Pergerakan Rupiah Menanti Pidato Prabowo Diprediksi Sideways Rp 17.950
JAKARTA – Pergerakan nilai tukar rupiah diproyeksikan masih berjalan fluktuatif, tetapi bakal cenderung berkonsolidasi pada perdagangan akhir pekan seiring langkah pasar dalam mencermati rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) serta dinamika geopolitik global.
Berdasarkan data Bloomberg pada perdagangan Kamis (13/8/2026), mata uang rupiah di pasar spot mengakhiri perdagangan secara stagnan pada posisi Rp 17.877 per dolar AS.
Di samping itu, pencatatan data Trading Economics menunjukkan rupiah berada pada level Rp 17.869,2 per dolar AS atau terdepresiasi 0,04%, serta kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat penurunan 0,03% ke level Rp 17.882 per dolar AS dari posisi hari sebelumnya Rp 17.876 per dolar AS.
Ekonom Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, berpendapat bahwa laju rupiah pada perdagangan Kamis (13/8) utamanya didorong oleh perpaduan ketidakpastian geopolitik global dan dinamika data ekonomi AS.
Eskalasi ketegangan AS-Iran di kawasan Selat Hormuz memicu kekhawatiran terkait disrupsi pasokan energi global, sehingga memicu aksi perburuan terhadap aset safe haven seperti dolar AS.
Pada waktu yang bersamaan, data inflasi (CPI) AS yang bergerak naik makin memperkuat dugaan bahwa The Fed bakal mempertahankan tingkat suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer).
"Ketakutan akan potensi gangguan pasokan dan lonjakan harga energi global ini mendorong investor memburu aset aman (safe haven), yang membuat dolar AS menguat secara luas," ujar Rahma sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menjelang perdagangan Jumat (14/8/2026), pergerakan rupiah bakal sangat dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global beserta agenda domestik krusial, yaitu Pidato Kenegaraan dan Penyampaian RUU APBN 2027 beserta Nota Keuangan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Para pelaku pasar domestik dipastikan bakal mencermati secara rinci postur anggaran, proyeksi defisit, asumsi makro seperti target nilai tukar dan inflasi, sampai pada strategi pengelolaan utang.
Arah kebijakan fiskal yang terukur dan kredibel dinilai sebagai penentu utama guna merawat tingkat kepercayaan para investor asing.
Dari sisi mancanegara, pasar tetap bakal mencerna respons susulan atas rilis data CPI AS terhadap pergerakan Indeks Dolar (DXY) serta yield US Treasury, eskalasi konflik di Timur Tengah, hingga dampak rebalancing indeks MSCI terhadap arus modal keluar (capital outflow).
Memperhatikan tumpukan sentimen tersebut, Rahma memproyeksikan mata uang Garuda masih berada dalam rentang pergerakan yang cenderung terbatas.
"Rentang kisaran pergerakan rupiah untuk perdagangan besok diproyeksikan berada di level Rp 17.800 hingga Rp 17.950 per dolar AS, dengan kecenderungan untuk tetap tertekan atau bergerak mendatar (sideways di zona lemah)," pungkasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.