JAKARTA - Di era serba cepat seperti sekarang, waktu makan kerap dikorbankan demi mengejar aktivitas lain.
Tidak sedikit orang yang menyantap makanan dalam hitungan menit, bahkan sambil bekerja, menatap layar gawai, atau berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan berikutnya. Kebiasaan ini sering dianggap sepele, padahal cara dan kecepatan makan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan tubuh.
Makan bukan sekadar memasukkan makanan ke dalam perut, tetapi merupakan proses biologis yang melibatkan kerja organ, hormon, dan sistem pencernaan secara menyeluruh. Ketika proses ini dilakukan terlalu cepat, tubuh tidak diberi kesempatan untuk bekerja secara optimal. Akibatnya, berbagai masalah kesehatan bisa muncul, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Baca JugaSudah Punya Resolusi Tahun Baru? Ini 5 Manfaatnya Berdasarkan Penelitian
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi jika seseorang terbiasa makan terlalu cepat? Melansir dari laman Verywell Health, berikut ini beberapa dampak yang dapat muncul akibat kebiasaan tersebut.
1. Tidak Menyadari Sinyal Kenyang dari Tubuh
Tubuh memiliki sistem alami untuk mengatur rasa lapar dan kenyang melalui hormon, seperti ghrelin dan leptin. Namun, sistem ini membutuhkan waktu untuk bekerja. Lambung umumnya memerlukan sekitar 20 menit untuk mengirimkan sinyal ke otak bahwa tubuh sudah cukup makan.
Saat Anda makan terlalu cepat, makanan bisa habis sebelum sinyal kenyang tersebut muncul. Akibatnya, Anda cenderung makan lebih banyak dari yang sebenarnya dibutuhkan tubuh. Selain itu, kebiasaan makan cepat sering kali diiringi dengan mengunyah yang kurang sempurna. Padahal, mengunyah lebih lama diketahui dapat meningkatkan hormon pemicu rasa kenyang dan menurunkan hormon yang merangsang rasa lapar.
2. Muncul Gangguan Pencernaan
Makanan yang masuk ke lambung dalam kondisi belum cukup halus akan menyulitkan proses pencernaan. Selain itu, makan terburu-buru juga membuat seseorang lebih banyak menelan udara. Kombinasi keduanya dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada saluran cerna.
Beberapa keluhan yang umum terjadi antara lain perut terasa begah, kembung, mulas, bergas, hingga kram perut. Jika kebiasaan ini berlangsung lama, iritasi dan peradangan pada lapisan lambung atau gastritis bisa saja terjadi, sehingga menimbulkan nyeri yang berulang.
3. Berat Badan Lebih Mudah Bertambah
Makan terlalu cepat sering kali berujung pada konsumsi kalori berlebih tanpa disadari. Karena sinyal kenyang terlambat muncul, porsi makan menjadi lebih besar. Kebiasaan ini juga kerap disertai dengan ngemil lebih sering.
Dalam jangka panjang, pola makan seperti ini membuat berat badan sulit dikontrol. Risiko kelebihan berat badan hingga obesitas pun meningkat, terutama jika tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup.
4. Risiko Diabetes Tipe 2 Lebih Tinggi
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang menghabiskan waktu makan kurang dari 20 menit memiliki risiko lebih tinggi terkena diabetes tipe 2 dibandingkan mereka yang makan lebih perlahan. Diabetes tipe 2 terjadi ketika tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara efektif, sehingga kadar gula darah tetap tinggi.
Makan cepat dapat memicu lonjakan gula darah yang tajam setelah makan. Jika kondisi ini terjadi berulang, risiko terjadinya resistensi insulin dan diabetes tipe 2 pun semakin besar.
5. Risiko Sindrom Metabolik Meningkat
Sindrom metabolik merupakan kumpulan kondisi yang meliputi tekanan darah tinggi, lemak perut berlebih, kadar kolesterol tidak normal, serta gangguan gula darah. Kondisi ini berkaitan erat dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes.
Penelitian menemukan bahwa orang yang terbiasa makan cepat memiliki kemungkinan lebih besar mengalami sindrom metabolik. Hal ini berkaitan dengan kebiasaan makan berlebihan, kenaikan berat badan, lonjakan gula darah, serta peradangan kronis dalam tubuh.
6. Penyerapan Nutrisi Kurang Optimal
Proses pencernaan sejatinya dimulai sejak di mulut. Mengunyah berfungsi memecah makanan dan mencampurnya dengan air liur agar enzim pencernaan dapat bekerja dengan baik. Tahap awal ini sangat penting untuk membantu penyerapan nutrisi di usus.
Saat Anda makan terlalu cepat dan kurang mengunyah, proses penyerapan vitamin, mineral, serta zat gizi lainnya menjadi tidak optimal. Akibatnya, meski jumlah makanan cukup, tubuh belum tentu mendapatkan manfaat nutrisi secara maksimal.
7. Risiko Tersedak Lebih Besar
Kebiasaan makan cepat juga meningkatkan risiko tersedak, terutama jika mengambil suapan besar atau berbicara saat makan. Risiko ini lebih tinggi pada anak-anak dan lansia yang memiliki kemampuan menelan lebih terbatas.
Mengunyah secara perlahan, mengambil porsi kecil, serta fokus saat makan dapat membantu menurunkan risiko tersedak dan membuat proses makan menjadi lebih aman.
Celo
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Waskita Karya Tancap Gas Bangun 80 Huntara untuk Pemulihan Aceh Tamiang Pascabencana
- Jumat, 02 Januari 2026
Adhi Karya Genjot Pembangunan Huntara Cepat untuk Pemulihan Aceh Tamiang Pascabencana
- Jumat, 02 Januari 2026
Saham BUMN Pertambangan Tembus Kinerja Impresif Menutup Tahun 2025 Secara Positif
- Jumat, 02 Januari 2026
BMKG Prediksi Cuaca Jakarta Jumat Ini 2 Januari 2026 Didominasi Hujan Ringan hingga Sedang
- Jumat, 02 Januari 2026
Berita Lainnya
7 Manfaat Kesehatan Membaca Buku Setiap Hari yang Jarang Disadari Banyak Orang
- Jumat, 02 Januari 2026
Terpopuler
1.
14 Cara Menerapkan Self Love untuk Kesehatan Mental
- 02 Januari 2026
2.
3.
Intip 10 Minuman Sehari-hari yang Baik untuk Kesehatan Jantung
- 02 Januari 2026
4.
Makan Terlalu Cepat? Ini 7 Dampaknya bagi Kesehatan
- 02 Januari 2026












