Indeks Wall Street Bervariasi, Nasdaq dan S&P 500 Turun 1 Persen Lebih

Ilustrasi: Indeks Nasdaq dan S&P 500 turun lebih dari 1 persen akibat tekanan pada saham teknologi megacap.(Foto: NET)
Penulis: Akbar
Rabu, 24 Juni 2026 | 14:47:30 WIB

JAKARTA – Indeks utama Wall Street ditutup bervariasi, di mana S&P 500 dan Nasdaq mengalami penurunan akibat tertekan saham teknologi megacap, termasuk Alphabet. Investor saat ini juga terus mencermati perkembangan negosiasi antara AS dan Iran.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 148,01 poin atau 0,29 persen ke level 51.712,71. Adapun S&P 500 turun 27,79 poin atau -0,37 persen menjadi 7.472,79, dan Nasdaq Composite terkoreksi 351,33 poin atau 1,32 persen menjadi 26.166,60.

Tujuh dari 11 sektor utama S&P ditutup menguat, dipimpin oleh sektor real estat dan energi. Sebaliknya, saham sektor layanan komunikasi harus turun 3,8 persen.

Indeks Dow ditutup menguat berkat dorongan dari sektor perawatan kesehatan dan industri. Saham SpaceX anjlok 16,4 persen, menjadi penurunan harian terbesar dan membebani kinerja Nasdaq Composite.

Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 22,97 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 22,12 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir. Saham Alphabet sendiri masih diperdagangkan di atas harga IPO-nya, yaitu US$ 135 per saham.

Perusahaan yang dipimpin Elon Musk meluncurkan penawaran utang perdananya pada Senin dan menyatakan memiliki sekitar US$ 100,8 miliar dalam bentuk kas dan setara kas per 19 Juni. Optimisme kecerdasan buatan sempat mendukung reli Wall Street, namun investor kini mulai mempertanyakan besarnya pengeluaran infrastruktur perusahaan hyperscaler.

Saham Alphabet turun 5 persen, sementara saham Meta, Amazon, dan Microsoft juga terkoreksi antara 2,3 persen dan 4,7 persen. “Ini adalah sektor yang sangat dipengaruhi oleh sentimen dan kelompok ini cenderung diperdagangkan bersamaan setiap hari. Namun jika kami melihat ke belakang... beberapa fundamental terkuat berada di ruang pembangunan pusat data AI. Itu termasuk baik perusahaan hyperscaler maupun banyak komponen yang terlibat dalam pembangunan berkelanjutan tersebut,” kata Bill Northey, direktur investasi senior di US Bank, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Uji coba selanjutnya bagi reli pasar adalah hasil kuartalan Micron Technology pada hari Rabu. Saham pembuat chip memori tersebut telah naik hampir 300 persen sepanjang tahun ini.

Harga minyak dunia turun karena Washington dan Teheran sepakat mengenai peta jalan menuju kesepakatan akhir dalam kurun waktu 60 hari. Pejabat AS dan Iran dilaporkan membuat kemajuan besar pada putaran pertama pembicaraan di Swiss yang berakhir Senin pagi, meskipun ketegangan masih ada terkait Lebanon dan Selat Hormuz.

“Harga energi sedang turun, yang tentu saja menjadi katalis bagi konsumen maupun bisnis. Di sisi lain, kami melihat (Federal Reserve) yang sangat agresif di bawah Ketua baru Kevin Warsh, dan itu membuat pasar percaya bahwa akan ada fokus yang lebih diprioritaskan untuk kembali ke stabilitas harga dalam waktu dekat,” kata Northey, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Pandangan terhadap Fed tersebut telah menaikkan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan menekan harga saham. Fokus pasar pekan ini tertuju pada data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) hari Kamis sebagai indikator pilihan Fed untuk inflasi inti.

Angka yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat dari Federal Reserve, menyusul penegasan Warsh mengenai pentingnya menekan inflasi pekan lalu. Data LSEG menunjukkan pasar saat ini memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin dari Fed pada bulan September.

Reporter: Akbar