Morgan Stanley catat pembelian 59,4 miliar saham GOTO 26 Agustus 2026.

Ilustrasi Morgan Stanley catat pembelian 59,4 miliar saham GOTO pada harga Rp23 per 26 Agustus 2026.(sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Senin, 31 Agustus 2026 | 01:39:22 WIB

JAKARTA – Rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus batas bawah harga saham Rp50 menjadi dinamika baru bagi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Jika terealisasi, saham GOTO berpeluang diperdagangkan hingga level Rp1.

Di tengah dinamika tersebut, Morgan Stanley tercatat membeli saham GOTO di harga Rp23 pada 26 Agustus 2026. Kepemilikan Morgan Stanley mencapai 59,4 miliar saham atau sekitar 5,2 persen dari total saham beredar.

Analis MNC Sekuritas, Christian, menilai penghapusan floor price berpotensi menekan saham GOTO dalam jangka pendek, namun dapat memperbaiki likuiditas perdagangan.

“Kalau aturan harga terendah diubah, ekspektasinya harga saham GoTo turun ke bawah Rp50. Ini ada sisi positifnya karena penjual bisa bertemu pembeli di harga tertentu,” jelasnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Christian menambahkan, kondisi saham GOTO di level Rp50 menciptakan technical overhang. Antrean jual lebih besar dibanding antrean beli membuat transaksi tidak selalu terjadi. Perubahan aturan dapat membuka ruang bagi passive fund melakukan rebalancing setelah GOTO dikeluarkan dari indeks FTSE dan MSCI.

Analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Aziz, menilai tekanan akibat perubahan floor price bersifat temporer. Fundamental tetap menjadi penentu pergerakan saham. 

“Ada ruang bagi GoTo untuk memperkuat fundamental karena GoTo adalah ekosistem digital terintegrasi. Jadi kalau kinerja Gojek terdampak, masih ada GoPay,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Aziz menekankan kepastian regulasi menjadi faktor penting. Pemerintah telah memangkas komisi aplikasi ojol menjadi maksimal 8 persen mulai 1 Juli 2026, dari sebelumnya 20 persen. Regulasi pengantaran makanan dan barang masih disiapkan.

Manajemen GOTO optimistis mencapai target adjusted EBITDA 2026 sebesar Rp3,2–Rp3,4 triliun, didukung kontribusi lebih besar dari bisnis fintech. Direktur Utama GoTo, Hans Patuwo, menyebut profitabilitas fintech telah melampaui bisnis On-demand Services untuk pertama kalinya. 

“Kami tetap mempertahankan pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh di kisaran Rp3,2 triliun–Rp3,4 triliun,” ungkapnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dengan kombinasi wacana penghapusan saham gocap, aksi Morgan Stanley, serta kepastian regulasi ojol, prospek GOTO dinilai masih terbuka untuk perbaikan likuiditas dan penguatan fundamental.

Reporter: Ibtihal