Danantara Sukses Tingkatkan Laba BUMN Lewat Efisiensi
JAKARTA – Satu tahun semenjak Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia mengonsolidasikan pengelolaan aset negara, indikasi transformasi di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tampak semakin nyata. Berada di bawah naungan struktur superholding, sejumlah perusahaan negara berhasil membukukan kenaikan performa yang signifikan. Berbagai upaya seperti efisiensi operasional, penyederhanaan kerangka usaha, hingga restrukturisasi bisnis menjadi fondasi utama yang diyakini mendorong peningkatan profitabilitas.
Berdasarkan informasi resmi, seluruh BUMN di bawah naungan Danantara telah merampungkan Laporan Keuangan Tahun Buku 2025 per 30 Juni 2026.
Meskipun laporan keuangan konsolidasi di tingkat induk masih dalam tahap audit, capaian di setiap sektor telah memberikan gambaran awal mengenai arah transformasi yang saat ini sedang dilaksanakan.
Rekam jejak selama satu tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan laba yang merata pada berbagai BUMN strategis. PT Pertamina (Persero), contohnya, mencatatkan kenaikan laba 80 persen menjadi Rp24,9 triliun.
Selain itu, PT Pupuk Indonesia mencetak kenaikan laba bersih hingga 202 persen menjadi Rp4,8 triliun setelah menerapkan perubahan skema bisnis menjadi mark-to-market.
Di sektor logistik, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) berhasil mencatatkan laba Rp1,5 triliun atau meroket 169 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Di sisi lain, penataan ulang portofolio melalui Danantara Asset Management (DAM) turut mendorong pemulihan sejumlah emiten yang sempat tertekan.
Sebagai contoh, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) sukses keluar dari zona kerugian dengan mengantongi laba Rp635 miliar setelah menekan beban utang ke level US$1,1 miliar.
Menyusul perbaikan tersebut, Danantara menyatakan bahwa efisiensi bersumber dari perampingan struktur usaha yang sebelumnya dinilai terlalu besar.
Salah satu fokus utamanya adalah memangkas transaksi berlapis antara BUMN induk dan anak perusahaannya yang selama bertahun-tahun menjadi akar inefisiensi.
COO Danantara Dony Oskaria memaparkan bahwa lonjakan margin berasal dari pemangkasan rantai transaksi berlapis antara entitas BUMN induk dan anak usahanya. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Dony menyebutkan, "Efisiensi yang paling besar sebetulnya datangnya dari layering transaction, karena umumnya anak perusahaan mengerjakan pekerjaan induknya,".
Menurut pihak Danantara, penyederhanaan ini berpotensi menghemat biaya operasional hingga sekitar Rp30 triliun setiap tahunnya. Selain itu, penutupan anak perusahaan yang terus merugi diproyeksikan dapat menghasilkan efisiensi tambahan sekitar Rp20 triliun per tahun.
CEO Danantara Rosan Roeslani menambahkan bahwa reposisi peran entitas negara semestinya tidak sekadar dipandang sebagai mesin pencetak laba bersih korporasi.
Menurutnya, orientasi pada pembentukan nilai jangka panjang harus selaras dengan kontribusi nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Rosan menyampaikan, “BUMN semata-mata tidak hanya mengejar dari segi laba, tetapi juga harus dirasakan kehadirannya ke masyarakat,”.
Tidak hanya melakukan restrukturisasi, Danantara juga mulai merealisasikan kewajiban investasinya melalui penggunaan dividen BUMN tahun buku 2025.
Anggaran tersebut dialokasikan untuk membiayai proyek strategis nasional, seperti pembangunan ekosistem Haji dan Umrah di Makkah untuk memperkuat posisi ekonomi global Indonesia, serta proyek waste-to-energy (WTE) sebagai bagian dari agenda percepatan transisi ekonomi hijau.