TEROPONGBISNIS.ID — Data PCE yang menjadi acuan utama The Fed dalam menentukan suku bunga, tercatat naik 0,2 persen secara bulanan untuk indeks harga utama maupun inti pada Juli. Angka ini sejalan dengan perkiraan analis, sehingga tidak memberikan sentimen positif bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Dua Faktor yang Menahan Penguatan Rupiah
Analis mata uang Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, mengatakan laporan PCE ini muncul setelah data inflasi konsumen (CPI) dan inflasi produsen (PPI) AS pada bulan yang sama juga relatif moderat. Artinya, tekanan inflasi di AS mulai mereda, namun pasar masih menunggu sinyal lebih jelas dari bank sentral AS.
Hari ini, pelaku pasar juga mencermati data klaim awal tunjangan pengangguran mingguan AS. Selain itu, pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole pada Jumat (28/6/2026) menjadi sorotan utama untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter ke depan.
Kabar Geopolitik: Selat Hormuz Berpotensi Dibuka Kembali
Dari sisi geopolitik, ada kabar yang sempat meredakan ketegangan pasar. Pembicaraan antara Iran dan Qatar memunculkan potensi pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman minyak dunia. Garda Revolusi Iran menyatakan kedua negara telah sepakat membagi akses dan pendapatan dari jalur perairan tersebut.
"Iran dan Oman sedang memfinalisasi perincian kesepakatan untuk mengendalikan Selat Hormuz," kata Ibrahim. Namun, konflik antara Iran dan AS belum mereda. Para pejabat Iran menegaskan selat itu tidak akan dibuka kecuali AS memenuhi persyaratan Teheran berdasarkan kesepakatan gencatan senjata sementara pada Juni lalu.
Kurs Tengah BI Ikut Melemah
Senada dengan pasar, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga tercatat melemah ke level Rp17.762 per dolar AS, turun dari posisi sebelumnya Rp17.717 per dolar AS. Pelemahan ini menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut di tengah ketidakpastian global dan konflik yang belum usai.