Pasokan Timur Tengah Terganggu, Harga Minyak dan Solar Melonjak

Ilustrasi pasokan minyak (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Jumat, 18 September 2026 | 00:45:41 WIB

NEW YORK – Kenaikan harga minyak diperkirakan masih akan berlangsung secara bertahap oleh Analis Kpler, Matt Smith, seiring efek hilangnya pasokan dari Timur Tengah selama enam setengah bulan yang mulai berdampak pada harga solar dan bensin.

Dalam wawancara dengan CNBC pada Kamis (17/9), harga minyak disebutkan telah naik sekitar US$30 per barel sejak awal Agustus oleh Smith sebagaimana dilansir dari berita sumber. Permintaan berkendara musim panas biasanya berakhir pada periode ini sehingga harga bensin mulai menurun, tetapi keadaan tersebut belum terjadi saat ini.

Sekitar 8,5 juta barel per hari produksi minyak diperkirakan telah hilang selama konflik berlangsung oleh Kpler dengan mengutip OILPRICE.

Penurunan tajam juga terjadi pada aktivitas kilang di saat yang bersamaan, sehingga hasil produksi bensin dan solar dari minyak mentah yang tersisa mengalami pengurangan.

"Di situlah titik tekanannya," kata Smith sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Harga Brent tercatat mengalami penurunan sekitar 3% menjadi US$102,72 per barel pada Kamis, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) bergerak turun menjadi US$100,47.

Laporan mengenai ditemukannya jalur alternatif oleh Arab Saudi untuk mengalirkan minyak mentah saat pipa East-West masih rusak menjadi pemicu penurunan harga tersebut.

Gangguan pada pipa East-West selama satu bulan diperkirakan oleh Smith dapat mengakibatkan 100 juta hingga 120 juta barel minyak gagal diekspor melalui Yanbu.

Pengiriman minyak dari fasilitas di dalam Teluk Persia kemudian ditingkatkan oleh Arab Saudi serta sebagian pasokan dialihkan melewati Selat Hormuz, walaupun lalu lintas kapal di kawasan tersebut masih sangat terbatas.

Hanya ada tiga kapal komersial yang melewati Selat Hormuz pada Rabu berdasarkan data pelacakan kapal yang dikutip Reuters.

Jumlah tersebut menunjukkan penurunan jika dibandingkan dengan 12 kapal pada Selasa dan rata-rata 17 kapal dalam kurun waktu 10 hari terakhir.

Produk olahan minyak biasanya diekspor oleh Timur Tengah sekitar 3 juta barel per hari menurut penjelasan Smith.

Kapasitas pengolahan milik Rusia, yang memegang status sebagai eksportir solar terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, juga menghilang akibat pembatasan ekspor bahan bakar serta serangan drone Ukraina.

Kapasitas pengolahan yang belum terpakai sebenarnya masih dimiliki oleh China.

Akan tetapi, aktivitas kilang-kilang China dikurangi ketika harga minyak mentah melewati angka US$100 per barel dan mereka tetap lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pasar domestik menurut Smith sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Peningkatan ekspor produk minyak China pun hanya terjadi secara terbatas.

Harga solar di Amerika Serikat tercatat telah menembus angka US$6 per galon.

Hal tersebut memicu lonjakan biaya operasional pada sektor manufaktur, konstruksi, pertanian, hingga transportasi truk.

Pergerakan harga minyak mentah diperkirakan oleh Smith masih dapat terus meningkat jika de-eskalasi konflik tidak kunjung terjadi.

Tekanan pasokan pada solar dinilai olehnya jauh lebih rumit untuk dapat segera diselesaikan.

Reporter: Akbar