Breaking

IHSG Jatuh 1,82 Persen, Harga Minyak dan Yield Jadi Biang Keladi

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Jumat, 11 September 2026
IHSG Jatuh 1,82 Persen, Harga Minyak dan Yield Jadi Biang Keladi
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat pada awal perdagangan Jumat (11/9/2026). (sumber foto: NET)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat pada awal perdagangan Jumat (11/9/2026). IHSG dibuka melemah 36,55 poin atau 0,55% ke level 6.552,79 sebelum kemudian turun mendekati 2% tidak lama setelah perdagangan dimulai.

Mengacu pada data Bursa Efek Indonesia, tekanan terhadap IHSG semakin dalam sekitar lima belas menit setelah pembukaan. IHSG tercatat menyentuh level terendah dengan penurunan lebih dari 1,82% ke level 6.466,60.

Pada awal perdagangan, hanya 75 saham yang menguat, sedangkan 527 saham melemah dan 106 saham lainnya bergerak stagnan.

Volume transaksi pada awal sesi mencapai 7,24 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp 3,29 triliun.

Seluruh sektor perdagangan mengalami koreksi. Sektor energy menjadi kelompok dengan pelemahan paling dalam, kemudian disusul sektor barang baku, konsumer non primer, dan finansial.

Sejumlah saham dengan kapitalisasi besar turut menjadi penekan utama IHSG. Bayan Resources (BYAN) memberikan kontribusi pelemahan sebesar 12,37 poin terhadap indeks. Berikutnya ada Bank Central Asia (BBCA) sebesar 11,73 poin, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 6,31 poin, Amman Mineral (AMMN) 5,83 poin, Bank Mandiri (BMRI) 4,34 poin, serta Bumi Resources (BUMI) 3,96 poin.

Tekanan IHSG hari ini turut dipengaruhi oleh dua sentimen global. Pertama, harga minyak kembali meningkat seiring memanasnya konflik Iran-Amerika Serikat. Kedua, imbal hasil (yield) US Treasury mengalami lonjakan.

Kenaikan yield Treasury dan harga minyak secara bersamaan menciptakan tekanan bagi pasar saham. Yield yang tinggi dapat menekan valuasi saham, sedangkan peningkatan harga minyak kembali memunculkan risiko inflasi dan berpotensi mempersempit ruang bank sentral untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter.

Di sisi lain, persoalan utang Amerika Serikat (AS) juga menjadi perhatian pasar. Utang pemerintah federal AS telah menembus US$40 triliun dan mencatat rekor baru, menandakan semakin beratnya beban fiskal negara tersebut.

Tekanan tersebut mulai tercermin di pasar obligasi. Departemen Keuangan AS menyiapkan program buyback surat utang hingga US$6 miliar guna menjaga likuiditas pasar obligasi. Nilainya mencapai tiga kali lipat dari operasi normal, dengan transaksi awal menyasar Treasury tenor 10 tahun dan 20 tahun.

Namun, langkah tersebut justru mendapat respons negatif dari pasar. Yield Treasury 10 tahun meningkat menjadi 4,84%, sedangkan yield tenor 20 tahun mencapai 5,314% dan tenor 30 tahun menembus 5,3%.

Level yield Treasury 10 tahun tersebut merupakan yang tertinggi sejak Oktober 2023. Peningkatan yield menjadi perhatian investor karena dapat membuat aset berdenominasi dolar AS semakin menarik sekaligus memberikan tekanan terhadap valuasi aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang seperti Indonesia.

Investor Stanley Druckenmiller memperingatkan bahwa semakin besar upaya pemerintah untuk mempertahankan harga obligasi, semakin besar pula operasi yang diperlukan untuk menghadapi tekanan di pasar.

Sementara itu, situasi konflik antara Iran dan AS kembali meningkat. Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz setelah AS menghancurkan lima tanker minyak Iran.

Eskalasi tersebut segera memberikan dampak terhadap pasar energi. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak hingga menembus US$100 per barel. Kontrak minyak AS dan Brent mencatat harga penutupan tertinggi sejak 19 Mei di tengah konflik AS dan Iran yang telah memasuki bulan ketujuh.

Kenaikan harga minyak tersebut telah berlangsung selama lima hari berturut-turut. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global karena kenaikan harga energi berpotensi kembali meningkatkan biaya produksi dan transportasi.

Pergerakan negatif juga terlihat di bursa saham Asia-Pasifik pada perdagangan Jumat (11/9/2026). Bursa Korea Selatan dan Jepang memimpin pelemahan di kawasan tersebut. Indeks acuan Korea Selatan, Kospi, tercatat anjlok 2,7%.

Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang turun 2,6%, sedangkan indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 1%. Bursa Asia tertekan setelah saham-saham Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan akibat lonjakan harga minyak dalam perdagangan Kamis.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua