Harga CPO Rebound, Ekspor Malaysia Naik 15,9 Persen
JAKARTA - Harga minyak sawit mentah (CPO) rebound pada perdagangan Rabu, 29 Juli 2026, setelah melemah dua hari berturut-turut.
Kontrak acuan CPO untuk pengiriman Oktober di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 0,62 persen menjadi 4.671 ringgit Malaysia per ton pada pukul 15.34 WIB. Sebelumnya, kontrak tersebut turun 1,67 persen dalam dua hari terakhir.
Kepala Riset Komoditas Sunvin Group, Anilkumar Bagani, mengatakan penguatan CPO didorong aksi beli saat harga murah (bargain hunting) seiring pemulihan harga energi dan kuatnya permintaan fisik minyak sawit dari India.
“Optimisme terhadap peningkatan ekspor minyak sawit Malaysia sepanjang bulan ini juga menopang harga,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Perusahaan survei kargo memperkirakan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1–25 Juli meningkat 8,1 persen hingga 15,9 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Namun, Bagani menambahkan bahwa kenaikan harga dibatasi oleh estimasi produksi lebih tinggi pada periode 1–20 Juli serta belum adanya alokasi program biodiesel B50 di Indonesia.
Harga minyak mentah melonjak lebih dari 3 US dolar per barel setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi melancarkan serangan bersama di Irak. Kenaikan harga minyak mentah membuat minyak sawit lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Di pasar lain, kontrak minyak kedelai di Bursa Dalian turun 0,11 persen, sedangkan kontrak minyak sawit naik 0,49 persen. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) menguat 0,06 persen.
Ringgit Malaysia menguat 0,12 persen terhadap dolar AS sehingga membuat harga CPO sedikit lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang asing.
Data Komisi Eropa menunjukkan impor kedelai Uni Eropa untuk musim 2026/2027 hingga 26 Juli mencapai 0,56 juta ton, turun 39 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Impor minyak sawit juga turun 39 persen menjadi 0,13 juta ton.