada, prospek pertumbuhan tabungan emas BSI dinilai masih sangat terbuka. Permintaan emas diperkirakan akan tetap tinggi seiring berlanjutnya ketidakpastian global dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya diversifikasi aset. Dengan strategi digitalisasi, inovasi produk, serta edukasi berkelanjutan, BSI optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan tersebut.
Ke depan, perseroan berkomitmen untuk terus mengembangkan layanan bullion bank agar semakin mudah diakses dan sesuai dengan kebutuhan nasabah. Upaya ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kinerja bisnis, tetapi juga memperkuat kontribusi sektor perbankan syariah dalam mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Capaian tabungan emas yang menembus dua ton dalam delapan bulan menjadi bukti nyata bahwa emas kembali menempati posisi strategis dalam portofolio investasi masyarakat. Di tengah tantangan ekonomi global, langkah BSI dalam menghadirkan layanan emas yang inklusif dan berbasis digital menjadi katalis penting bagi transformasi perilaku finansial masyarakat Indonesia menuju perencanaan keuangan yang lebih matang dan berkelanjutan
Fery
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gen Z Jangan FOMO! Ini Risiko Ambil KPR Tanpa Hitung Daya Beli di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Bank Jateng Perluas KPR Subsidi di Batang: Gandeng 40 Pengembang untuk Hunian MBR
- Jumat, 06 Februari 2026
Analisis Saham Sektor Konsumsi: Strategi Investasi ICBP, SIDO, dan CMRY di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Berita Lainnya
Bank Jateng Perluas KPR Subsidi di Batang: Gandeng 40 Pengembang untuk Hunian MBR
- Jumat, 06 Februari 2026
Analisis Saham Sektor Konsumsi: Strategi Investasi ICBP, SIDO, dan CMRY di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Jasindo Syariah Tetap Optimistis Kelola SBSN Seiring Arah Suku Bunga BI
- Jumat, 06 Februari 2026










