JAKARTA – Harga smartphone berpotensi naik lagi dalam waktu dekat. Hal ini dipicu oleh Qualcomm, salah satu produsen chipset terbesar di dunia, yang dikabarkan akan menaikkan harga chip pasokannya ke sejumlah produsen perangkat elektronik hingga dua digit.
Bloomberg melaporkan "Qualcomm telah memberi tahu para pelanggannya mengenai rencana kenaikan harga tersebut" sebagaimana dilansir dari berita sumber. Perusahaan diperkirakan menerapkan tarif baru untuk pengiriman chip setelah 1 September mendatang.
Kebijakan ini diprediksi berdampak luas pada harga berbagai jenis perangkat, mulai dari ponsel pintar Android flagship, PC berbasis AI, hingga perangkat wearable.
Sejumlah perangkat yang memakai prosesor Qualcomm di antaranya adalah lini Samsung Galaxy, seperti Galaxy Z Fold 8 Ultra, Galaxy Z Fold 8, dan Galaxy Z Flip 8. Di samping itu, chip Qualcomm juga dipakai pada PC Microsoft Copilot+ serta perangkat wearable layaknya kacamata pintar Ray-Ban Meta.
Dengan demikian, kenaikan harga chip Qualcomm berpotensi memicu lonjakan harga berbagai produk dari beragam merek dan kategori perangkat.
Qualcomm dilaporkan menyampaikan kepada para pelanggannya bahwa "perusahaan tidak lagi mampu menyerap kenaikan biaya komponen dari para pemasok" sebagaimana dilansir dari berita sumber. Perusahaan juga mengaku telah mencoba mencari komponen alternatif dari sumber baru.
Untuk diketahui, mayoritas chip Qualcomm diproduksi oleh TSMC, yang kini tengah menghadapi hambatan pada rantai pasokan.
Sama seperti produsen teknologi lainnya, Qualcomm turut terdampak kelangkaan memori dan komponen imbas melonjaknya permintaan untuk pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI).
Selain mesti menanggung biaya komponen yang semakin mahal, angka penjualan Qualcomm juga disebut mengalami tekanan sepanjang tahun ini. Bloomberg menjelaskan penjualan perusahaan menurun lantaran pelanggan Qualcomm tidak mampu memproduksi perangkat sebanyak biasanya akibat keterbatasan pasokan komponen.
Meskipun begitu, Qualcomm tetap mencatatkan pendapatan kuartal II-2026 yang melebihi estimasi para analis. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk perusahaan masih relatif kuat, walaupun tekanan dari sisi pasokan serta biaya produksi terus membengkak.