Suku Bunga RBA 4,35 Persen Bertemu Risiko Geopolitik Iran

Ilustrasi dolar australia (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Kamis, 13 Agustus 2026 | 01:08:55 WIB

JAKARTA – Pergerakan Dolar Australia masih memperoleh penopang dari arah kebijakan Reserve Bank of Australia yang cenderung hawkish.

Melandainya inflasi di Amerika Serikat telah menekan ekspektasi kenaikan suku bunga untuk bulan September sekaligus menahan penguatan Dolar AS.

Eskalasi konflik antara AS dan Iran konsisten membakar risiko inflasi lewat harga energi, sehingga menahan laju kenaikan pasangan mata uang ini.

Pasangan AUD/USD berada pada kisaran 0,7055 pada hari Kamis saat tulisan ini dibuat, bergerak relatif mendatar hari ini. Pasangan mata uang tersebut sedang mengalami konsolidasi usai menembus angka 0,7090 pada hari Rabu, berada di antara penyokong Dolar Australia (AUD) dari Reserve Bank of Australia (RBA) yang bersiap mewaspadai inflasi serta ketahanan Dolar AS (USD) di tengah gesekan AS dan Iran.

RBA menetapkan suku bunga acuan tetap berada pada level 4,35% pada rapat hari Selasa dengan tetap mempertahankan sikap hawkish. Pihak bank sentral menilai risiko inflasi masih berpotensi naik dan tidak ragu menaikkan suku bunga kembali apabila laju harga belum mereda secara optimal. Gubernur RBA, Michele Bullock, turut memberikan sinyal bahwa Dewan telah memperbincangkan opsi kenaikan suku bunga.

Kendati demikian, para pelaku pasar tetap bersikap hati-hati terkait potensi pengetatan moneter lanjutan. Pasar memperhitungkan probabilitas sebesar 79% bahwa RBA akan menahan suku bunga pada rapat 29 September, berbanding peluang 21% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin berdasarkan data Prime Terminal.

Dari kawasan Amerika Serikat, rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK atau CPI) paling gres berhasil menekan ekspektasi pengetatan suku bunga jangka pendek oleh Federal Reserve (The Fed). Angka inflasi tahunan melambat ke level 3,4% pada bulan Juli dari posisi 3,5%, sedangkan inflasi inti menyusut menjadi 2,5% dari 2,4%, di mana keduanya selaras dengan estimasi. Saat ini pasar memperhitungkan peluang sekitar 60% bagi The Fed untuk menjaga suku bunga tetap pada bulan September merujuk pada CME FedWatch Tool, setelah sebelumnya menempatkan kalkulasi serupa untuk kenaikan suku bunga.

Merosotnya ekspektasi langkah pengetatan The Fed secara teoritis menekan ruang penguatan Dolar AS dan memberi dorongan ekstra bagi AUD/USD. Akan tetapi, gesekan antara Washington dan Teheran kian memperumit pandangan inflasi. Gejolak harga minyak bumi serta ancaman kendala logistik di Selat Hormuz berpotensi menyulut kembali inflasi energi dan memicu tanda tanya atas kelangsungan tren disinflasi di AS.

Presiden AS, Donald Trump, menyampaikan bahwa Amerika Serikat memegang kendali penuh atas Selat Hormuz, sementara Iran turut mengklaim penguasaan atas jalur perairan vital tersebut sebagaimana dilansir dari berita sumber. Ketidakpastian peta politik dunia ini menjaga daya tarik aset safe-haven termasuk Dolar AS, sehingga menghambat pemulihan Dolar Australia.

Sorotan pasar kini tertuju pada rilis Indeks Harga Produsen (IHP atau PPI), Klaim Tunjangan Pengangguran Awal Mingguan AS, serta pidato dari jajaran pejabat The Fed. Rangkaian agenda ini dapat memberikan petunjuk mutakhir mengenai arah suku bunga The Fed sekaligus menuntun AUD/USD keluar dari zona konsolidasi saat ini.

Reporter: Akbar