Harga Tembaga Bertahan di Atas 14.000 US Dolar per Ton Minggu Ini
JAKARTA – Harga tembaga bertahan di atas US$14.000 per ton pada Senin (10/8/2026), setelah mencatat kenaikan mingguan terkuat sejak Mei.
Harga acuan tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik tipis 0,1% menjadi US$14.089,50 per ton, sementara kontrak paling aktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE) turun 0,35% ke 107.640 yuan (US$15.956,12 per ton). Sepanjang pekan lalu, harga di LME naik 2,07% dan SHFE menguat 2,34%.
Goldman Sachs menilai larangan ekspor konsentrat tembaga dari Republik Demokratik Kongo (DRC) tidak akan berdampak besar pada keseimbangan pasokan global, karena kebijakan itu memperkuat aturan lama yang sudah menekan arus perdagangan.
Di sisi permintaan, indikator fisik di China menunjukkan pelemahan. Inflasi konsumen Juli melambat, inflasi produsen turun ke 3,5% dari 4,1% Juni. Premi tembaga Yangshan turun ke US$101 per ton, terendah sejak 20 Juli, sementara premi spot domestik turun ke 70 yuan per ton, terendah sejak 16 Juli.
Persediaan tembaga di SHFE naik 1,1% menjadi 70.116 ton, peningkatan mingguan pertama sejak 8 Juni. Impor tembaga mentah dan produk turun 11,5% yoy pada Juli menjadi 425.000 ton, dan sepanjang Januari–Juli turun 6,2% ke 2,92 juta ton, level terendah sejak 2019.
Di pasar logam lain:
- Aluminium naik 0,15% di LME, 0,21% di SHFE.
- Seng naik 0,13% di LME, turun 1,49% di SHFE.
- Timbal naik 0,16% di LME, 0,25% di SHFE.
- Timah naik 0,04% di LME, turun 1,33% di SHFE.
- Nikel turun 0,17% di LME, naik 0,53% di SHFE.
Kondisi ini menegaskan bahwa meski harga tembaga masih bertahan tinggi, sorotan utama pasar kini bergeser ke pasokan global dan lemahnya permintaan dari China.