Imbal Hasil Amerika Serikat Turun Menopang Mata Uang Valas Asia
JAKARTA – Lloyd Chan dari MUFG menyampaikan bahwa Won Korea (KRW) dan Dolar Taiwan (TWD) memimpin penguatan Valas Asia berkat imbal hasil AS yang lebih rendah serta dukungan siklus teknologi yang tangguh. Sementara itu di Indonesia, stabilisasi Rupiah Indonesia (IDR) belakangan ini berpotensi memberikan ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga pada level 5,75%, meskipun pelemahan neraca perdagangan dan ketatnya likuiditas Dolar AS (USD) tetap harus diwaspadai.
"Aksi harga sejauh bulan Agustus sejauh ini menunjukkan bahwa pasar menjadi semakin selektif dalam prospek Valas Asia mereka. Kenaikan terkuat terkonsentrasi pada KRW dan TWD, yang menunjukkan preferensi investor terhadap mata uang yang diuntungkan oleh lingkungan suku bunga AS yang lebih rendah dan siklus teknologi global yang tangguh," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
“Sementara itu, beberapa mata uang ASEAN telah menguat secara bulan berjalan meskipun harga minyak Brent tetap berada di sekitar US$90 per barel, menunjukkan bahwa penurunan imbal hasil obligasi AS tenor pendek turut mendukung penguatan mata uang regional,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
“Meski begitu, lonjakan baru harga Brent kemungkinan akan menjadi penghambat bagi Baht dan Peso, mengingat kedua negara tengah mengalami perlambatan ekonomi,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
"Di Indonesia, stabilisasi rupiah baru-baru ini, yang sebagian dibantu oleh langkah kebijakan BI, kemungkinan akan memberi ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga kebijakan tidak berubah di 5,75% hari ini," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
"Namun neraca perdagangan Indonesia yang melemah dan kondisi likuiditas dolar yang masih ketat perlu diwaspadai dalam prospek rupiah," sebagaimana dilansir dari berita sumber.