Menaker Dorong Penguatan Budaya K3 Nasional Lewat Lima Strategi Utama

Rabu, 11 Februari 2026 | 10:58:29 WIB
Menaker Dorong Penguatan Budaya K3 Nasional Lewat Lima Strategi Utama

JAKARTA - Upaya menekan angka kecelakaan kerja di Indonesia kembali menjadi sorotan pemerintah. 

Di tengah tantangan dunia usaha dan industri yang semakin kompleks, keselamatan dan kesehatan kerja tidak lagi bisa dipandang sebagai formalitas administratif semata. Pemerintah menilai, sudah saatnya budaya K3 benar-benar mengakar dalam setiap aktivitas kerja.

Komitmen tersebut ditegaskan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli yang mendorong penerapan lima strategi utama untuk memperkuat budaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di dunia usaha serta industri nasional. Langkah ini dinilai penting agar sistem perlindungan tenaga kerja berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Dalam keterangannya yang diterima di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu, Menaker menyampaikan bahwa penguatan budaya K3 harus dilakukan secara menyeluruh. Pendekatan yang diterapkan tidak hanya berfokus pada kepatuhan aturan, tetapi juga pada perubahan cara pandang terhadap keselamatan kerja itu sendiri.

Menurutnya, kecelakaan kerja yang masih terjadi di berbagai sektor menjadi sinyal bahwa penerapan K3 belum sepenuhnya menjadi budaya. Karena itu, strategi komprehensif perlu dijalankan agar keselamatan menjadi bagian dari sistem dan perilaku kerja sehari-hari.

Lima Strategi Penguatan Budaya K3

Menaker dalam keterangannya menyebutkan lima strategi utama yang perlu diterapkan secara konsisten. Kelima strategi itu yakni edukasi, keterlibatan pekerja, perbaikan sistem dan teknologi keselamatan, penegakan aturan, serta evaluasi berkelanjutan.

Edukasi menjadi fondasi awal agar seluruh pekerja memahami pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja. Dengan pemahaman yang baik, pekerja tidak hanya sekadar mengikuti prosedur, tetapi juga menyadari makna di balik setiap aturan yang diterapkan.

Selain edukasi, keterlibatan aktif pekerja juga dinilai krusial. Partisipasi semua pihak di tempat kerja diyakini mampu menciptakan rasa memiliki terhadap sistem keselamatan yang dijalankan.

Perbaikan sistem dan teknologi keselamatan pun menjadi bagian tak terpisahkan. Penegakan aturan serta evaluasi berkelanjutan melengkapi strategi tersebut agar penerapan K3 berjalan efektif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Keselamatan Sebagai Hasil Sistem Konsisten

“Melalui pendekatan ini, keselamatan dipandang sebagai hasil dari sistem yang dirancang dan dijalankan secara konsisten,” kata Yassierli. Pernyataan ini menegaskan bahwa keselamatan bukanlah hasil kebetulan, melainkan buah dari sistem yang terstruktur dengan baik.

Ia menekankan bahwa pendekatan keselamatan harus berbasis pada sistem yang kuat. Setiap prosedur dan mekanisme pengamanan perlu dirancang untuk meminimalkan risiko sejak awal.

“Kesalahan manusia bukan penyebab utama kecelakaan, tetapi menjadi tanda adanya kelemahan dalam sistem. Karena itu, perbaikan sistem harus dilakukan secara terus-menerus,” ujar dia menambahkan.

Dengan pandangan tersebut, fokus tidak lagi semata-mata mencari siapa yang salah ketika insiden terjadi. Sebaliknya, organisasi didorong untuk memperbaiki sistem agar risiko serupa tidak terulang di masa mendatang.

Pentingnya Budaya Pelaporan dan Pembelajaran

Lebih lanjut ia mengatakan, pendekatan keselamatan berbasis manusia ini juga menekankan pentingnya budaya pelaporan dan pembelajaran yang terbuka. Lingkungan kerja yang transparan diyakini mampu mempercepat perbaikan sistem.

Yassierli menilai, dengan menghilangkan budaya saling menyalahkan, organisasi diharapkan mampu belajar dari setiap insiden dan memperkuat ketangguhan sistem keselamatannya. Setiap kejadian harus menjadi bahan evaluasi bersama.

Ia pun menyoroti bahwa masih terjadinya kecelakaan kerja menunjukkan K3 belum sepenuhnya menjadi budaya di banyak tempat kerja. Kondisi ini menandakan perlunya perubahan mendasar dalam pola pikir.

Selama ini, keselamatan masih kerap dimaknai sebatas kepatuhan terhadap aturan, bukan sebagai bagian dari cara berpikir dan bertindak sehari-hari. Padahal, budaya hanya bisa tumbuh jika nilai keselamatan tertanam dalam setiap individu.

Manusia Sebagai Pusat Penguatan K3

Ia mengatakan penguatan budaya K3 harus dibangun dengan menempatkan manusia sebagai pusat perhatian. Sistem keselamatan harus dirancang untuk melindungi pekerja secara optimal dalam setiap situasi.

Perubahan, menurut dia, hanya bisa terjadi jika seluruh insan kerja terlibat aktif dan sistem keselamatan dirancang untuk melindungi manusia, bukan sekadar mengawasi kesalahan. Partisipasi kolektif menjadi kunci keberhasilan transformasi budaya ini.

“Keselamatan kerja tidak cukup dimaknai sebagai kepatuhan terhadap aturan. K3 harus menjadi budaya kerja. Manusia harus dipandang sebagai bagian dari solusi, bukan sebagai sumber masalah,” ujar Yassierli.

Menaker menjelaskan, kecelakaan kerja umumnya tidak disebabkan oleh satu kesalahan individu, melainkan akibat lemahnya sistem kerja, prosedur, dan pengendalian risiko. Karena itu, penguatan sistem menjadi prioritas utama.

“Budaya keselamatan yang belum kuat, ditambah sistem pengamanan yang belum optimal, membuat tempat kerja masih rentan terhadap kecelakaan,” katanya. Melalui lima strategi yang didorong tersebut, pemerintah berharap budaya K3 benar-benar tertanam dan mampu menciptakan lingkungan kerja yang aman serta berkelanjutan di seluruh sektor industri nasional.

Terkini