Breaking

Dunia Hadapi Krisis Solar di Tengah Lonjakan Harga Minyak Mentah

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Kamis, 17 September 2026
Dunia Hadapi Krisis Solar di Tengah Lonjakan Harga Minyak Mentah
Ilustrasi harga minyak mentah (FOTO : NET)

JAKARTA – Krisis minyak global kini memasuki babak baru. Selain lonjakan harga minyak mentah, pasokan bahan bakar olahan jenis solar atau diesel juga tercatat semakin tertekan.

Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) dalam laporan Oil Market Report September 2026 mencatat harga solar di Amerika Serikat (AS) menembus 200 dollar AS per barrel pada awal September 2026. Angka tersebut tercatat 94 persen lebih tinggi jika dibandingkan dengan level sebelum perang.

Kebijakan pemerintah yang secara resmi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax per Rabu (10/6/2026) langsung memicu keresahan mendalam bagi masyarakat di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Kenaikan harga produk olahan minyak tersebut bahkan jauh lebih tajam dibandingkan lonjakan harga minyak mentah.

Di tengah gangguan pasokan dari kawasan Teluk dan Rusia, pasar minyak dunia kini menghadapi tekanan ganda. Produksi tercatat turun, persediaan terkuras, dan kapasitas pengolahan minyak dinilai semakin terbatas.

IEA menyebut harga minyak mentah acuan Brent mencapai rata-rata 91 dollar AS per barrel pada Agustus 2026. Angka tersebut diketahui meningkat 7,61 dollar AS per barrel dibandingkan bulan sebelumnya.

Namun, tekanan terbesar justru terlihat jelas pada harga produk olahan minyak, khususnya solar.

“Harga solar, yang mencakup hampir 30 persen dari permintaan global, di Amerika Serikat melampaui angka 200 dollar AS per barrel pada awal September, atau 94 persen di atas tingkat harga sebelum perang, sementara harga di Eropa dan Asia juga menyusul dengan selisih yang tidak jauh berbeda,” tulis IEA dalam laporan tersebut sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Hal itu menandakan bahwa kenaikan harga tidak hanya terjadi pada bahan baku energi. Kenaikan juga meluas pada produk yang dibutuhkan untuk menggerakkan aktivitas ekonomi.

IEA mencatat harga minyak mentah Brent mencapai 105 dollar AS per barrel pada saat laporan diselesaikan. Harga tersebut naik 21 dollar AS per barrel sejak awal Agustus dan 45 persen lebih tinggi dibandingkan level sebelum perang.

Kendati demikian, IEA menilai kenaikan harga minyak mentah tersebut masih kalah jika dibandingkan dengan lonjakan harga produk olahan.

“Namun, kenaikan harga kontrak berjangka maupun harga fisik minyak mentah tidak seberapa dibandingkan dengan kenaikan harga produk olahan, yang saat ini mengalami kondisi pasar paling ketat,” ungkap IEA sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kondisi tersebut tercermin langsung dari pelebaran selisih harga antara minyak mentah dan produk olahan. Margin pengolahan minyak di kawasan Atlantik bahkan menembus rekor tertinggi pada Agustus 2026 akibat dorongan kenaikan tajam harga solar.

Tekanan terhadap solar dinilai tidak terlepas dari gangguan pasokan minyak serta produk olahan dari kawasan penghasil utama.

IEA memperkirakan ekspor minyak dari negara-negara Teluk pada Agustus 2026 hanya mencapai sekitar 13 juta barrel per hari (bph). Angka tersebut berada hampir separuh dari tingkat sebelum perang.

Penurunan pasokan untuk ekspor minyak mentah memang mulai menyempit. Namun, situasi berbeda justru terjadi pada produk olahan dan gas petroleum cair atau LPG.

Ekspor produk olahan dan LPG dari kawasan Teluk tercatat hampir 60 persen atau 3,7 juta bph lebih rendah dibandingkan Februari 2026.

Khusus ekspor bersih solar dari negara-negara Teluk, IEA mencatat rata-rata hanya berada pada angka 390.000 bph pada Agustus 2026. Angka tersebut dinilai sedikit di atas seperempat tingkat sebelum perang.

Gangguan pasokan serupa juga terjadi di Rusia. Sistem pengolahan minyak di negara tersebut mengalami gangguan akibat serangan Ukraina yang dinilai semakin intensif.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua