Breaking

Saham Emiten Emas HRTA Melemah 5,78 persen, Analis Tetap Rekomendasi Buy

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Selasa, 15 September 2026
Saham Emiten Emas HRTA Melemah 5,78 persen, Analis Tetap Rekomendasi Buy
Ilustrasi Harga saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) mengalami pelemahan sepanjang perdagangan September 2026. (sumber foto: NET)

JAKARTA - Harga saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) mengalami pelemahan sepanjang perdagangan September 2026. Kendati demikian, analis menilai penurunan harga saham emiten emas tersebut menjadi peluang bagi investor untuk mulai mengoleksinya.

Pada akhir perdagangan Senin 14 September 2026, saham HRTA berada di Rp 2.120, turun 50 poin atau 2,30% secara harian. Dalam lima hari terakhir, saham HRTA telah terakumulasi melemah 5,78%.

Di tengah pelemahan tersebut, analis tetap menilai saham HRTA memiliki prospek investasi yang positif. Pandangan tersebut didukung perkiraan peningkatan kinerja Hartadinata hingga akhir 2026.

Pertumbuhan penjualan emas, kenaikan harga emas, serta ekspansi jaringan gerai menjadi sejumlah katalis yang menopang prospek emiten perhiasan emas tersebut.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan kinerja HRTA pada semester I 2026 mencatat pertumbuhan yang signifikan.

Pendapatan perseroan pada periode tersebut mencapai Rp 33,8 triliun, tumbuh 124,61% secara tahunan atau year on year (YoY). Sementara itu, laba bersih HRTA melonjak 100,86% YoY menjadi Rp 700,01 miliar.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan volume penjualan emas sebesar 46,74% serta kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) sebesar 53,21% YoY.

Kinerja penjualan emas HRTA juga memperoleh dukungan dari meningkatnya kontribusi mitra perbankan dan lembaga keuangan.

Pendapatan perseroan yang berasal dari Pegadaian pada kuartal II 2026 mencapai Rp 8,4 triliun. Nilai tersebut tumbuh 75,6% YoY.

Sementara itu, pendapatan dari Bank Syariah Indonesia (BSI) meningkat 37,7% secara kuartalan atau quarter on quarter (QoQ) menjadi Rp 3,3 triliun pada kuartal II 2026, dibandingkan Rp 2,4 triliun pada kuartal I 2026.

Jika digabungkan, kontribusi Pegadaian dan BSI mencapai 85,8% dari total pendapatan HRTA pada kuartal II 2026. Kontribusi tersebut meningkat dibandingkan kuartal I 2026 yang berada di level 76,7%.

Abida menilai prospek jangka panjang HRTA masih kuat seiring dengan ekspansi jaringan gerai dan perkembangan ekosistem emas domestik.

“HRTA tetap layak dikoleksi sebagai pemain integrated gold ecosystem terbesar di Indonesia dengan valuasi masih di bawah wajarnya, meski panduan kinerja 2026 sudah direvisi lebih konservatif,” ujar Abida kepada Kontan, Senin (14/9/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Abida juga menilai harga emas yang bertahan di atas US$ 4.000 per ons troi menjadi salah satu katalis positif bagi HRTA.

Selain itu, peningkatan fasilitas kredit dari Bank Mandiri menjadi Rp 2,17 triliun dinilai berpotensi mendukung pertumbuhan bisnis perseroan.

Dengan berbagai dukungan tersebut, Abida masih mempertahankan pandangan positif terhadap prospek HRTA meskipun perusahaan telah merevisi panduan kinerja 2026.

Di sisi lain, Research Analyst MNC Sekuritas Raka Junico W. melakukan penyesuaian terhadap proyeksi volume penjualan emas HRTA untuk 2026.

Raka memangkas estimasi volume penjualan emas menjadi 26,3 ton dari proyeksi sebelumnya sebesar 32,1 ton.

Namun, asumsi harga jual rata-rata justru dinaikkan menjadi Rp 2,4 juta per gram dari sebelumnya Rp 2,19 juta per gram.

Penyesuaian tersebut dilakukan di tengah tekanan margin pada bisnis grosir HRTA.

“Penurunan secara kuartalan terutama disebabkan oleh penurunan margin bisnis grosir menjadi 2,7% pada 2Q26, dibandingkan 3,0% pada 1Q26 dan 3,6% pada 2Q25,” tulis Raka dalam risetnya tertanggal 12 Agustus 2026, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Meski menghadapi tekanan pada margin, Raka tetap mempertahankan pandangan positif terhadap prospek saham HRTA.

Salah satu katalis yang diperhitungkan adalah tambahan permintaan yang berpotensi berasal dari dua bank baru pada paruh kedua 2026 hingga awal 2027.

Ekspansi jaringan gerai hingga mencapai 100 gerai juga diperkirakan dapat mendukung pertumbuhan bisnis perseroan ke depan.

“Kami masih melihat prospek HRTA tetap positif karena harga emas tampaknya telah mencapai titik terendahnya. Meskipun retorika bank sentral masih cenderung hawkish, permintaan global tetap kuat berdasarkan pengamatan kami,” tulis Raka, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan asumsi tersebut, Raka memproyeksikan pendapatan HRTA pada 2026 mencapai Rp 63,27 triliun. Laba bersih diperkirakan mencapai Rp 1,36 triliun.

Proyeksi tersebut mencerminkan pertumbuhan pendapatan sekitar 42% dan laba bersih sekitar 38,7% secara tahunan.

Dengan mempertimbangkan prospek tersebut, Raka memberikan rekomendasi Buy untuk saham HRTA dengan target harga Rp 2.800 per saham.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Abida juga mempertahankan rekomendasi Buy untuk saham HRTA. BRI Danareksa Sekuritas menetapkan target harga yang lebih tinggi, yakni Rp 3.300 per saham.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua