JAKARTA - Setelah memotong harga minyak untuk pelanggan Asia untuk bulan ketiga berturut-turut, Arab Saudi kini diperkirakan akan melihat ekspor minyak mentahnya ke kawasan Asia tetap kuat melebihi tingkat normal.
Langkah ini diambil di tengah sinyal pasar global yang menunjukkan surplus pasokan, sehingga Riyadh memilih pendekatan harga untuk menjaga daya saing produknya di tengah kondisi pasar yang kompleks.
Langkah menurunkan harga yang dilakukan oleh Saudi Aramco, perusahaan minyak milik negara terbesar dunia, disinyalir mendorong peningkatan penerimaan alokasi minyak mentah oleh kilang-kilang Asia Timur, terutama di luar China, seperti Jepang dan Korea Selatan.
Baca JugaProduksi dan Konsumsi Jagung Melonjak 23 Persen, Pemerintah Siapkan Ekspor Nasional
Menurut pedagang yang berbicara kepada Bloomberg, kilang-kilang itu diperkirakan akan menerima setidaknya 9 juta barel lebih banyak dari biasanya untuk pengiriman bulan Februari dibandingkan dengan rata-rata normalnya. Para pedagang ini meminta identitas mereka dirahasiakan karena mereka tidak berwenang berbicara di depan publik. Aramco sendiri tidak menanggapi permintaan komentar.
Strategi Harga di Tengah Kelebihan Pasokan
Penurunan harga dilakukan saat patokan global mencatat penurunan tahunan terburuk sejak 2020, yang dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar tentang kelebihan pasokan minyak di seluruh dunia. Situasi ini membuat minyak Saudi menjadi lebih murah dibandingkan jenis minyak spot lain, termasuk yang berasal dari Uni Emirat Arab (UEA) dan Qatar, sehingga Saudi menjadi pilihan menarik bagi para pembeli di Asia.
Para pedagang mengatakan bahwa volume yang diharapkan datang ke Asia Timur tersebut sekitar 15% lebih banyak daripada rata-rata ekspor Saudi ke kawasan itu, yakni sekitar 2,1 juta barel per hari selama sepuluh bulan pertama tahun sebelumnya berdasarkan data dari perusahaan pelacakan kapal Kpler Ltd. Bahkan peningkatan mulai terlihat sejak November lalu.
Selain itu, kilang-kilang di India juga diproyeksikan menerima setidaknya 2 juta barel lebih banyak pasokan Saudi dibandingkan dengan tingkat jangka panjang yang biasa mereka terima. Ini setara dengan kira-kira 10% lebih tinggi dari rata-rata volume yang dikirim Aramco kepada kilang mereka setiap bulannya sepanjang tahun sebelumnya.
China, sebagai importir minyak mentah terbesar dari Saudi, tetap menjadi pelanggan utama meskipun pembelian untuk pengiriman bulan depan sedikit menurun. Negara itu membeli sekitar 48 juta barel untuk pengiriman Februari, sedikit turun dibandingkan sekitar 49 sampai 50 juta barel untuk Januari.
Dinamika Pasar Minyak Timur Tengah
Perlu dicatat bahwa kecenderungan penurunan harga dan peningkatan volume ekspor Saudi ini juga terjadi di tengah kondisi pasar minyak mentah Timur Tengah yang lebih luas, di mana banyak penjual minyak mentah spot mengalami tekanan dan penurunan permintaan.
Termasuk ada tekanan yang melanda pasar spot di UEA dan Qatar. Selisih harga yang diperdagangkan telah runtuh, dan patokan Dubai tetap berada dalam kondisi contango ringan, yang menunjukkan pasar menghadapi surplus pasokan dalam jangka pendek.
Tantangan Global pada Permintaan Minyak
Kondisi global yang memicu Saudi harus memotong harga bukan tanpa alasan. Penurunan permintaan di beberapa negara besar dan kekhawatiran kelebihan pasokan menjadi faktor utama. Seiring dengan pertumbuhan output dari negara-negara lain dan dinamika ekonomi di Asia, harga minyak global sempat mencatat penurunan terbesar secara tahunan sejak pandemi Covid-19, mencerminkan lemahnya permintaan dan tekanan pasokan di pasar.
Volume yang tinggi dan harga yang kompetitif ini membuat minyak dari Saudi menjadi pilihan menarik bagi kilang-kilang Asia yang ingin mengamankan pasokan dengan harga yang relatif lebih murah dibanding minyak spot lain di pasar regional. Ini terutama membantu menjaga hubungan antar eksportir dan importir dalam periode pasar yang fluktuatif.
Dampak pada Harga dan Pasokan Global
Strategi harga yang agresif oleh Saudi Aramco berdampak tidak hanya pada pola pembelian di Asia, tetapi juga pada kecenderungan pasar minyak global. Penurunan harga terus-menerus memberi sinyal persaingan yang meningkat antar eksportir, karena negara lain juga menurunkan harga untuk mempertahankan pangsa pasarnya di tengah kelebihan pasokan.
Ketika harga minyak Saudi turun lebih rendah dibanding harga spot lain, ini memberi ruang bagi kilang di Asia untuk membeli lebih banyak minyak Saudi dengan nilai yang lebih kompetitif — yang pada akhirnya membantu mendukung permintaan di kawasan tersebut meskipun harga global turun.
Melalui strategi penurunan harga hingga tiga bulan berturut-turut, Arab Saudi tampaknya berhasil mendorong ekspor minyak mentahnya ke Asia tetap kuat di atas level normal meskipun situasi pasar global menunjukkan tekanan kelebihan pasokan.
Peningkatan volume ekspor ke Jepang, Korea Selatan, India, dan tingkat pembelian di China menunjukkan bahwa kebijakan harga ini membantu Saudi mempertahankan relevansi dan pangsa pasar di Asia, sekaligus mengatasi tantangan yang timbul dari dinamika pasar minyak global yang tidak stabil.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Tito Percepat Verifikasi 52 Daerah Pascabencana Sumatera, Data Jadi Acuan
- Sabtu, 10 Januari 2026
Dirut Bulog Pastikan Stok Beras Nasional Aman hingga Imlek, Ramadhan, Idul Fitri 2026
- Sabtu, 10 Januari 2026
Kemensos Buka Pendaftaran Sekolah Rakyat Februari 2026, Target 45 Ribu Siswa Baru
- Sabtu, 10 Januari 2026
Berita Lainnya
Pertamina Klaim Distribusi BBM Berangsur Normal, 97 Persen SPBU Aceh Sudah Aktif
- Sabtu, 10 Januari 2026
Rekomendasi 5 Rumah Murah di Probolinggo dengan Harga Terjangkau Mulai Rp150 Juta
- Sabtu, 10 Januari 2026
Mandatori BBM Bioetanol Sepuluh Persen Mulai 2028 Pemerintah Siapkan Insentif Investasi
- Jumat, 09 Januari 2026
Harga BBM Terbaru Awal Januari 2026 Stabil Pertalite Bertahan Pertamax Tetap Diminati
- Jumat, 09 Januari 2026













