Cermati Saham Dividen Tinggi dengan Fundamental Kokoh di Pasar Volatil

ilustrasi dividend (Foto:NET)
Penulis: Akbar
Senin, 08 Juni 2026 | 14:31:30 WIB

JAKARTA – Di tengah guncangan pasar akibat pelemahan mata uang rupiah, kenaikan suku bunga, pengaruh sentimen penyeimbangan kembali indeks MSCI dan FTSE, hingga ketegangan geopolitik, para analis memandang bahwa saham-saham dengan dividen besar dapat menjadi alternatif investasi yang memikat.

Walaupun demikian, imbal hasil dividen atau dividend yield yang tinggi bukan berarti menjamin kualitas fundamental perusahaan dalam kondisi yang prima. Riset dari BRI Danareksa Sekuritas menegaskan bahwa investor harus lebih jeli dengan memerhatikan kesinambungan laba serta prospek usaha emiten di tengah kondisi pasar saat ini.

"Harga saham masih menarik, dividend yield tetap tinggi, dan beberapa emiten masih mencatatkan kinerja yang solid di kuartal I-2026," tulis analis BRI Danareksa pada 5 Juni 2026 sebagaimana dilansir dari berita sumber.

BRI Danareksa berpendapat bahwa investor dapat mengambil kesempatan dari dinamika pasar saat ini untuk meningkatkan kepemilikan pada saham-saham yang memberikan perpaduan dividend yield menggiurkan serta fundamental yang kokoh.

BRI Danareksa menetapkan emiten batu bara PT Bukit Asam Tbk (PTBA), serta bank besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebagai daftar saham dividen pilihan, dikarenakan saham-saham tersebut menawarkan kombinasi yield tinggi serta kinerja kuartal I-2026 yang tergolong kuat.

PTBA merupakan emiten dengan estimasi dividend yield tertinggi, yaitu mencapai 12,82 persen. Ketertarikan tersebut didorong oleh lonjakan laba kuartal I-2026 sebesar 104,8 persen secara tahunan hingga mencapai Rp801,8 miliar.

Di sisi lain, BBRI memberikan estimasi yield sebesar 12,63 persen, angka tertinggi di sektor perbankan. Walaupun pertumbuhan laba cenderung stagnan, perseroan tetap mampu mencetak laba sekitar Rp13-Rp14 triliun pada kuartal I 2026. BNGA turut masuk dalam jajaran pilihan dengan estimasi yield sebesar 10,45 persen.

Selain didukung oleh laba sekitar Rp1,77 triliun, emiten perbankan ini dipandang masih menarik dari segi valuasi serta ditopang oleh rasio dana murah (CASA) yang mumpuni. Selanjutnya, BMRI menyajikan estimasi yield 8,91 persen. Bank milik negara ini mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 16,6 persen menjadi Rp15,4 triliun pada kuartal I-2026, sekaligus mampu menjaga kualitas aset yang tetap solid.

Di sisi lain, BRI Danareksa mencatat bahwa terdapat sejumlah saham yang masih menawarkan yield tinggi, namun laporan keuangan terbarunya menunjukkan penurunan performa. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) sebagai contoh, diproyeksikan mencatat yield 10,25 persen, meskipun laba kuartal I-2026 menyusut 16 persen menjadi USD 54,5 juta.

Keadaan serupa dialami PT Astra International Tbk (ASII) yang melaporkan penurunan laba 16 persen menjadi Rp5,85 triliun, dengan yield ASII tercatat sebesar 8,53 persen. Sementara itu, unit bisnis Astra, yakni PT United Tractors Tbk (UNTR), diprediksi menawarkan yield 7,83 persen, namun laba perusahaan tersebut terkoreksi cukup tajam menjadi sekitar Rp640 miliar.

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga masih menjadi opsi defensif dengan estimasi yield 5,22 persen. Namun, yield tersebut tercatat sebagai yang terendah dalam daftar ini seiring dengan penurunan laba pada tahun buku 2025.

Reporter: Akbar