Sabtu, 10 Januari 2026

Optimisme Konsumen Indonesia Akhir 2025 Masih Kuat Meski Indeks Keyakinan Turun

Optimisme Konsumen Indonesia Akhir 2025 Masih Kuat Meski Indeks Keyakinan Turun
Optimisme Konsumen Indonesia Akhir 2025 Masih Kuat Meski Indeks Keyakinan Turun

JAKARTA - Optimisme konsumen Indonesia pada penghujung 2025 menunjukkan sinyal kehati-hatian baru di tengah dinamika ekonomi yang terus bergerak. 

Survei Konsumen Bank Indonesia memperlihatkan adanya penurunan tipis pada Indeks Keyakinan Konsumen dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, posisi indeks masih berada jauh di atas ambang optimisme yang menandakan persepsi masyarakat tetap positif. Kondisi ini menggambarkan adanya penyesuaian ekspektasi, bukan perubahan arah keyakinan secara drastis.

Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen Desember 2025 berada pada level 123,5. Angka tersebut masih mencerminkan optimisme karena berada di atas level 100. Namun, capaian ini sedikit lebih rendah dibandingkan November 2025 yang tercatat sebesar 124,0. Penurunan tipis tersebut menjadi sinyal bahwa konsumen mulai lebih berhati-hati dalam memandang kondisi ekonomi.

Baca Juga

Dukung Ekonomi Kerakyatan, Bank Mandiri Salurkan KUR Rp 41 Triliun hingga Desember 2025

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa keyakinan konsumen tetap terjaga meski mengalami sedikit pelemahan. Ia menyampaikan bahwa kondisi tersebut masih ditopang oleh indikator utama lainnya. “IKE tercatat sebesar 111,4 dan IEK sebesar 135,6, meskipun masing-masing sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 111,5 dan 136,6,” ujar Denny dalam keterangan resmi, Jumat (9/1/2026). Pernyataan ini menegaskan bahwa pelemahan bersifat terbatas dan terukur.

Daya Tahan Optimisme di Tengah Penyesuaian Ekspektasi

Survei BI menunjukkan bahwa Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini dan Indeks Ekspektasi Konsumen masih berada pada zona optimistis. IKE mencerminkan persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini, sementara IEK merefleksikan pandangan terhadap enam bulan ke depan. Walaupun keduanya mengalami penurunan tipis, level indeks tetap kuat. Hal ini menunjukkan masyarakat masih menilai situasi ekonomi relatif stabil.

Optimisme yang bertahan ini mencerminkan kepercayaan konsumen terhadap fundamental ekonomi nasional. Aktivitas ekonomi yang terus berjalan serta berbagai kebijakan yang menopang daya beli turut berperan menjaga persepsi positif. Namun, konsumen mulai menyesuaikan ekspektasi dengan perkembangan terkini. Sikap ini tercermin dari penurunan indeks yang relatif kecil namun konsisten.

Pelemahan tipis tersebut juga dapat diartikan sebagai refleksi kehati-hatian dalam mengambil keputusan ekonomi. Konsumen cenderung lebih selektif dalam belanja dan perencanaan keuangan. Meski demikian, belum terlihat adanya perubahan signifikan yang mengarah pada pesimisme. Optimisme masih menjadi sentimen dominan dalam penilaian masyarakat.

Perbedaan Keyakinan Berdasarkan Tingkat Pengeluaran

Berdasarkan kelompok pengeluaran, Bank Indonesia mencatat adanya variasi tingkat keyakinan konsumen. Pada Desember 2025, keyakinan konsumen meningkat pada kelompok pengeluaran Rp 2,1 juta hingga Rp 5 juta per bulan. Kelompok ini menunjukkan persepsi ekonomi yang relatif lebih stabil. Kenaikan tersebut menandakan adanya optimisme di segmen kelas menengah.

Peningkatan tertinggi tercatat pada kelompok pengeluaran Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta. Indeks Keyakinan Konsumen di kelompok ini mencapai 129,2. Angka tersebut menunjukkan tingkat optimisme yang lebih kuat dibandingkan kelompok lainnya. Kondisi ini mencerminkan daya tahan konsumsi pada segmen masyarakat dengan pendapatan menengah.

Sebaliknya, kelompok pengeluaran lain menunjukkan kecenderungan stagnasi atau penurunan keyakinan. Hal ini mengindikasikan adanya tekanan persepsi pada sebagian lapisan masyarakat. Faktor biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi global turut memengaruhi pandangan konsumen. Meski begitu, optimisme secara agregat tetap terjaga.

Faktor Usia Mempengaruhi Persepsi Konsumen

Dari sisi usia, survei BI menunjukkan hasil yang berbeda antar kelompok. Peningkatan keyakinan konsumen hanya terjadi pada kelompok usia 31–40 tahun. Indeks Keyakinan Konsumen pada kelompok usia ini tercatat sebesar 127,5. Angka tersebut menandakan keyakinan yang relatif kuat dibandingkan kelompok usia lainnya.

Kelompok usia produktif ini dinilai memiliki stabilitas pendapatan dan peluang kerja yang lebih baik. Hal tersebut mendorong persepsi positif terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ke depan. Sementara itu, kelompok usia lainnya cenderung mengalami stagnasi atau penurunan keyakinan. Kondisi ini mencerminkan perbedaan tingkat kepercayaan berdasarkan fase kehidupan.

Perbedaan persepsi ini menjadi gambaran penting bagi pemangku kebijakan. Kebijakan ekonomi dan ketenagakerjaan dapat diarahkan untuk menjaga optimisme lintas kelompok usia. Dengan demikian, kepercayaan konsumen dapat tetap terjaga secara merata.

Dinamika Wilayah Mewarnai Keyakinan Konsumen

Secara spasial, Indeks Keyakinan Konsumen menunjukkan peningkatan di sebagian besar kota yang disurvei. Kota-kota seperti Banten, Mataram, dan Ambon mencatat kenaikan optimisme konsumen. Peningkatan ini mencerminkan persepsi ekonomi daerah yang relatif positif. Aktivitas ekonomi lokal menjadi salah satu faktor pendukungnya.

Namun, penurunan keyakinan konsumen tercatat di beberapa kota lainnya. Medan dan Padang menjadi wilayah yang mengalami penurunan cukup signifikan. Penurunan ini dipengaruhi oleh dampak bencana yang terjadi di wilayah Sumatra. Kondisi tersebut memengaruhi persepsi masyarakat terhadap stabilitas ekonomi daerah.

Perbedaan antar wilayah ini menunjukkan bahwa faktor lokal memiliki peran besar dalam membentuk keyakinan konsumen. Dampak kejadian non-ekonomi seperti bencana alam dapat memengaruhi persepsi masyarakat secara langsung. Oleh karena itu, pemulihan wilayah terdampak menjadi penting dalam menjaga optimisme nasional.

Sinyal Kehati-hatian Menjelang Periode Berikutnya

Pelemahan tipis Indeks Keyakinan Konsumen pada akhir 2025 menjadi sinyal kehati-hatian masyarakat. Konsumen mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap kondisi ekonomi ke depan. Meski demikian, optimisme secara umum masih terjaga di level yang kuat. Hal ini menunjukkan fondasi kepercayaan konsumen belum terganggu.

Kondisi tersebut memberikan gambaran bahwa masyarakat tidak bersikap pesimistis, tetapi lebih realistis. Penyesuaian ini penting dalam menjaga keseimbangan konsumsi dan perencanaan keuangan. Bank Indonesia menilai bahwa stabilitas persepsi konsumen tetap terjaga dengan baik. Survei ini menjadi indikator penting bagi arah kebijakan ekonomi selanjutnya.

Dengan optimisme yang masih dominan, perekonomian nasional memiliki modal kepercayaan yang cukup kuat. Namun, dinamika global dan domestik tetap perlu diantisipasi. Kehati-hatian konsumen di akhir 2025 menjadi pengingat penting bagi semua pihak. Optimisme yang terjaga dengan kewaspadaan diharapkan mampu menopang pertumbuhan ekonomi ke depan.

Sutomo

Sutomo

teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Harga Emas Pegadaian Hari Ini Antam UBS Galeri 24 Jumat Januari 2026

Harga Emas Pegadaian Hari Ini Antam UBS Galeri 24 Jumat Januari 2026

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Januari 2026 Termurah Rp420 Ribu Per Gram

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Januari 2026 Termurah Rp420 Ribu Per Gram

Harga Buyback Emas Antam Januari 2026 Naik, Investor Cermati Pajak Transaksi

Harga Buyback Emas Antam Januari 2026 Naik, Investor Cermati Pajak Transaksi

Update Kondisi Ekonomi Global dan Dampaknya Indonesia Versi Bos OJK Mahendra Siregar

Update Kondisi Ekonomi Global dan Dampaknya Indonesia Versi Bos OJK Mahendra Siregar

Kredit Perbankan Nasional Tembus Rp8.315 Triliun hingga November 2025

Kredit Perbankan Nasional Tembus Rp8.315 Triliun hingga November 2025