BOJ Naikkan Suku Bunga, Saham Asia dan Wall Street Menguat
JAKARTA - Saham Asia menguat pada Jumat setelah Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 1,25%. Penguatan pasar juga didukung penurunan harga minyak yang meredakan kekhawatiran inflasi serta rebound Wall Street yang dipimpin saham-saham teknologi.
Nikkei 225 naik 1,70% ke 65.228, sementara TOPIX menguat 0,20% ke 4.102,51. Indeks MSCI Asia Pacific juga naik sekitar 0,5%.
BOJ menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin melalui pemungutan suara 7-2. Dua pembuat kebijakan memberikan suara menentang kenaikan tersebut. Sementara itu, Gubernur BOJ Kazuo Ueda dijadwalkan menggelar konferensi pers pada Jumat ini.
Sejumlah analis menilai hasil keputusan tersebut relatif dovish. Dua suara penolakan terhadap kenaikan suku bunga dianggap turut memperlunak pesan mengenai kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.
Kenaikan pasar Jepang berlangsung setelah kinerja Wall Street yang lebih kuat. Nasdaq melonjak 1,7% pada perdagangan sebelumnya, S&P 500 naik 1,1%, Dow menguat 0,6%, sedangkan Philadelphia Semiconductor Index melonjak 3,1%.
Di perdagangan Asia, Nasdaq 100 Futures turun 0,2% dan S&P 500 Futures melemah 0,1%. Pergerakan tersebut menunjukkan adanya kehati-hatian investor setelah reli di pasar Amerika Serikat.
Penurunan harga energi juga memberikan dukungan terhadap pasar obligasi. Imbal hasil US Treasury 10 tahun turun sembilan basis poin pada perdagangan sebelumnya menjadi 4,93%, setelah sempat menyentuh 5,02% pada Rabu. Sementara itu, obligasi pemerintah Australia, Jepang, dan Selandia Baru menguat.
KOSPI melonjak 2,7%, meskipun indeks tersebut masih turun sekitar 0,8% sepanjang pekan ini. SK Hynix naik 5,8%, sedangkan Samsung Electronics menguat 3,4%.
Saham teknologi Jepang juga mencatat penguatan. Kioxia dan Largan masing-masing naik 7,14%, Murata menguat 3,8%, TDK bertambah 1,4%, sementara LG Innotek menguat 5,5%.
Rebound tersebut terjadi setelah saham-saham kecerdasan buatan (AI) mengalami volatilitas sepanjang pekan. Kekhawatiran pasar sebelumnya muncul setelah sejumlah eksekutif AI terkemuka menyerukan perlunya pengamanan serta perlambatan pengembangan model, yang kemudian memicu aksi jual di sepanjang rantai pasokan teknologi.
Investor kemudian kembali masuk ke sektor tersebut seiring permintaan terhadap infrastruktur AI yang masih kuat. Kondisi itu membantu saham-saham chip memulihkan sebagian penurunannya. Pelemahan KOSPI sepanjang pekan serta rebound tajam pada Jumat mencerminkan perubahan sentimen tersebut.
Penurunan harga minyak juga terus menopang sentimen risiko. Brent crude turun 1,2% menjadi $103,56 per barel, sekaligus memperpanjang penurunan untuk sesi ketiga berturut-turut. Para pelaku pasar masih mencermati kemungkinan kemajuan diplomatik dalam perang AS-Iran.
Arab Saudi berupaya memulihkan sekitar setengah kapasitas jalur pipa East-West dalam beberapa hari ke depan setelah serangan drone menutup jalur tersebut pada pekan sebelumnya.
Sementara itu, China telah meminta Iran membantu mengendalikan Houthi Yaman yang didukung Teheran. Perkembangan tersebut berpotensi mengurangi gangguan di sekitar Selat Bab el-Mandeb.
Di China, pasar saham juga mengalami rebound seiring penguatan saham-saham AI. CSI 300 naik 1,1% ke 4.511,20, meskipun masih turun sekitar 0,6% sepanjang pekan ini. Shanghai Composite naik 0,9%, sedangkan Hang Seng Hong Kong menguat 0,7%.
Saham AI dan teknologi China turut bergerak menguat. MiniMax melonjak 13,5%, Z.AI naik 5,8%, Alibaba menguat 4,3%, Baidu bertambah 2% dan JD.com naik 0,4%.
Meituan naik 0,1%, sementara Tencent turun 0,6% dan NetEase melemah 0,7%.
Pergerakan tersebut menunjukkan investor kembali menaruh perhatian pada sejumlah segmen AI dan teknologi setelah sebelumnya bersikap lebih berhati-hati pada awal pekan.
Di pasar lainnya, S&P/ASX 200 Australia, NZX 50 Selandia Baru, dan Straits Times Singapura sebagian besar bergerak mendatar. Nifty 50 India naik 0,2%, SET Thailand menguat 0,3%, PSEi Filipina turun 1,2%, sedangkan Jakarta Composite Indonesia melemah 0,35%.