Harga Perak Pekan Ini Menguat Solid ke Rekor Tertinggi Baru

Ilustrasi Perak. (Foto: net)
Penulis: Ibtihal
Minggu, 05 Juli 2026 | 12:48:23 WIB

JAKARTA - Nilai instrumen perak menutup masa transaksi pasar minggu ini dengan mencatatkan kurva kenaikan yang terbilang cukup mantap.

Mengacu pada kompilasi data komersial Refinitiv, grafik harga perak pada sesi Jumat (3/7/2026) berlabuh di posisi US$ 62,40 per troy ons, melonjak dari capaian sebelumnya sebesar US$ 59,16 pada sesi penutupan minggu lalu.

Bila ditinjau berdasarkan akumulasi pekanan, tingkat penguatan nilainya hampir menyentuh batas 5,5% sekaligus membawa komoditas logam mulia ini kembali merosot ke level tertinggi dalam rentang waktu kurang lebih dua minggu terakhir.

Fluktuasi nilai di sepanjang minggu bergulir secara bertahap. Seusai sempat terkoreksi ke area US$ 58 pada awal transaksi, komoditas perak perlahan-lahan merangkak naik hingga menembus bursa US$ 61 pada sesi perdagangan hari Kamis, sebelum akhirnya ditutup melampaui batas US$ 62 pada perdagangan hari Jumat.

Laju apresiasi nilai ini bergulir selaras dengan bergesernya kalkulasi para spekulan pasar terhadap peta jalan kebijakan moneter otoritas keuangan di Amerika Serikat.

Atensi para pelaku investasi pada pekan ini terfokus pada rilis indikator sektor tenaga kerja Amerika Serikat. 

Publikasi dari laporan nonfarm payrolls mengumumkan adanya tambahan 57.000 pos pekerjaan baru sepanjang bulan Juni, sebuah rekor yang lebih kecil jika dikomparasikan dengan estimasi kolektif pasar yang semula bertengger di kisaran 110.000.

Hasil realisasi data itu sekaligus bertindak sebagai pencapaian ekspansi lapangan kerja paling minim dalam kurun waktu empat bulan belakangan.

Pengumuman angka tersebut menstimulasi para pelaku pasar untuk mengevaluasi kembali peluang kebijakan bank sentral Federal Reserve pada agenda pertemuan berikutnya.

Berdasarkan data CME FedWatch Tool, tingkat probabilitas untuk skenario kenaikan suku bunga acuan pada periode September melandai ke kisaran angka 50%, menyusut drastis bila dibandingkan dengan posisi sebelum data serapan tenaga kerja tersebut dirilis ke publik.

Situasi pasar yang demikian umumnya memberikan ruang positif bagi komoditas investasi logam mulia untuk melaju dengan tingkat kestabilan yang lebih baik lantaran tekanan dari instrumen suku bunga mulai mengendur.

Pada waktu yang bersamaan, nilai tukar mata uang dolar Amerika Serikat terpantau melemah sekaligus menorehkan rekor penurunan mingguan paling tajam sejak bulan April.

Koreksi pada mata uang dolar ini ikut menjaga minat pasar terhadap kepemilikan aset-aset logam mulia, termasuk instrumen perak, yang secara historis pergerakannya kerap kali bertolak belakang dengan volatilitas mata uang bersangkutan.

Pemaparan resmi dari Ketua Federal Reserve Kevin Warsh turut menjadi fokus utama di sektor keuangan. Ia menyampaikan bahwa ekspektasi inflasi terus bergerak lebih moderat, sembari menegaskan komitmen bank sentral menjaga stabilitas harga.

Pernyataan tersebut mencuat ke permukaan di saat para pelaku pasar tengah memburu kejelasan petunjuk mengenai proyeksi kebijakan moneter untuk jangka waktu beberapa bulan ke depan.

Meskipun menorehkan tren penguatan yang cukup panjang sepanjang minggu ini, posisi nilai perak dinilai masih berada di bawah rekor satu bulan yang lalu. Namun, apabila dikomparasikan dengan kurun waktu yang sama di tahun sebelumnya, tingkat kenaikan nilainya masih berada di kisaran mendekati 69%.

Dengan kata lain, arah tren jangka panjang dari komoditas logam ini dianggap masih relatif kokoh meskipun tingkat volatilitas pasar dalam beberapa minggu belakangan terhitung lumayan tinggi.

Ritme pergerakan harga perak ke depan diproyeksikan masih akan disetir oleh dinamika data makro ekonomi Amerika Serikat, khususnya pada indikator yang terafiliasi dengan inflasi serta kondisi sektor pasar tenaga kerja.

Sepanjang proyeksi pelonggaran kebijakan moneter masih terus terjaga dengan baik, peluang untuk apresiasi nilai perak dinilai tetap terbuka lebar walau ritme pergerakannya diprediksi akan terus fluktuatif.

Reporter: Ibtihal