Breaking

Cadangan emas AS bernilai lebih dari US$1 triliun tidak lagi menopang dolar.

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Kamis, 23 Juli 2026
Cadangan emas AS bernilai lebih dari US$1 triliun tidak lagi menopang dolar.
Ilustrasi emas as (sumber foto : NET)

WASHINGTON – Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan bahwa cadangan emas AS yang bernilai lebih dari US$1 triliun tidak lagi berfungsi sebagai penopang nilai dolar setelah berakhirnya sistem standar emas pada 1971.

Pernyataan ini muncul seusai Presiden Donald Trump mendorong dilakukannya pemeriksaan simpanan emas di Fort Knox demi memastikan seluruh aset pemerintah tersebut tetap aman.

"Semua emas ada dan telah diperhitungkan. Amerika Serikat memiliki cadangan emas terbesar di dunia, bernilai lebih dari US$1 triliun berdasarkan harga pasar saat ini," kata Bessent dalam wawancara dengan Fox News sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan data U.S. Mint, Fort Knox kini menyimpan sekitar 147,3 juta ons emas dengan estimasi nilai pasar sebesar US$608 miliar. Angka tersebut bahkan mampu melampaui US$1 triliun apabila dikalkulasikan menggunakan harga emas terkini.

Bessent menerangkan bahwa sebelum tahun 1971, mata uang dolar AS memang dijamin oleh keberadaan emas dan perak.

Namun, pasca Presiden Richard Nixon menyetop sistem gold standard, dolar resmi berganti menjadi fiat currency yang tak lagi memerlukan jaminan cadangan emas.

Semenjak era tersebut, kekuatan dolar lebih banyak disokong oleh mekanisme petrodolar melalui transaksi perdagangan minyak dunia, khususnya setelah kesepakatan AS dengan Arab Saudi terjalin pada 1974.

Kendati demikian, beberapa pengamat menganggap kejayaan dolar mulai mendapat ancaman berlanjut.

Pangsa pasar dolar dalam cadangan devisa dunia terus menyusut hingga menyentuh kisaran 57%, angka terendah dalam 25 tahun terakhir akibat maraknya gelombang de-dolarisasi dan diversifikasi mata uang.

Sejumlah negara seperti Prancis dan Kanada pun bergerak memangkas ketergantungan pada sistem keuangan dolar di tengah tingginya ketidakpastian iklim perdagangan internasional.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua