JAKARTA - Kawasan Condet di Jakarta Timur telah lama mengukuhkan jati dirinya bukan hanya sebagai wilayah bersejarah, tetapi juga sebagai episentrum wewangian terjangkau bagi masyarakat ibu kota. Geliat bisnis refill parfum atau isi ulang parfum di wilayah ini bukan sekadar perdagangan biasa, melainkan sebuah industri kreatif yang berhasil mendemokratisasi aroma mewah menjadi lebih inklusif. Di wilayah ini, wewangian dengan harga terjangkau diracik langsung di toko, dengan beberapa aroma yang kerap menyerupai parfum-parfum bermerek ternama.
Keberadaan toko-toko ini menjadi solusi bagi konsumen yang mendambakan wangi eksklusif tanpa harus merogoh kocek jutaan rupiah. Salah satu pemain utama yang menjadi saksi sejarah pertumbuhan industri ini adalah Evi Parfum, sebuah gerai yang ukurannya menonjol di antara kios-kios lainnya di kawasan tersebut. Berdasarkan pantauan pada Selasa, toko tersebut sudah ramai oleh pelanggan yang silih berganti mencoba aroma parfum sebelum memutuskan membeli.
Ekonomi Racikan: Kualitas Internasional dengan Harga Merakyat
Baca JugaAkselerasi Kredit Perbankan: OJK Optimis Tembus Dua Digit di 2026
Daya tarik utama dari bisnis isi ulang di Condet adalah fleksibilitas harga dan intensitas aroma yang dapat disesuaikan dengan keinginan pelanggan. Jafar, salah satu pegawai di Evi Parfum, menjelaskan bahwa strategi harga yang ramah kantong menjadi kunci loyalitas konsumen mereka. Untuk ukuran standar dengan racikan satu banding satu, parfum dijual seharga sekitar Rp 30.000 per botol. Sementara untuk mereka yang menginginkan aroma lebih kuat dengan racikan dua banding satu, harganya dibanderol sedikit lebih tinggi, yakni sekitar Rp 35.000 per botol.
Skala bisnis ini pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Koleksi biang parfum yang tersedia sangat melimpah, mencakup ribuan varian yang berasal dari berbagai penjuru dunia. “Rata-rata sih kebanyakan tuh (yang dijual varian) 1.500 (mili). (Ada) 1.800 (jenis cairan parfum) yang dijual dari berbagai merek,” kata Jafar kepada media pada Selasa. Kelengkapan koleksi ini membuat Condet menjadi destinasi utama bagi para pencinta wewangian yang mencari alternatif aroma spesifik.
Rantai Pasok Global dan Tren Aroma Paling Dicari
Meskipun dijual di kios lokal, bahan baku yang digunakan merupakan hasil impor yang menunjukkan keterhubungan bisnis Condet dengan pasar global. Jafar menuturkan sebagian besar cairan parfum diperoleh dari pemasok luar negeri, khususnya dari India dan Swiss, yang selama ini menjadi sumber pasokan utama. Ketergantungan pada pasokan impor ini terkadang menghadirkan tantangan tersendiri dalam hal logistik. “Tergantung kalau misalkan kita habis terus order, tahu-tahu dateng. Kadang harus nunggu juga gitu, lama. Kita kan quantity-nya banyak, kadang (pasokan) yang masuk itu cuman tiga bulan,” tutur Jafar.
Mengenai preferensi konsumen, pengaruh merek besar dunia masih sangat mendominasi selera pasar lokal. Merek-merek seperti Chanel dan Dior paling banyak diminati, baik oleh konsumen perempuan maupun laki-laki. Jafar mencatat bahwa meski konsumen laki-laki meningkat, permintaan dari segmen perempuan tetap menjadi motor penggerak utama bisnis ini. “Dior itu cewek-cowok. Kalau cowok (biasanya) kan (varian) Sauvage. Kalau cewek yang Blooming Bouquet,” terang Jafar. Selain raksasa internasional, tren parfum lokal seperti Mykonos, HMNS, dan Jayrose juga mulai merambah rak-rak di Condet, meski jumlahnya belum mampu menggeser dominasi merek luar negeri.
Lonjakan Musiman dan Strategi Stok Hari Raya
Seperti kebanyakan bisnis ritel di Indonesia, bisnis parfum di Condet memiliki siklus keramaian yang sangat bergantung pada momen-momen keagamaan dan libur nasional. Akhir pekan biasanya menjadi waktu tersibuk di mana pelanggan datang silih berganti. Namun, puncak dari segala aktivitas perdagangan ini terjadi saat memasuki bulan Ramadan dan menjelang Idul Fitri.
Kebutuhan masyarakat untuk tampil wangi di hari raya membuat penjualan melonjak drastis. “Kalau lebaran lebih-lebih. Bisa tiga kali lipat (penjualannya). Ramai banget, mungkin karena kita biasanya abis lebaran tutup, jadi mungkin pada nyetok mereka,” ujar Jafar. Lonjakan tiga kali lipat ini menunjukkan betapa parfum telah menjadi bagian dari budaya merayakan hari besar bagi masyarakat Jakarta.
Dua Dekade Bertahan: Transformasi dari Kios Kecil Menjadi Gurita Bisnis
Evi Parfum merupakan potret keberhasilan transformasi UMKM yang konsisten. Jafar, yang telah bekerja di sana sejak 2010, mengungkapkan perjalanan usaha tersebut sebenarnya telah dimulai jauh sebelum itu, yakni pada awal tahun 2000-an. Berawal dari operasi yang sangat sederhana, bisnis ini berkembang seiring dengan meningkatnya kepercayaan pelanggan terhadap kualitas racikan mereka. Dulu, toko tersebut hanya dijalankan oleh tiga orang pekerja, namun kini skalanya telah berubah drastis.
“Yang kerja di sini sekarang 20 (pegawai). Itu terbanyak. Dulu cuman dari tiga orang,” ungkap Jafar. Penambahan tenaga kerja ini sebanding dengan ekspansi fisik yang mereka lakukan. Saat ini, Evi Parfum telah memiliki sekitar empat cabang yang seluruhnya masih berada di kawasan Condet. Penyebaran cabang ini dilakukan secara strategis untuk menjangkau lebih banyak pelanggan di titik-titik berbeda. Beberapa cabang tersebut tergolong baru, yang menurut Jafar, “(Cabang yang baru) mungkin ada tiga tahun, setahun (sudah berdiri).”
Eksistensi sentra parfum di Condet membuktikan bahwa bisnis tradisional yang mampu menjaga kualitas racikan dan memahami selera pasar akan tetap bertahan di tengah gempuran merek-merek modern. Dengan bahan baku dari Swiss dan India, serta sentuhan tangan peracik lokal, Condet akan terus menjadi "surga" bagi siapa saja yang ingin tampil wangi tanpa harus membebani finansial.
David
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Tarif Listrik Februari 2026 Tetap Berlaku Untuk Semua Golongan Pelanggan PLN
- Jumat, 06 Februari 2026
Endrick Bersinar Di Prancis, Peluang Kembali Perkuat Timnas Brasil Kian Terbuka
- Jumat, 06 Februari 2026
Real Madrid Siap Mainkan Trent Alexander Arnold Lawan Valencia Akhir Pekan Ini
- Jumat, 06 Februari 2026
LKP Prasetya Putri: Mencetak Perias Profesional dan Kemandirian Ekonomi Wanita
- Jumat, 06 Februari 2026
Berita Lainnya
Strategi Cerdas Keluarga Indonesia Amankan Aset di Tengah Fluktuasi Global
- Jumat, 06 Februari 2026
Dapur Ce-Bu: Simbol Ketangguhan dan Kemandirian Ekonomi Perempuan Bugis
- Jumat, 06 Februari 2026
Sinergi Bank bjb dan LPK Perkuat Perlindungan Finansial Tenaga Kerja
- Jumat, 06 Februari 2026
AFPI Lihat Peluang Pertumbuhan Fintech Lending Masih Terbuka Lebar 2026
- Jumat, 06 Februari 2026




.jpg)








