Breaking

Permintaan Energi Global Mendorong Kenaikan Harga Batu Bara

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Rabu, 02 September 2026
Permintaan Energi Global Mendorong Kenaikan Harga Batu Bara
Ilustrasi Batu Bara (FOTO : NET)

JAKARTA – Harga batu bara melonjak hingga mendekati USD145 per ton pada awal September, menembus posisi tertinggi dalam 11 pekan atau lebih dari 2 bulan. Kenaikan ini didorong oleh kuatnya permintaan energi dunia serta potensi gangguan pasokan yang masih mengintai pasar.

Mengutip data Trading Economics, lonjakan harga komoditas ini terjadi meskipun China melaporkan kapasitas listrik tenaga surya telah menjadi yang terbesar di negaranya, melampaui pembangkit batu bara untuk pertama kali sebagaimana dilansir dari berita sumber. Langkah tersebut sejalan dengan upaya China yang mempercepat proses transisi ke energi terbarukan.

Kendati demikian, batu bara tetap memegang peranan sebagai sumber utama pembangkitan listrik secara global. Bahan bakar fosil ini menyumbang hampir 11.000 terawatt-jam (TWh) listrik sepanjang 2026.

Pertumbuhan kebutuhan energi dunia yang pesat turut memperlambat transisi dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan. International Energy Agency (IEA) memperkirakan batu bara akan bertahan sebagai sumber tunggal terbesar untuk listrik hingga 2030 sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dalam jangka waktu tersebut, belum ada satu pun sumber energi alternatif yang diproyeksikan sanggup menggantikan dominasi batu bara secara signifikan. Konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah pun semakin memperkokoh prospek permintaan komoditas ini.

Eskalasi ketegangan di kawasan tersebut menekan pasokan LNG global dan memicu lonjakan harga energi, yang pada akhirnya meningkatkan daya tarik batu bara. Berdasarkan laporan The Coal Hub, harga batu bara dunia terus merangkak naik karena perusahaan utilitas Eropa meningkatkan cadangan untuk menghadapi musim dingin, sementara hambatan pasokan memperketat ketersediaan dari beberapa produsen utama sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Harga batu bara dari Afrika Selatan bahkan menyentuh posisi tertinggi dalam lima bulan. Pada saat yang sama, aktivitas pengapalan batu bara dari pelabuhan di Laut Hitam dan Laut Azov Rusia hampir terhenti total akibat serangan drone.

Di Indonesia, harga batu bara juga ikut terangkat karena keterlambatan pengesahan kuota RKAB membatasi ketersediaan barang di pasar spot. Bencana kekeringan turut memperberat gangguan pada rantai pasokan komoditas ini.

Sektor batu bara dinilai masih diperdagangkan di bawah harga wajarnya (undervalued) meskipun arah harga mulai memasuki tahap normalisasi. BRI Danareksa Sekuritas melihat pasar memberikan diskon yang berlebihan akibat ketidakpastian regulasi, padahal kondisi fundamental sektor ini bergerak ke arah keseimbangan yang lebih baik.

Melalui riset yang dirilis Jumat (28/8/2026), BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor batu bara sebagaimana dilansir dari berita sumber. Kendati demikian, rekomendasi taktis tiga bulan ke depan diturunkan menjadi netral mengingat potensi kenaikan jangka pendek yang makin terbatas.

Dari segi valuasi, sektor ini berada pada price-to-earnings (PE) 6,1 kali, atau sekitar 0,7 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun. BRI Danareksa Sekuritas menilai angka tersebut menandakan pasar masih memperhitungkan risiko kebijakan yang relatif tinggi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Padahal, tekanan pasokan global mulai mereda setelah impor batu bara China dan India masing-masing menyusut 3 persen dan 18 persen secara tahunan. Namun, permintaan dari negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan masih menopang pasar dengan pertumbuhan impor masing-masing sebesar 4 persen, 3 persen, dan 20 persen secara tahunan.

Di sisi lain, Indonesia menjadi faktor kunci yang memperketat pasokan batu bara dunia. Volume produksi serta ekspor batu bara Indonesia tercatat turun sekitar 8 persen secara tahunan pada lima bulan pertama 2026.

Situasi tersebut menjaga pasar tetap ketat, walaupun belum menyebabkan kejutan pasokan (supply shock). Keseimbangan antara pasokan dan permintaan diproyeksikan membaik pada semester II-2026 seiring meredanya dampak konflik serta potensi penambahan revisi RKAB sebesar 10-12 persen.

BRI Danareksa memproyeksikan harga batu bara bergerak menuju normalisasi pada semester II-2026 sebagaimana dilansir dari berita sumber. Indeks harga batu bara Indonesia, yakni ICI3 dan ICI4, diperkirakan telah mencapai puncaknya pada Juni 2026 dan mulai bergerak lebih stabil.

Meski begitu, proses normalisasi harga ini diperkirakan tidak akan berlanjut menjadi penurunan yang tajam. Keluar atau tidaknya persetujuan revisi RKAB dalam satu hingga 1,5 bulan mendatang menjadi fokus perhatian utama.

Keputusan tersebut menjadi variabel krusial karena tambahan kuota produksi berpeluang menambah ketersediaan pasokan di pasar domestik maupun ekspor. Di sisi lain, kewajiban pasokan dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) masih menjadi risiko bagi harga jual rata-rata (ASP) dalam jangka pendek.

Sementara itu, tekanan risiko dari PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dinilai mulai menyusut. Dari aspek keuangan, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan kuartal II-2026 belum akan membawa lonjakan laba yang signifikan bagi para emiten batu bara sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pendapatan emiten diperkirakan membaik secara kuartalan, namun kenaikan ASP berpotensi berada di bawah laju kenaikan harga batu bara acuan. Kondisi ini dipengaruhi oleh tingginya porsi penjualan untuk kebutuhan DMO.

Pada saat yang sama, pembengkakan biaya operasional berpotensi mengikis sebagian margin dari perbaikan pendapatan tersebut. Salah satu penekan utama berasal dari kenaikan harga high-speed diesel (HSD) domestik yang melonjak sekitar 35-40 persen secara kuartalan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua