Breaking

Pagelaran Sabang Merauke 2026: Raisa Debut Jadi Srikandi di Atas Panggung Raksasa

RE
Senin, 24 Agustus 2026
Pagelaran Sabang Merauke 2026: Raisa Debut Jadi Srikandi di Atas Panggung Raksasa

TEROPONGBISNIS.ID — Jakarta, 22 Agustus 2026 — Pagelaran Sabang Merauke kembali digelar untuk kelima kalinya di Indonesia Arena, GBK, dengan tema Hikayat Srikandi Nusantara. Berbeda dari tahun lalu yang mengusung Hikayat Nusantara secara umum, tahun ini fokus cerita diarahkan pada sosok perempuan tangguh dari berbagai kisah rakyat Indonesia. Tim kami hadir dalam sesi Media Preview & Premiere Show pada Jumat (21/8) untuk menilai langsung kualitas pertunjukan ini.

Skala Produksi: 1.700 Pekerja Seni dan 103 Koreografi

Skala produksi tahun ini terbilang masif. Total 1.700 pekerja seni terlibat, dengan 387 penari profesional yang membawakan 103 koreografi garapan 11 tim koreografer. Dari sisi musik, ada 50 jenis alat musik tradisional, 60 musisi orkestra, dan 119 anggota paduan suara yang mengisi soundscape pertunjukan.

Yang menarik, setiap karakter punya identitas musik sendiri. Music Director Elwin Hendrijanto menjelaskan pendekatan ini dipakai supaya penonton bisa membedakan nuansa tiap tokoh tanpa harus mengikuti alur dialog secara ketat. Hasilnya, transisi antar babak terasa halus dan tidak membingungkan.

Raisa Debut di Teater Musikal: Bukan Sekadar Menyanyi

Debut Raisa sebagai Srikandi menjadi sorotan utama. Penyanyi yang dikenal lewat balada pop ini harus keluar dari zona nyaman—bukan cuma bernyanyi, tapi juga akting dan mengikuti gerakan panggung yang cukup kompleks. Sutradara Rusmedie Agus menegaskan bahwa latihan berbulan-bulan memang dirancang untuk menyiapkan para pemain menghadapi energi penonton langsung.

Yura Yunita yang berperan sebagai Mahadewi juga punya tantangan tersendiri: adegan terbang menggunakan sling di atas naga raksasa. Eksekusinya di atas panggung terlihat mulus, meski butuh sinkronisasi ketat dengan kru teknis. Ini bukan sekadar konser—ini teater musikal penuh yang menuntut kemampuan lintas disiplin dari para penyanyinya.

Koreografi 387 Penari: Detail Lebih Penting dari Sekadar Jumlah

Salah satu kekhawatiran umum untuk pertunjukan dengan jumlah penari sebanyak ini adalah gerakan yang terlihat mekanis dan tidak kompak. Koreografer Sandhidea Cahyo mengantisipasi hal itu dengan menekankan pemahaman tiap penari terhadap alasan di balik setiap gerakan, bukan sekadar menghafal formasi.

Hasilnya terasa di beberapa babak besar, terutama saat formasi membentuk pola yang menggambarkan perjalanan dari Sabang sampai Merauke. Meski ada beberapa momen di mana penari di barisan belakang terlihat kurang sinkron—wajar untuk skala sebesar ini—secara keseluruhan eksekusinya tetap rapi.

Kostum dan Visual: 16 Desainer, Ratusan Rancangan Pakaian Adat

Dari sisi visual, 16 desainer kostum terlibat untuk menghadirkan pakaian adat dari berbagai daerah. Detail bordir dan aksesori terlihat jelas bahkan dari jarak jauh—ini penting karena panggung Indonesia Arena cukup luas dan penonton di tribun atas butuh elemen visual yang strong.

Pencahayaan dan proyeksi latar juga membantu memperkuat narasi. Sayangnya, di sesi Media Preview, beberapa transisi cahaya terasa agak lambat sehingga sempat ada jeda hening yang sedikit mengganggu ritme. Ini mungkin hanya masalah teknis di preview, dan pertunjukan umum bisa jadi lebih mulus.

Dampak Ekonomi: Kebudayaan yang Menggerakkan UMKM

Di luar panggung utama, iForte dan BCA juga menghadirkan BCA UMKM Fest x Cultural Fair yang bisa dikunjungi gratis hingga 23 Agustus. Ini langkah yang tepat—menghubungkan pertunjukan seni dengan aktivitas ekonomi riil di sekitarnya. Pelaku UMKM, industri kreatif, dan usaha pendukung lain ikut bergerak selama tiga hari gelaran.

Tiket pertunjukan tersedia melalui Tiket.com dengan promo diskon hingga 25% untuk pengguna kartu atau layanan pembayaran BCA. Untuk show hari ini, Sabtu (22/8), ada dua sesi: Show 1 pukul 13.30 WIB dan Show 2 pukul 19.00 WIB.

Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Membeli Tiket

Pertama, durasi pertunjukan cukup panjang. Siapkan fisik dan datang lebih awal karena area GBK biasanya macet di akhir pekan. Kedua, jika kamu duduk di tribun atas, pertimbangkan membawa teropong kecil—detail kostum dan ekspresi pemain lebih terlihat jelas dari jarak dekat.

Ketiga, untuk yang baru pertama kali nonton teater musikal, Pagelaran Sabang Merauke ini adalah pengenalan yang baik karena alur ceritanya mudah diikuti dan tidak butuh pengetahuan mendalam soal kisah rakyat. Tapi bagi yang sudah sering nonton pertunjukan teater profesional, beberapa babak mungkin terasa terlalu episodik dan kurang mendalam dari sisi penokohan.

Pagelaran Sabang Merauke 2026 layak menjadi agenda wajib bagi yang ingin melihat bagaimana budaya Nusantara dikemas dalam format pertunjukan modern. Bukan tanpa cacat, tapi secara keseluruhan eksekusinya solid dan Raisa membuktikan dirinya bisa lebih dari sekadar penyanyi.

Sumber: jagatreview.com

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua