Ekspansi MRT Timur Barat Jadi Magnet Baru Properti Blok M Hingga Balaraja
- Jumat, 06 Februari 2026
JAKARTA - Rencana pengembangan jalur Mass Rapid Transit Jakarta lintas Timur–Barat mulai memunculkan dinamika baru di sektor properti.
Setelah koridor Bundaran HI–Lebak Bulus terbukti menjadi katalis pertumbuhan kawasan, perhatian kini bergeser ke rencana perpanjangan rute Kembangan–Balaraja. Jalur sepanjang kurang lebih 30 kilometer itu diproyeksikan menjadi tulang punggung mobilitas baru sekaligus membuka peluang ekonomi bagi kawasan yang dilaluinya.
PT MRT Jakarta (Perseroda) menyampaikan bahwa pengembangan MRT lintas Timur–Barat akan memasuki tahap studi Fase 2. Tahap ini menjadi krusial karena akan menentukan arah perencanaan teknis, bisnis, serta integrasi kawasan di sepanjang rute. Sejumlah pengembang properti besar pun mulai “turun gunung” menjajaki peluang kerja sama, melihat potensi nilai tambah yang dapat tercipta dari kehadiran transportasi massal tersebut.
Baca JugaProdia Perluas Layanan Genetika Nasional Lewat Program WES Gratis Penyakit Langka
Minat Pengembang Muncul Seiring Rencana Perluasan Jalur
Rencana studi pengembangan MRT rute Kembangan–Balaraja menarik perhatian pengembang yang telah memiliki atau tengah mengembangkan kawasan di sepanjang koridor tersebut. Pengalaman pada jalur awal Bundaran HI–Lebak Bulus menjadi referensi kuat, di mana kehadiran MRT terbukti mendorong lahirnya pusat-pusat ekonomi baru dan meningkatkan nilai kawasan secara signifikan.
Berdasarkan data dari MRT Jakarta, sejumlah emiten properti telah menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding dalam tahap penjajakan awal. Mereka melihat pengembangan MRT bukan sekadar proyek transportasi, tetapi juga instrumen penataan kota dan pengungkit pertumbuhan kawasan jangka panjang. Penjajakan ini menjadi sinyal awal bahwa koridor Timur–Barat akan menjadi area strategis berikutnya.
Deretan Emiten Terlibat Dalam Nota Kesepahaman
Pihak-pihak yang terlibat dalam penandatanganan MoU mencerminkan besarnya minat industri properti terhadap proyek ini. PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) terlibat melalui entitas Summarecon Serpong dan Summarecon Tangerang. Selain itu, ada PT Alam Sutera Realty Tbk. (ASRI), PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR), serta PT Intiland Development Tbk. (DILD) melalui PT Sinar Puspapersada.
Nama lain yang turut bergabung adalah PT Metropolitan Land Tbk. (MTLA) melalui Metropolitan Karyadeka Development atau Metland Cyber Putri, serta Paramount Enterprise International. Keterlibatan beragam pengembang ini menunjukkan bahwa rencana MRT lintas Timur–Barat dipandang sebagai proyek kolaboratif yang memerlukan sinergi lintas pelaku industri.
Pembentukan Kelompok Kerja Bersama Dua Tahun Ke Depan
Setelah tahap penjajakan awal, MRT Jakarta bersama para pengembang akan membentuk joint working group. Kelompok kerja ini direncanakan bekerja selama dua tahun ke depan untuk menyusun rencana pengembangan jalur Kembangan–Balaraja secara komprehensif. Fokusnya mencakup aspek interkoneksi, integrasi kawasan, hingga kajian teknis dan bisnis.
Kelompok kerja ini akan menjadi wadah koordinasi antara operator transportasi dan pengembang kawasan. Melalui forum tersebut, setiap pihak dapat menyelaraskan kepentingan, mulai dari penempatan stasiun, aksesibilitas kawasan, hingga potensi pengembangan komersial. Hasil kajian ini nantinya menjadi dasar sebelum proyek melangkah ke tahap pembangunan.
Tahap Awal Diskusi Dan Kehati-hatian Investasi
Direktur MTLA Olivia Surodjo menjelaskan bahwa keterlibatan perseroan masih berada pada tahap awal diskusi. Fokus utama pembahasan saat ini berkaitan dengan penempatan stasiun MRT di kawasan yang dilalui jalur tersebut. Menurutnya, dampak terhadap kinerja perusahaan baru dapat dihitung lebih jelas ketika proyek telah memasuki tahap konstruksi.
“MoU ini merupakan langkah awal diskusi mengenai penempatan stasiun MRT dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas interkoneksi kawasan. Belum ada angka investasi yang bersifat mengikat,” ujarnya, Kamis (5/2/2026). Pernyataan ini menegaskan bahwa pendekatan yang diambil masih bersifat eksploratif dan penuh kehati-hatian.
Kajian Menyeluruh Dari Aspek Teknis Hingga Risiko
Hal senada disampaikan Presiden Direktur SMRA Adrianto P. Adhi. Ia menjelaskan bahwa nota kesepahaman mencakup kajian bersama pengembangan koridor Kembangan–Balaraja, mulai dari aspek teknis, bisnis, legal, hingga manajemen risiko. Kajian ini penting untuk memastikan proyek berjalan berkelanjutan dan memberikan manfaat optimal bagi semua pihak.
Sementara itu, Presiden Direktur Paramount Land M. Nawawi menilai keterlibatan pengembang dalam proyek MRT bersifat jangka panjang. Menurutnya, integrasi transportasi massal akan memengaruhi pola pengembangan kawasan di masa depan, baik dari sisi perencanaan ruang maupun aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitarnya.
Integrasi Transportasi Dan Pertumbuhan Kawasan Komersial
Direktur Paramount Land Chrissandy Dave menambahkan bahwa perseroan saat ini masih berfokus pada pengembangan kawasan komersial yang tumbuh seiring peningkatan aktivitas wilayah sekitar.
Namun, ia menegaskan seluruh rencana tersebut tetap bergantung pada perkembangan dan realisasi proyek MRT ke depan. Transportasi massal dinilai menjadi faktor kunci yang menentukan arah pengembangan kawasan.
Data Paramount Estate Management menunjukkan pertumbuhan kawasan Maggiore sepanjang 2023 hingga 2025 mencapai 711 persen, dengan lebih dari 400 bisnis kuliner dan gaya hidup aktif beroperasi.
Pertumbuhan ini disebut sejalan dengan strategi adaptabilitas perusahaan di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan. Ke depan, kehadiran MRT lintas Timur–Barat diyakini akan memperkuat tren serupa di kawasan lain sepanjang koridor Kembangan–Balaraja.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gen Z Jangan FOMO! Ini Risiko Ambil KPR Tanpa Hitung Daya Beli di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Bank Jateng Perluas KPR Subsidi di Batang: Gandeng 40 Pengembang untuk Hunian MBR
- Jumat, 06 Februari 2026
Analisis Saham Sektor Konsumsi: Strategi Investasi ICBP, SIDO, dan CMRY di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Berita Lainnya
Linktown Relokasi Kantor Surabaya Perkuat Ekspansi Pasar Properti Jawa Timur Nasional
- Jumat, 06 Februari 2026
Ciputra Fokus Optimalkan Mal Eksisting Saat Pasokan Baru Terbatas 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Tokopedia dan TikTok Shop Dorong Penjual Affiliate Menembus Pasar Global
- Jumat, 06 Februari 2026
Strategi Ethos Perkuat Pasar Susu Kambing Lewat Etawaku Platinum Sachet
- Jumat, 06 Februari 2026












