ESDM Percepat Pengembangan Ekosistem Hidrogen Sejalan Program Asta Cita Pemerintah
- Kamis, 05 Februari 2026
JAKARTA - Pemerintah Indonesia tengah mempercepat pembentukan ekosistem hidrogen sebagai bagian tak terpisahkan dari upaya transisi energi dan penguatan ketahanan energi nasional. Langkah ini dikembangkan selaras dengan Strategi Hidrogen Nasional serta Rencana Hidrogen dan Amonia Nasional (RHAN), yang dirancang untuk membawa hidrogen menjadi komoditas energi penting di Indonesia. Pendekatan ini bukan semata untuk mendukung dekarbonisasi, melainkan juga untuk menjadi pilar transformasi ekonomi jangka panjang dan memperkuat industrialisasi yang kompetitif di kancah global sesuai gagasan Asta Cita yang digaungkan oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Percepatan ini dicetuskan melalui forum-forum penting seperti 4th Indonesia-Japan Hydrogen Ammonia Development Acceleration Forum di Jakarta, di mana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan komitmennya untuk mendorong hidrogen hijau masuk ke pasar domestik dan internasional. Fokusnya adalah memastikan bahwa transisi energi ini tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga menghadirkan peluang besar bagi sektor industri, transportasi, pembangkit listrik, dan sektor lain yang memiliki orientasi ekspor.
Target Ketersediaan dan Tahapan Implementasi Hidrogen
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, menegaskan bahwa salah satu target utama pada tahun ini adalah ketersediaan hidrogen hijau di pasar mencapai hampir 200 ton per tahun, sebagai KPI strategis yang harus dicapai oleh Kementerian ESDM. Ini menunjukkan dorongan kuat pemerintah dalam mempercepat adopsi hidrogen secara nyata di tengah berbagai tantangan teknis dan kebijakan.
Baca JugaDaftar 20 Kampus Paling Unggul di Asia Edisi TIME-Statista 2026
Rencana implementasi ekosistem hidrogen dirancang secara bertahap melalui tiga fase utama, yang masing-masing mencerminkan tahapan kesiapan regulasi, infrastruktur, permintaan pasar, dan kemampuan domestik:
Fase Inisiasi (2025–2034) – membangun fondasi dasar, termasuk penyusunan kebijakan dan peta jalan teknis.
Fase Pengembangan dan Integrasi (2035–2045) – memperkuat konektivitas antara produksi, distribusi, dan penggunaan hidrogen di berbagai sektor.
Fase Akselerasi serta Keberlanjutan (2045–2060) – memperluas pemanfaatan dan memastikan keberlanjutan ekonomi serta ekosistem hidrogen dalam jangka panjang.
Pendekatan bertahap ini diharapkan mampu menciptakan stabilitas dalam pengembangan teknologi dan infrastruktur, serta menjaga dinamika pasar agar tumbuh secara sehat.
Kolaborasi Internasional: Peran Jepang dalam Pengembangan Hidrogen
Kolaborasi strategis dengan mitra internasional menjadi komponen penting dalam percepatan ekosistem hidrogen Indonesia. Salah satu contoh nyata adalah keterlibatan Japan International Cooperation Agency (JICA) yang memberikan dukungan teknis dan finansial dalam pengembangan infrastruktur hidrogen di Indonesia. Kerja sama ini tidak hanya menambah sumber daya keahlian dan pengalaman proyek, tetapi juga membuka peluang akses pembiayaan publik untuk mempercepat pengembangan fasilitas yang layak secara finansial.
Dalam forum percepatan tersebut, Senior Representative JICA Indonesia, Akira Sato, menilai bahwa arah kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo sangat jelas: melindungi ketahanan energi, merangsang investasi, serta menerjemahkan momentum ini menjadi pembangunan inklusif. Dengan demikian, kemitraan ini diharapkan menjadi pendorong utama dalam memperluas kolaborasi industri dan pengembangan pasar hidrogen serta amonia.
Kerja sama internasional lainnya, seperti kemitraan antara Indonesia dan Jepang yang tertuang dalam Peta Jalan Kolaborasi Indonesia-Jepang untuk Mempercepat Masyarakat Hidrogen-Amonia di Indonesia (HASI), juga menunjukkan bagaimana kolaborasi global memfasilitasi transfer teknologi dan dukungan implementasi proyek skala besar. Peta jalan ini dilengkapi dengan langkah praktis kerjasama yang mendukung RHAN serta memperjelas sinergi antara kedua negara dalam mengembangkan ekosistem hidrogen secara lebih terstruktur.
Peran Ekosistem Hidrogen dalam Ketahanan Energi dan Industrialiasi
Pengembangan ekosistem hidrogen bukan hanya bagian dari upaya dekarbonisasi emisi karbon, tetapi juga menjadi pilar penting dalam mencapai ketahanan energi nasional. Energi hidrogen, terutama yang diproduksi dari sumber yang rendah karbon atau green hydrogen, mampu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, sehingga memberikan diversifikasi dalam bauran energi nasional. Sebagai energi yang fleksibel, hidrogen berpotensi digunakan di berbagai sektor, termasuk industri berat, transportasi, pembangkit listrik maupun sebagai komoditas ekspor.
Pendekatan ini sejalan dengan prakiraan bahwa pasar hidrogen hijau global akan tumbuh signifikan dalam beberapa dekade ke depan, membuka peluang ekonomi besar bagi Indonesia. Potensi ini tidak hanya berkaitan dengan penciptaan lapangan kerja baru tetapi juga peningkatan nilai tambah industri nasional melalui integrasi teknologi baru dan pengembangan rantai pasok energi terbarukan.
Tantangan dan Langkah Kebijakan ke Depan
Meskipun momentum pengembangan ekosistem hidrogen semakin kuat, tantangan tetap ada, termasuk kebutuhan untuk memperkuat basis regulasi, insentif investasi, serta standardisasi teknis. Penyusunan regulasi yang mendukung — baik dari sisi fiskal maupun operasional — menjadi kunci agar pengembangan hidrogen dapat berjalan efektif dan menarik investor. Diskusi tentang regulasi ini juga mencakup aspek pajak, standar produksi, serta sistem perdagangan karbon, yang akan menjadi instrumen penting dalam mendukung komersialisasi hidrogen di pasar domestik maupun internasional.
Selain itu, pengembangan sumber daya manusia dan teknologi domestik juga menjadi fokus penting agar Indonesia mampu mengambil peran lebih besar dalam industri energi baru dan terbarukan ini.
Dengan seluruh langkah strategis tersebut, Indonesia berharap dapat memosisikan hidrogen sebagai salah satu komoditas energi utama yang mendukung transisi energi nasional dan sekaligus berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Fery
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Ekspor Kendaraan Jadi Penopang Industri Otomotif Nasional di Tahun 2026
- Kamis, 05 Februari 2026
Mengulas Peran Vital Industri Otomotif Sebagai Tulang Punggung Ekonomi Nasional
- Kamis, 05 Februari 2026
Berita Lainnya
Ekspor Kendaraan Jadi Penopang Industri Otomotif Nasional di Tahun 2026
- Kamis, 05 Februari 2026
Mengulas Peran Vital Industri Otomotif Sebagai Tulang Punggung Ekonomi Nasional
- Kamis, 05 Februari 2026








