CPI AS Sesuai Ekspektasi, Bursa Eropa Justru Tergelincir

Ilustrasi Indeks Stoxx Europe 600 turun tipis 0,2% meski CPI AS sesuai ekspektasi. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 13 Agustus 2026 | 00:55:07 WIB

JAKARTA – Saham-saham Eropa melemah tipis pada Rabu, setelah data inflasi AS untuk bulan Juli dirilis tepat sesuai dengan perkiraan Wall Street. Kondisi ini memberikan ketenangan bagi para pelaku pasar bahwa tekanan harga global masih berada dalam tren perlambatan.

Indeks Stoxx Europe 600 pan-Eropa turun 0,2%, masih bertahan di dekat rekor tertinggi sepanjang masa. DAX Jerman juga ditutup melemah 0,2%, sementara CAC 40 Prancis tergelincir 0,5% dan FTSE 100 London diperdagangkan 0,1% lebih rendah.

Sentimen risk-on yang moderat ini muncul setelah rilis laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang telah lama ditunggu-tunggu. CPI utama naik 0,1% secara bulanan pada Juli, sehingga laju tahunannya turun menjadi 3,4% dari sebelumnya 3,5%.

CPI inti, yang mengecualikan biaya pangan dan energi yang bergejolak, naik 0,2% secara bulanan, membawa laju tahunan inti ke angka 2,5%. Seluruh angka CPI utama maupun inti sesuai dengan estimasi konsensus.

Menyusul kontraksi mengejutkan pada data ketenagakerjaan AS pekan lalu, pembacaan inflasi yang sesuai ekspektasi ini memberikan kelegaan bagi pasar ekuitas global. Kombinasi dovish antara pasar tenaga kerja yang mendingin dan inflasi inti yang terkendali memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank-bank sentral di kedua sisi Atlantik akan mempertahankan suku bunga tetap stabil hingga musim gugur.

Data ekonomi domestik juga mendukung sentimen Eropa, dengan pembacaan inflasi final Juli yang mengonfirmasi pertumbuhan harga konsumen tahunan sebesar 2,8% year-on-year di Jerman maupun Italia.

Namun, kenaikan pasar yang lebih luas tetap terbatas oleh reli enam hari berturut-turut pada harga minyak mentah, di mana minyak mentah Brent melonjak mendekati $89 per barel di tengah gesekan transit Teluk Persia yang terus berlanjut dan meningkatnya retorika antara Washington dan Teheran.

Meski volatilitas energi terus berlanjut, para manajer kekayaan memperkirakan saham-saham kawasan Eropa akan terus menguat, didorong oleh kinerja laba fundamental ketimbang angin segar makroekonomi.

"Perusahaan-perusahaan terkemuka Eropa mencatatkan pertumbuhan laba yang jauh lebih kuat dibandingkan perekonomian regionalnya," tulis para strategis di UBS Chief Investment Office dalam sebuah catatan kepada klien, seraya menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan STOXX 600 sedang membukukan kenaikan laba kuartal kedua sebesar 22% secara year-over-year, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Kami memperkirakan laba korporasi Zona Euro akan keluar dari tiga tahun stagnasi dan naik sekitar 25% secara total selama 2026 dan 2027, dengan pemulihan yang semakin meluas seiring membaiknya siklus ekonomi," tulis UBS.

UBS menyoroti bahwa ekuitas Eropa semakin diuntungkan oleh siklus investasi global yang berkelanjutan, mencakup sektor pertahanan, pusat data, otomasi, dan ketahanan energi, sekaligus menawarkan kepada investor sebuah instrumen utama untuk mendiversifikasi portofolio di luar saham kecerdasan buatan yang bergejolak dan saham teknologi mega-cap AS.

Ketahanan fundamental tersebut telah membantu STOXX 600 membukukan kenaikan 11,5% sejak awal tahun. Menurut UBS yang mengutip data Bloomberg, dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) ekuitas Eropa mencatat arus masuk bersih positif pada Juli untuk pertama kalinya sejak konflik AS-Iran dimulai.

Pembaruan laba saham individual mendorong pergerakan tajam di berbagai bursa kawasan. Vestas Wind Systems A/S melonjak 15% setelah meningkatkan prospek laba sepanjang tahun, sementara kontraktor Inggris Balfour Beatty Plc naik hampir 10% setelah menaikkan proyeksi laba. Sebaliknya, kelompok jasa industri Bilfinger SE anjlok lebih dari 6% menyusul laporan kuartal keduanya.

Reporter: Ibtihal