Penyaluran Beras SPHP Tembus 55 Persen, Bapanas Sebut On The Track

Seorang warga memegang beras program SPHP. (Foto: ANTARA)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 14 Juli 2026 | 11:45:59 WIB

JAKARTA - Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengumumkan realisasi pendistribusian beras lewat program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tahun 2026 kini telah menembus angka di atas 55 persen dari target baku yang dicanangkan. 

Pihak Bapanas mengonfirmasi bahwa jalannya program nasional ini masih bergerak selaras dengan rencana awal.

Direktur SPHP Bapanas Maino Dwi Hartono menyampaikan, agenda SPHP pada tahun ini membidik volume pendistribusian sekitar 828 ribu ton beras bagi kebutuhan masyarakat luas.

"Kami punya program beras SPHP tahun 2026 ini dengan target sekitar 828 ribu ton yang akan disalurkan ke masyarakat dan sampai hari ini realisasi kami sudah mencapai lebih 55 persen. Artinya kalau sekarang sudah di tengah tahun, ini on the track," ujar Maino dalam keterangan resmi, Selasa (14/7/2026).

Menilik pada data resmi Bapanas, pencapaian penjualan komoditas beras SPHP sejak kurun Maret sampai 12 Juli 2026 berada di angka 457,82 ribu ton atau menyentuh 55,29 persen dari total pagu. 

Apabila diakumulasikan dengan hasil penyaluran pada periode Januari–Februari 2026 yang tercatat sebanyak 221,05 ribu ton, maka total realisasi dari awal tahun hingga minggu kedua Juli ini telah menyentuh kisaran 678,87 ribu ton.

Perolehan angka tersebut memperlihatkan lonjakan sekitar 274 persen bila disandingkan dengan periode serupa pada tahun 2025 lalu. Sebagai parameter pembanding, catatan penyaluran beras SPHP hingga tanggal 9 Juli 2025 lampau berada di posisi 181,17 ribu ton.

Maino menuturkan bahwa jajaran otoritas terus memperlebar jangkauan lini distribusi supaya proses penyerapan beras SPHP dapat menyentuh elemen masyarakat secara lebih merata, tidak hanya bertumpu pada area pasar tradisional, melainkan juga lewat pelbagai lini distribusi alternatif lainnya.

"Pertama kami gelontorkan beras SPHP sebanyak 828 ribu ton ditargetkan. Kami punya outlet-outlet penyaluran SPHP cukup banyak. Ada di sembilan titik. Artinya pelaksanaannya harus lebih masif, langsung penetrasi ke masyarakat, tidak di pasar saja, agar bisa langsung ke kantong-kantong masyarakat, misalnya melalui Gerakan Pangan Murah," katanya.

Pihak Bapanas turut mempertegas komitmen penuh dari pemerintah untuk senantiasa mengawal keseimbangan nilai pangan, mulai dari sektor hulu di tingkat petani hingga sektor hilir di tingkat konsumen.

"Memang ini hulu hilir sama-sama tersenyum. Artinya hari ini petani senang karena harganya baik, bahkan beberapa harga di tingkat petani sudah Rp7.500 atau ada yang Rp8.000. Satu sisi petani happy, petani senang, tapi satu sisi juga kami harus jaga agar konsumen juga menerima harga dengan harga wajar," ujar Maino.

Di samping menjalankan agenda penyaluran SPHP, jajaran pemerintah bersiap kembali menggelontorkan program bantuan pangan beras mulai bulan Juli hingga September 2026 mendatang. 

Langkah sosial ini diarahkan bagi sekitar 33,2 juta keluarga penerima manfaat (KPM) dengan kuota alokasi sebesar 10 kilogram beras per bulan selama kurun waktu tiga bulan.

"Nanti bulan Juli, Agustus, September ada bantuan pangan tahap kedua berupa beras 10 kilogram untuk sekitar 33 juta keluarga penerima manfaat," kata Maino.

Menurut pandangannya, bergulirnya program bantuan pangan berupa beras ini diharapkan mampu menopang kekuatan daya beli masyarakat sekaligus menekan laju gejolak harga beras di tingkat konsumen akhir.

Reporter: Ibtihal