Stoxx Europe 600 Naik 0,3 Persen, Investor Cermati Sinyal ECB

Ilustrasi Indeks Stoxx Europe 600 menguat 0,3% setelah enam hari mengalami penurunan berturut-turut. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:21:25 WIB

JAKARTA – Saham-saham Eropa rebound pada Rabu setelah mengalami aksi jual tajam selama beberapa sesi berturut-turut. 

Pemulihan tersebut mengakhiri rentetan penurunan harian terpanjang pada tahun ini setelah intervensi Departemen Keuangan Amerika Serikat memberikan kelegaan bagi pasar obligasi global.

Indeks pan-Eropa Stoxx Europe 600 naik 0,3% dan mengakhiri penurunan selama enam hari berturut-turut. Sebelumnya, indeks acuan tersebut turun ke level terendah dalam dua minggu.

Indeks regional juga bergerak menguat. CAC 40 Prancis memimpin kenaikan sebesar 0,5%, sedangkan DAX Jerman, FTSE 100 London, IBEX 35 Spanyol, dan FTSE MIB Italia masing-masing naik antara 0,1% hingga 0,2%.

Rebound tersebut terjadi setelah perdagangan yang menegangkan pada Selasa. Ketegangan militer di Teluk Persia, kenaikan harga minyak mentah, serta biaya pinjaman acuan yang mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade memicu likuidasi cepat aset-aset berisiko.

Titik balik pasar saham Eropa terjadi setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan peningkatan operasi pembelian kembali obligasi untuk mendukung likuiditas pasar. Batas pembelian kembali obligasi nominal jangka panjang dinaikkan dari US$2 miliar menjadi setidaknya US$4 miliar per operasi mulai 9 September.

Kebijakan tersebut menjadi penyangga langsung bagi obligasi off-the-run yang memiliki likuiditas lebih rendah. Pengumuman itu segera memicu reli di pasar pendapatan tetap.

Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun menjadi 4,647%. Sementara itu, imbal hasil tenor 30 tahun turun hampir 14 basis poin menjadi 5,198%.

Penurunan biaya pinjaman jangka panjang global memberikan kelegaan bagi valuasi saham-saham Eropa. Namun, pasar masih mencermati sinyal hawkish dari Bank Sentral Eropa (ECB) dan kenaikan harga minyak Brent.

Kepala Ekonom ECB Philip Lane memperingatkan bahwa inflasi zona euro yang kini berada di sekitar 3% masih jauh di atas target bank sentral sebesar 2%. Ia juga menegaskan bahwa tingkat inflasi 3% tetap tidak dapat diterima oleh pembuat kebijakan di tengah potensi guncangan energi lanjutan, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent bertahan di dekat level tertinggi tiga minggu, sekitar US$91,50 per barel. Kondisi tersebut terjadi karena lalu lintas komersial melalui Selat Hormuz masih sangat terbatas akibat perubahan situasi geopolitik di Teluk Persia.

Berdasarkan data Kpler, hanya enam kapal komoditas yang melintasi jalur perairan tersebut pada Selasa. Jumlah itu turun dari sembilan kapal pada Senin dan berada di bawah rata-rata harian 10 hari sebanyak 11 kapal.

Kombinasi inflasi regional yang persisten dan tingginya biaya bahan baku mendorong pasar uang menyesuaikan kembali ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral. Pasar swap kini hampir sepenuhnya memperhitungkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh ECB pada pertemuan September.

Fokus pasar selanjutnya tertuju pada sejumlah agenda kebijakan moneter. Komentar Presiden ECB Christine Lagarde akan dicermati untuk mengetahui strategi bank sentral dalam menghadapi tekanan stagflasi yang mulai muncul.

Di Amerika Serikat, Federal Reserve dijadwalkan menerbitkan risalah rapat FOMC Juli. Dokumen tersebut diharapkan memberikan gambaran mengenai perhatian bank sentral terhadap perlambatan pasar tenaga kerja setelah kenaikan imbal hasil jangka panjang baru-baru ini.

Pada pergerakan saham individual, Straumann anjlok hingga 9% setelah produsen implan gigi asal Swiss tersebut merilis laporan keuangan yang beragam. Hasil tersebut mengecewakan investor yang berfokus pada laba bersih.

Saham Trainline juga terjun 15,5% setelah lembaga pengawas persaingan usaha Inggris membuka investigasi resmi atas dugaan penyembunyian biaya wajib dari konsumen.

Reporter: Ibtihal