Persaingan Xiaomi dan Huawei Menggebrak Pasar Mobil Listrik

Sabtu, 17 Januari 2026 | 15:32:27 WIB
Persaingan Xiaomi dan Huawei Menggebrak Pasar Mobil Listrik

JAKARTA - Xiaomi dan Huawei semakin agresif menancapkan jejak di industri kendaraan listrik, menandai era baru persaingan teknologi otomotif di China. 

Xiaomi menargetkan penjualan 550.000 unit pada 2026, setelah melampaui target pada 2025 dengan pengiriman 410.000 kendaraan. Momentum ini menjadi landasan bagi percepatan pertumbuhan perusahaan.

Keberhasilan Xiaomi bukan sekadar angka penjualan. Pada November 2025, mobil ke-500.000 keluar dari jalur produksi hanya dalam 602 hari sejak peluncuran model pertama, SU7. Pencapaian ini menunjukkan kemampuan Xiaomi dalam R&D, manufaktur, penjualan, hingga layanan purna jual sudah matang dan tervalidasi.

Huawei juga tak tinggal diam. Melalui Harmony Intelligent Mobility Alliance, Huawei menggandeng lima produsen mobil China untuk menyatukan standar, memperkuat ekosistem kendaraan listrik, dan memaksimalkan kolaborasi di software, layanan, infrastruktur pengisian daya, dan pemasaran. Langkah ini menunjukkan pergeseran strategi dari pendekatan individual ke ekosistem terpadu.

Kolaborasi Huawei melibatkan merek-merek seperti Aito, Luxeed, Stelato, Maextro, dan Shangjie, yang telah memproduksi lebih dari 1 juta kendaraan secara kolektif. Huawei menekankan bahwa integrasi sumber daya akan memberi nilai lebih konsisten bagi pengguna, sekaligus memperkuat posisi mereka di pasar New Energy Vehicle (NEV) China.

Kinerja Xiaomi Menjadi Indikator Momentum Industri

Xiaomi mencatat pengiriman 100.000 kendaraan pada kuartal ketiga 2025, naik 173,4 persen secara tahunan. Total pengiriman tiga kuartal pertama sudah melebihi 260.000 unit, dengan September dan Oktober masing-masing mencatat lebih dari 40.000 kendaraan. Angka ini menegaskan pertumbuhan stabil dan potensi ekspansi ke pasar global.

CEO Xiaomi, Lei Jun, menilai pencapaian produksi ini membuktikan seluruh rantai nilai otomotif perusahaan sudah matang. Mulai dari desain, penelitian, manufaktur, distribusi, hingga layanan purna jual berjalan selaras. Kecepatan produksi yang tinggi menjadi faktor penting untuk menghadapi persaingan ketat, terutama dari perusahaan lain yang agresif di segmen mobil listrik.

Kesuksesan Xiaomi mencerminkan tren global: produsen teknologi besar kini tak hanya bermain di gadget, tetapi juga menargetkan pangsa pasar otomotif. Pendekatan ini menggabungkan teknologi cerdas, kemampuan manufaktur, dan pengalaman pengguna digital dalam satu ekosistem mobilitas.

Huawei dan Strategi Kolaborasi Ekosistem

Harmony Intelligent Mobility Alliance menegaskan strategi Huawei yang berfokus pada kolaborasi ekosistem. Lima merek mobil yang tergabung saling berbagi platform software, infrastruktur pengisian daya, serta strategi pemasaran. Integrasi ini memungkinkan Huawei dan mitranya menghadirkan kendaraan listrik dengan nilai konsisten bagi konsumen.

Yu Chengdong, kepala bisnis mobil pintar Huawei, menyebut pendekatan ini meningkatkan efisiensi pengembangan produk dan memperkuat posisi mereka di pasar NEV China. Kolaborasi lintas merek memungkinkan teknologi canggih, termasuk pengemudian otonom, dapat diterapkan lebih cepat dan merata.

Kolaborasi semacam ini menunjukkan pergeseran industri otomotif dari kompetisi individu ke persaingan berbasis ekosistem. Huawei memanfaatkan kekuatan jaringan, infrastruktur, dan pengalaman software untuk menghadirkan inovasi yang bisa bersaing di tingkat global.

Teknologi Pengemudian Otonom dan Masa Depan Mobil Listrik

Huawei dan Xiaomi sama-sama menekankan pengembangan pengemudian otonom Level 3 (L3). Investasi besar dilakukan dalam R&D, sensor, perangkat keras, dan tenaga manusia. Penurunan biaya hardware seperti lidar, peningkatan kapasitas komputasi, dan integrasi model bahasa besar menjadi faktor pendukung utama.

Yang Ming dari Shanghai Jiao Tong University menilai kemajuan ini menempatkan China dan Amerika Serikat di garis depan pengembangan kendaraan cerdas. Eropa masih mengejar ketertinggalan, menunjukkan bahwa persaingan global di sektor ini semakin intens.

Zhang Yongwei, presiden China EV100, menyebut bahwa integrasi teknologi pengemudian otonom dengan kendaraan listrik akan menjadi kunci dominasi pasar. Kombinasi antara efisiensi produksi, inovasi teknologi, dan kolaborasi ekosistem membuat Xiaomi dan Huawei siap menghadapi era kendaraan listrik global.

Investasi strategis ini menunjukkan bahwa masa depan mobilitas di China tidak hanya soal volume produksi, tetapi juga kualitas teknologi, kolaborasi industri, dan pengalaman pengguna. Persaingan Xiaomi dan Huawei diprediksi akan memacu inovasi lebih cepat, sekaligus memperluas adopsi kendaraan listrik secara global.

Terkini