Rating Protelindo Dipertahankan Fitch di BBB, Outlook Diturunkan
JAKARTA – Fitch Ratings mempertahankan peringkat jangka panjang mata uang asing Issuer Default Rating (LT FC IDR) PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) di level BBB.
Namun, Fitch memasang outlook entitas grup Djarum dipasang negatif. Pada saat yang sama, Fitch Ratings Indonesia mempertahankan Peringkat Nasional Jangka Panjang, Peringkat Nasional Senior Tanpa Jaminan, serta peringkat program dan obligasi lokal Protelindo yang belum jatuh tempo di level AAA(idn dengan Outlook Stabil.
Fitch menyebut Outlook Negatif pada peringkat mata uang asing Protelindo terutama mencerminkan Outlook pada peringkat sovereign Indonesia.
Peringkat mata uang asing Protelindo juga dibatasi oleh Country Ceiling Indonesia yang berada di level BBB.
Di sisi bisnis, Fitch menilai Protelindo memiliki fondasi yang kuat untuk menangkap peluang pertumbuhan dari perkembangan jaringan telekomunikasi Indonesia.
Peluncuran 5G dan fixed-wireless access (FWA) diperkirakan mulai meningkat pada 2027 dan berpotensi mendorong tambahan permintaan terhadap infrastruktur menara dan konektivitas milik Protelindo.
Protelindo merupakan penyedia infrastruktur menara terbesar kedua di Indonesia.
Perusahaan menguasai sekitar 30% pasar menara berdasarkan jumlah menara, sementara tiga perusahaan menara terbesar di Indonesia diperkirakan menguasai sekitar 95% pasar.
Fitch dalam riset 2 September 2026 menjelaskan posisi tersebut memberikan keunggulan kompetitif karena operator telekomunikasi Indonesia semakin mengandalkan perusahaan menara independen setelah melakukan divestasi aset menara.
Salah satu faktor utama yang menopang rating Protelindo adalah tingginya visibilitas arus kas.
Lebih dari 80% pendapatan perusahaan berasal dari kontrak sewa menara dan fiber.
Kontrak tersebut umumnya memiliki tenor sekitar 10 tahun, tidak dapat dibatalkan sebelum masa berakhir, serta memiliki risiko pasar dan teknologi yang relatif rendah.
Fitch memperkirakan hanya sekitar 1% kontrak yang berakhir setiap tahun dan sebagian besar kemungkinan akan diperpanjang.
Tingkat perpanjangan kontrak juga ditopang tingginya biaya perpindahan bagi pelanggan.
Relokasi peralatan dapat membutuhkan biaya besar dan berpotensi memengaruhi kualitas jaringan.
Alhasil, total pendapatan yang telah dikontrak Protelindo mencapai sekitar Rp 100 triliun per Juni 2026, atau setara dengan sekitar sembilan kali pendapatan perusahaan pada 2025.
"Pendapatan Protelindo sangat dapat diprediksi," demikian penilaian Fitch dalam laporan bertanggal 2 September 2026, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Fitch memperkirakan permintaan terhadap aset Protelindo akan kembali menguat seiring stabilnya industri telekomunikasi Indonesia setelah merger XLSmart.
Persaingan industri yang lebih sehat diperkirakan mendorong operator untuk meningkatkan investasi pada kualitas jaringan.
Kondisi tersebut akan menjadi katalis bagi perusahaan menara, terutama ketika implementasi 5G dan FWA mulai meningkat pada 2027.
Lelang spektrum yang berlangsung pada pertengahan 2026 juga menetapkan persyaratan cakupan bagi seluruh operator.
Menurut Fitch, ketentuan tersebut berpotensi mendorong investasi infrastruktur telekomunikasi lebih lanjut dan memberikan manfaat bagi Protelindo.
Adopsi FWA juga diperkirakan meningkat karena karakteristik geografis Indonesia yang membuat pembangunan jaringan fiber hingga ke seluruh wilayah tidak selalu praktis.
Meski demikian, Fitch melihat pertumbuhan pendapatan Protelindo masih menghadapi sejumlah tekanan.
Pertumbuhan jumlah menara, co-location, jangkauan fiber dan penetrasi diperkirakan tetap sehat seiring kuatnya permintaan data.
Namun, pertumbuhan pendapatan akan dibatasi oleh tarif sewa menara yang lebih rendah serta pendapatan aktivasi fiber yang melemah.
Fitch memperkirakan margin EBITDA Protelindo turun sekitar 5% menjadi sekitar 74% pada periode 2026-2029.
Penurunan tersebut terutama disebabkan konsolidasi Back Multi Global (BMG) dan PT Remala Abadi (DATA), yang memiliki margin lebih rendah.
Kendati margin tertekan, Fitch memperkirakan net leverage Protelindo tetap berada di sekitar 4,0 kali.
Pasalnya, EBITDA absolut masih meningkat seiring dengan konsolidasi bisnis tersebut.
Level leverage tersebut dinilai masih memberikan ruang bagi Protelindo untuk meningkatkan belanja modal guna memenuhi pesanan pelanggan baru.
Fitch bahkan menilai Protelindo masih memiliki salah satu margin EBITDA dan metrik leverage terkuat dibandingkan perusahaan menara global yang dinilai lembaga tersebut.
Dalam skenario rating Fitch, pendapatan Protelindo diproyeksikan tumbuh 8,5% pada 2026 dan 5% pada 2027, dengan margin EBITDA sekitar 74% mulai 2026.
Belanja modal atau capex diperkirakan mencapai sekitar 39% dari pendapatan pada 2026 dan 35% mulai 2027.
Fitch juga memperkirakan dividen sekitar Rp1,2 triliun per tahun selama 2026-2029.
Untuk merger dan akuisisi (M&A), Fitch memperkirakan pengeluaran sekitar Rp 253 miliar pada 2026, termasuk akuisisi sisa saham PT Solusi Tunas Pratama, kepemilikan 11% di PT Remala Abadi (DATA), serta investasi minoritas pada sejumlah joint venture.
Dari sisi likuiditas, posisi Protelindo juga dinilai memadai.
Pada akhir 2025, perusahaan memiliki kas siap pakai sebesar Rp 633,6 miliar serta fasilitas revolving yang belum ditarik sebesar Rp 15,7 triliun.
Posisi tersebut dibandingkan dengan utang sekitar Rp 15,5 triliun yang jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan.
Fitch memperkirakan Protelindo tetap memiliki akses kuat terhadap pendanaan perbankan maupun pasar modal untuk melakukan refinancing atas utang yang jatuh tempo.
Fitch juga menilai perusahaan akan tetap berhati-hati dalam membagikan dividen guna mempertahankan kekuatan neraca.
Meski rating dipertahankan, terdapat sejumlah faktor yang dapat memicu tindakan negatif terhadap peringkat Protelindo.
Salah satunya adalah akuisisi yang didanai utang atau kebijakan pengembalian modal kepada pemegang saham yang lebih agresif sehingga mendorong rasio net debt terhadap EBITDA bertahan di atas 4,5 kali.
Penurunan Country Ceiling Indonesia dari level BBB juga dapat menekan peringkat mata uang asing Protelindo.
Sebaliknya, perubahan Outlook sovereign Indonesia menjadi Stabil dapat membuka jalan bagi revisi Outlook Protelindo menjadi Stabil, selama Country Ceiling Indonesia tetap berada di level BBB.
Fitch menilai Protelindo memiliki profil kredit yang sejalan dengan induknya, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (SMN).
Namun, Protelindo tetap dinilai secara standalone dengan mempertimbangkan rekam jejak manajemen dalam menjaga kebijakan keuangan yang konservatif.
Fitch juga memperhitungkan bahwa transaksi material dengan pihak berelasi terhadap induk perusahaan harus memenuhi persyaratan pengungkapan regulator serta memperoleh persetujuan pemegang saham independen.
Dengan kombinasi posisi pasar yang kuat, arus kas kontraktual yang tinggi, serta potensi pertumbuhan dari 5G dan FWA, Fitch menilai Protelindo masih memiliki fondasi kredit yang solid.
Tantangan utamanya adalah menjaga leverage tetap terkendali di tengah ekspansi, tekanan tarif sewa, serta konsolidasi bisnis dengan margin yang lebih rendah.