Laba ENRG Naik 27 persen di Semester I-2026, Simak Target Harganya
JAKARTA – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mencatat kinerja keuangan positif sepanjang semester I-2026. Kinerja tersebut turut didukung kenaikan harga minyak dan gas dunia sejak awal tahun.
Penjualan bersih ENRG meningkat 19% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi US$283,37 juta pada semester I-2026. EBITDA naik 25% yoy menjadi US$186,28 juta, sedangkan laba bersih tumbuh 27% yoy menjadi US$45,23 juta.
Chief Executive Officer dan Presiden Direktur Energi Mega Persada Syailendra S. Bakrie mengatakan, kinerja solid ENRG didukung kontribusi berkelanjutan dari portofolio aset yang telah berproduksi serta peningkatan pendapatan perseroan.
“Ke depan, kami akan tetap fokus mengoptimalkan aset yang sudah ada, melanjutkan berbagai inisiatif pertumbuhan, serta menjaga disiplin dalam pelaksanaan di lapangan untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan,” ujar Syailendra dalam keterangan resmi, Selasa (18/8/2026).
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, pertumbuhan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan pendapatan mengonfirmasi adanya operating leverage pada ENRG.
Kinerja emiten Grup Bakrie tersebut juga terbantu fluktuasi harga minyak yang meningkatkan pendapatan dari segmen hulu minyak bumi. Sementara itu, stabilitas harga gas berdasarkan kontrak take or pay dengan PLN atau Pertamina menghasilkan arus kas yang lebih terprediksi.
Secara umum, ENRG diperkirakan masih memiliki prospek positif pada semester II-2026. Sentimen positif dapat berasal dari peluang kenaikan harga minyak dunia di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Produktivitas Blok Bentu dan Blok Siak yang solid juga diperkirakan menopang pendapatan ENRG.
“Sentimen negatif dapat muncul jika gencatan senjata Iran-Amerika Serikat berlangsung permanen sehingga harga minyak kembali turun. Namun, segmen gas tetap defensif,” ujar Wafi.
Untuk memaksimalkan kinerja, ENRG perlu mengunci kontrak penjualan gas bumi jangka panjang agar memperoleh manfaat lebih besar ketika harga meningkat.
ENRG juga perlu mempercepat eksplorasi Blok Selat Malaka sebagai katalis pertumbuhan yang dapat melampaui kontribusi Blok Bentu dan Blok Siak. Selain itu, perseroan disarankan melakukan lindung nilai secara parsial melalui penjualan berjangka untuk mengunci margin pada tingkat harga yang lebih kompetitif.
Wafi menyebut saham ENRG dapat dipertimbangkan investor dengan target harga Rp1.612 per saham.