Jumat, 06 Februari 2026

Penguatan Dolar AS Terus Berlanjut Tekan Enam Mata Uang Utama Global

Penguatan Dolar AS Terus Berlanjut Tekan Enam Mata Uang Utama Global
Penguatan Dolar AS Terus Berlanjut Tekan Enam Mata Uang Utama Global

JAKARTA - Pergerakan pasar keuangan global kembali menunjukkan dominasi dolar Amerika Serikat pada akhir pekan ini. Mata uang Negeri Paman Sam mencatat penguatan berkelanjutan seiring perubahan sikap investor yang semakin defensif. 

Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, dolar kembali menjadi pilihan utama sebagai aset lindung nilai, menekan sejumlah mata uang utama dunia.

Penguatan dolar ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Kombinasi faktor geopolitik, dinamika pasar saham, hingga strategi lindung nilai investor asing membentuk sentimen yang mendorong permintaan terhadap dolar AS. Situasi tersebut tercermin jelas dalam pergerakan indeks dolar dan nilai tukar mata uang global pada penutupan perdagangan terakhir.

Baca Juga

Investasi Emas Generasi Z: Transformasi Aset Tradisional ke Digital

Indeks Dolar Menguat Di Akhir Perdagangan

Dolar Amerika Serikat menguat pada penutupan perdagangan Kamis waktu setempat atau Jumat pagi WIB. Penguatan ini ditopang meningkatnya permintaan terhadap aset safe-haven serta penutupan posisi lindung nilai oleh investor non-residen. Kondisi pasar yang tidak menentu membuat dolar kembali menjadi rujukan utama pelaku pasar global.

Mengutip Xinhua, Jumat, 6 Februari 2026, indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya naik 0,21 persen menjadi 97,824. Kenaikan ini menandai kelanjutan tren positif dolar di tengah tekanan yang melanda pasar global.

Euro Dan Poundsterling Tertekan

Pada penutupan perdagangan di New York, mata uang Eropa mengalami tekanan terhadap dolar AS. Euro melemah menjadi USD1,1794 dari posisi USD1,1809 pada sesi sebelumnya. Pelemahan ini mencerminkan berkurangnya minat investor terhadap mata uang kawasan euro di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Poundsterling Inggris juga mengalami penurunan cukup signifikan. Mata uang Inggris tersebut turun ke level USD1,3549 dari USD1,3663 pada sesi sebelumnya. Tekanan terhadap poundsterling menunjukkan bahwa mata uang utama Eropa belum mampu menyaingi daya tarik dolar AS sebagai aset aman.

Dolar AS Menguat Terhadap Yen Dan Franc Swiss

Penguatan dolar AS juga terlihat terhadap mata uang safe-haven tradisional lainnya. Dolar AS diperdagangkan di level 156,9 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan 156,82 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan bahwa dolar tetap unggul bahkan terhadap yen yang kerap menjadi aset lindung nilai.

Selain itu, dolar AS juga menguat terhadap franc Swiss. Nilai tukar dolar naik menjadi 0,7774 franc Swiss dari sebelumnya 0,7766 franc Swiss. Pergerakan ini menegaskan dominasi dolar di tengah meningkatnya kebutuhan investor terhadap aset yang likuid dan stabil.

Tekanan Pada Dolar Kanada Dan Krona Swedia

Mata uang komoditas dan Eropa Utara turut merasakan tekanan dari penguatan dolar AS. Dolar AS naik menjadi 1,3682 dolar Kanada dari 1,3668 dolar Kanada. Pergerakan ini mencerminkan melemahnya dolar Kanada di tengah fluktuasi harga komoditas global.

Dolar AS juga mencatat penguatan signifikan terhadap krona Swedia. Mata uang AS tersebut naik menjadi 9,0363 krona Swedia dari 8,9864 krona Swedia. Tekanan pada krona Swedia menunjukkan bahwa mata uang negara maju pun tidak luput dari dampak penguatan dolar.

Aset Safe Haven Jadi Buruan Investor

Permintaan terhadap dolar AS meningkat seiring investor memburu aset safe-haven. Eskalasi risiko geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak, serta potensi perlambatan ekonomi global mendorong pelaku pasar untuk mencari perlindungan dari volatilitas.

Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman. Dolar AS, dengan likuiditas tinggi dan perannya sebagai mata uang cadangan global, kembali menjadi pilihan utama.

Emas Kehilangan Daya Tarik Sebagai Lindung Nilai

Di sisi lain, aksi jual emas dalam skala besar justru menimbulkan keraguan terhadap perannya sebagai aset lindung nilai. Penurunan harga emas mengingatkan pasar pada risiko pecahnya gelembung, sehingga memicu pertanyaan tentang kemampuannya menjalankan fungsi safe-haven secara konsisten.

Kondisi tersebut membuat pilihan investor semakin terbatas. Dengan melemahnya daya tarik emas, dolar AS menjadi satu-satunya alternatif utama untuk melindungi nilai investasi di tengah ketidakpastian global yang meningkat.

Pasar Saham AS Masih Sulit Ditinggalkan

Terlepas dari melemahnya kepercayaan terhadap dolar akibat kebijakan Presiden AS Donald Trump, pasar saham Amerika Serikat tetap sulit ditinggalkan oleh investor global. Selama satu dekade terakhir, pendapatan perusahaan di AS tumbuh lebih cepat dibandingkan wilayah lain di dunia.

Selain itu, perusahaan teknologi AS masih memiliki sedikit pesaing yang sepadan di luar negeri. Dominasi sektor teknologi ini membuat pasar AS tetap menarik, meski diiringi risiko dan volatilitas yang meningkat.

Strategi Lindung Nilai Dorong Permintaan Dolar

Investor asing yang memiliki eksposur di sekuritas AS terpaksa melakukan lindung nilai terhadap risiko investasi. Salah satu caranya adalah dengan menjual mata uang lain dan meningkatkan kepemilikan dolar AS. Strategi ini turut memperkuat permintaan terhadap dolar di pasar valuta asing.

Penurunan indeks S&P 500 juga berperan dalam mendorong pergerakan ini. Pelemahan pasar saham menyebabkan investor keluar dari posisi beli saham dan beralih ke dolar AS sebagai langkah perlindungan terhadap ketidakpastian pasar.

Dominasi Dolar Masih Berlanjut

Dengan kombinasi faktor geopolitik, dinamika pasar saham, serta strategi lindung nilai investor global, penguatan dolar AS diperkirakan masih berlanjut dalam jangka pendek. Selama sentimen risk-off mendominasi, dolar berpotensi terus menekan mata uang utama dunia.

Kondisi ini menegaskan kembali posisi dolar AS sebagai jangkar utama sistem keuangan global. Di tengah ketidakpastian yang masih membayangi, dominasi dolar tampaknya belum akan tergeser dalam waktu dekat.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Analisis Upah Sektoral 2025: Sektor Teknologi dan Keuangan Puncaki Daftar

Analisis Upah Sektoral 2025: Sektor Teknologi dan Keuangan Puncaki Daftar

Sentra Parfum Condet: Harumnya Cuan dari Swiss hingga India

Sentra Parfum Condet: Harumnya Cuan dari Swiss hingga India

Resiliensi Ekonomi Nasional: Indonesia Ungguli Pertumbuhan Negara-Negara Tangguh

Resiliensi Ekonomi Nasional: Indonesia Ungguli Pertumbuhan Negara-Negara Tangguh

OJK Catat Pembiayaan Program Strategis Tumbuh Kuat Dorong Ekonomi Nasional Tahun 2025

OJK Catat Pembiayaan Program Strategis Tumbuh Kuat Dorong Ekonomi Nasional Tahun 2025

Beli Tiket TransJakarta Lewat GoPay Kini Praktis Tanpa Pindah Aplikasi Secara Digital

Beli Tiket TransJakarta Lewat GoPay Kini Praktis Tanpa Pindah Aplikasi Secara Digital