Breaking

SINI Akuisisi KMS Rp1,73 Triliun, Fokus Tambang Batubara

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Rabu, 22 Juli 2026
SINI Akuisisi KMS Rp1,73 Triliun, Fokus Tambang Batubara
Ilustrasi PT Singaraja Putra (SINI) resmi melakukan akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) senilai Rp1,73 triliun. (sumber foto: NET)

JAKARTA - PT Singaraja Putra Tbk (SINI) menjelaskan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait akuisisi saham PT Kemilau Mulia Sakti (KMS), anak usaha PT Petrosea Tbk (PTRO), senilai Rp1,73 triliun atau 110,26 persen dari total aset emiten.

Manajemen menyebut akuisisi KMS menjadi bagian dari strategi pengembangan usaha dan peningkatan investasi di sektor pertambangan dengan prospek pertumbuhan jangka menengah yang positif. Berdasarkan RUPTL 2025–2034, kebutuhan tenaga listrik nasional diproyeksikan tumbuh rata-rata 5,3 persen per tahun, sehingga batubara masih berperan penting dalam pasokan energi.

“Akuisisi ini diharapkan dapat memperluas cakupan usaha perusahaan, memperkuat portofolio investasi di sektor pertambangan batubara, serta meningkatkan kontribusi pendapatan dan laba perusahaan,” ungkap Manajemen SINI dalam keterbukaan informasi, Selasa (21/7/2026).

Dalam jangka pendek, akuisisi akan meningkatkan nilai aset dan kepercayaan investor. Dalam jangka panjang, langkah ini berpotensi menambah kapasitas produksi dan volume penjualan batubara, membentuk sinergi operasional, serta mengurangi ketergantungan pada satu wilayah operasi.

SINI berencana mensinergikan aspek penjualan, produksi, logistik, dan lainnya agar kinerja operasional maksimal. Anak usaha KMS, PT Cristian Eka Pratama (CEP), memiliki area tambang di Kalimantan Timur, berbeda dengan anak usaha SINI yang beroperasi di Kalimantan Tengah.

“Namun, melalui akuisisi KMS, maka perusahaan juga dapat meningkatkan standar operasionalnya, sehingga perusahaan dapat meningkatkan kualitas dalam pembangunan infrastruktur yang akan menunjang efisiensi biaya operasional dari perusahaan,” ungkap Manajemen SINI.

KMS menargetkan produksi batubara bertahap, mulai 1 juta ton per tahun, naik menjadi 3,6 juta ton, hingga mencapai kapasitas optimal sekitar 5 juta ton per tahun. Masa tambang diperkirakan berlangsung hingga 2038, bergantung pada kondisi operasional dan regulasi.

Seiring peningkatan kapasitas produksi, SINI menargetkan volume penjualan batubara konsolidasian meningkat dibandingkan dengan realisasi 2025 sebesar 203.057 ton.

“Keberadaan KMS diharapkan menjadi salah satu sumber pertumbuhan produksi perusahaan ke depan,” urai Manajemen SINI.

Selain itu, SINI menyebut adanya kontrak jasa pertambangan jangka panjang hingga 2032 antara anak usaha PT Pasir Bara Prima dengan PTRO. Kontrak ini terpisah dan bukan bagian dari transaksi akuisisi KMS.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua