Breaking

Cara Manajer Investasi Kelola Reksadana Saham di Tengah Volatilitas

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Minggu, 05 Juli 2026
Cara Manajer Investasi Kelola Reksadana Saham di Tengah Volatilitas
ILUSTRASI, Manajer investasi menerapkan strategi selektif untuk menghadapi volatilitas reksadana saham pada 2026. (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Kinerja reksadana saham masih dalam tekanan hingga akhir Juni 2026 karena pasar saham domestik belum pulih. Meskipun begitu, beberapa manajer investasi optimistis prospek reksadana saham bisa menguat di semester II-2026 apabila sentimen makroekonomi mereda dan pasar kembali stabil.

Data Infovesta menunjukkan kinerja reksadana saham hingga Juni 2026 turun 21,87 persen secara year-to-date (YtD). Untuk kinerja bulanan atau month-to-month (MoM), reksadana saham terkoreksi sebesar 5,11 persen.

Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi, menyebut pelemahan reksadana saham dipicu oleh koreksi pasar saham Indonesia sejak awal tahun. "Sentimen utamanya berasal dari masih tingginya ketidakpastian global, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, arus dana asing yang belum stabil, serta meningkatnya perhatian investor global terhadap kualitas dan likuiditas pasar modal Indonesia," ujar Reza, sebagaimana dilansir dari berita sumber, Jumat (3/7/2026).

Menurut Reza, walau MSCI tetap mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market, investor global tetap memantau transparansi pasar, likuiditas, dan reformasi pasar modal. Hal ini membuat pelaku pasar berhati-hati, sehingga pemulihan pasar berjalan lebih lambat.

Menanggapi hal tersebut, HPAM mengelola portofolio dengan lebih selektif. Perseroan mengutamakan investasi pada saham berfundamental kuat, likuiditas tinggi, dan model bisnis yang tahan terhadap tekanan ekonomi.

Strategi ini terlihat pada kinerja HPAM Syariah Ekuitas yang koreksinya lebih terbatas dari rata-rata industri. Hingga Juni 2026, reksadana itu turun 4,57 persen secara YtD dan 2,28 persen secara MoM. 

Berdasarkan fund fact sheet, portofolio HPAM Syariah Ekuitas berisi 91 persen saham, 8 persen deposito berjangka, serta 1 persen kas atau setara kas.

Secara sektoral, alokasi terbesar ada pada sektor industri sebesar 28,8 persen, sektor lainnya 23,2 persen, bahan baku 21,1 persen, barang konsumen primer 18,7 persen, dan perbankan 9 persen. Lima saham dengan porsi terbesar adalah SRTG sebesar 15 persen, MTEL 13,8 persen, PRDA 8,8 persen, SSIA 8,5 persen, dan FORE 7,1 persen.

Selain seleksi emiten, HPAM menjaga fleksibilitas kas dan menyesuaikan portofolio dengan kondisi pasar. "Kami tidak hanya mengejar peluang pertumbuhan, tetapi juga tetap mengedepankan pengelolaan risiko agar volatilitas portofolio dapat terjaga," kata Reza, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reza memproyeksikan reksadana saham di semester II-2026 akan membaik. Koreksi dalam membuat valuasi sejumlah saham lebih menarik bagi investor jangka menengah hingga panjang. Namun, pemulihan tidak instan karena masih dipengaruhi stabilitas rupiah, arus modal asing, reformasi pasar modal, dan kebijakan suku bunga global. "Semester II masih akan diwarnai volatilitas. Namun peluang pemulihan mulai terbuka apabila sentimen makroekonomi dan kondisi pasar membaik," jelasnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Untuk menghadapi fluktuasi, Reza menyarankan investor menyesuaikan strategi dengan profil risiko. Investor konservatif bisa memilih reksadana pasar uang atau pendapatan tetap yang lebih stabil. Sementara bagi investor dengan horizon jangka menengah hingga panjang, koreksi pasar bisa menjadi momentum akumulasi bertahap pada reksadana saham atau campuran. "Strategi yang lebih tepat bukan berpindah sepenuhnya ke instrumen berisiko rendah, tetapi melakukan diversifikasi portofolio secara seimbang agar tetap memperoleh stabilitas sekaligus menangkap peluang pertumbuhan saat pasar mulai pulih," tutup Reza, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua