Sempat Terkoreksi 28 Persen, Prospek Jangka Panjang Emas Dinilai Kuat
JAKARTA – Harga emas dunia saat ini mengalami kesulitan untuk tetap berada di atas level psikologis US$ 4.000 per ons troi. Kendati telah terjadi koreksi sebesar 28 persen dari level tertinggi sepanjang masa pada Januari 2026, sejumlah pengamat berpendapat bahwa tren kenaikan harga jangka panjang logam mulia ini belum usai.
Dalam perdagangan Rabu (24/6/2026), harga emas spot ditutup merosot 2,7 persen ke posisi US$ 3.999,21 per ons troi setelah sempat mencapai level terendah sejak November 2025. Pada Kamis (25/6/2026), harga emas terpantau mengalami pembalikan arah dengan penguatan sebesar 0,42 persen menjadi US$ 4.016,25 per ons troi.
Dolar AS terpantau menguat setelah pasar mulai mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga The Fed, sebagaimana dilansir dari sumber berita. Menurut data CME FedWatch Tool, investor kini mulai melihat adanya peluang kenaikan suku bunga pada September dan kemungkinan pengetatan kebijakan lanjutan pada Desember mendatang, sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Situasi tersebut menyebabkan aset tanpa imbal hasil seperti emas kehilangan daya tariknya karena investor berpindah ke instrumen dengan imbal hasil yang lebih menguntungkan. Walaupun demikian, Managing Director Solomon Global, Paul Williams, berpendapat bahwa koreksi tajam saat ini masih merupakan pola yang lumrah dalam siklus kenaikan harga emas jangka panjang.
Menurutnya, catatan sejarah menunjukkan bahwa pasar emas pernah mengalami koreksi dalam sebelum akhirnya kembali mencetak rekor harga baru. “Pada era 1970-an, harga emas sempat turun sekitar 45% sebelum akhirnya melonjak ke rekor tertinggi pada 1980. Saat krisis keuangan global 2008, emas juga terkoreksi sekitar 30% sebelum kembali menguat dan mencapai rekor baru pada 2011,” ujar Williams, sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Williams menekankan bahwa investor perlu memperhatikan apakah faktor fundamental yang selama ini menjadi pendukung harga emas telah mengalami perubahan signifikan. Ia berpendapat bahwa kondisi tersebut belum terjadi, mengingat logam mulia ini masih mencatatkan kenaikan hampir 20 persen dibandingkan dengan posisi setahun lalu meskipun harga telah jatuh hampir 28 persen dari rekor tertinggi.
“Faktor-faktor yang menopang harga emas dalam beberapa tahun terakhir seperti pembelian bank sentral, ketidakpastian geopolitik, dan tingginya utang pemerintah global tidak hilang begitu saja,” katanya, sebagaimana dilansir dari sumber berita. Ia menjelaskan bahwa pergerakan harga emas dalam jangka pendek lebih dominan dipengaruhi oleh aksi ambil untung, perubahan ekspektasi suku bunga, serta penguatan mata uang dibandingkan dengan perubahan fundamental investasi emas itu sendiri.
Meski tetap optimistis mengenai prospek jangka panjang, sejumlah analis mengingatkan bahwa tekanan harga dalam jangka pendek masih berpotensi untuk terus berlanjut. Saat ini, fokus pasar tertuju pada arah kebijakan moneter The Fed dan pergerakan dolar AS yang masih memperlihatkan tren penguatan.
Jika ekspektasi kenaikan suku bunga kian menguat, harga emas berisiko mengalami koreksi yang lebih dalam. Beberapa analis bahkan memperkirakan harga emas masih berpotensi merosot ke area US$ 3.700 per ons troi sebelum menemukan titik keseimbangan baru.
Oleh karena itu, investor disarankan untuk terus memantau perkembangan inflasi AS, kebijakan The Fed, serta dinamika geopolitik global yang selama ini menjadi penggerak utama harga emas.