Harga Minyak WTI Naik ke Dekat US Dolar 78 akibat Risiko Konflik
JAKARTA – Harga minyak WTI kembali mengalami pemulihan tipis di tengah kekhawatiran penutupan Selat Hormuz yang panjang serta potensi perang internal di Timur Tengah. Di saat yang sama, para pemimpin dunia mengecam proposal Iran-Oman mengenai kendali navigasi di jalur tersebut, sementara Arab Saudi diperkirakan memperhebat serangan militer terhadap kelompok Houthi.
Kontrak berjangka NYMEX untuk West Texas Intermediate (WTI) meneruskan pemulihan dari hari Kamis hingga mendekati US$77,80 pada sesi perdagangan hari ini. Sebelumnya, pergerakan harga minyak cenderung melemah selama dua pekan terakhir dipicu harapan dibukanya kembali Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi hampir 20% pasokan energi dunia.
Pada akhir pekan lalu, Presiden AS Donald Trump menyampaikan melalui unggahan di Truth Social bahwa dirinya menunda rencana serangan ke Iran lantaran negara tersebut menyetujui "PEMBUKAAN SEGERA, LENGKAP, DAN TOTAL SELAT HORMUZ, dan diakhirinya ancaman nuklir Iran" sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Kendati demikian, usulan kesepakatan antara AS dan Iran masih dipenuhi ketidakpastian setelah Teheran menyatakan hampir menyelesaikan proposal bersama Oman untuk mengelola jalur perairan tersebut, yang kemudian menopang rebound harga minyak. Rencana kerja sama Iran-Oman itu diprediksi bakal mendapat perlawanan dari para pemimpin dunia yang menuntut kebebasan navigasi di kawasan tersebut.
Di sisi lain, eskalasi ketegangan antara milisi Houthi dan Arab Saudi pasca-deklarasi blokade telah menguatkan kekhawatiran atas terganggunya pasokan energi dalam jangka panjang sehingga turut menyokong penguatan harga minyak.
Laporan terbaru dari The Guardian mengindikasikan bahwa Arab Saudi kemungkinan besar bakal memperluas operasi militernya terhadap Houthi sebagai balasan atas gempuran ke provinsi Najran serta pasukan pemerintah Yaman.