Breaking

ADPI Beberkan Alasan Kenaikan RoI Dana Pensiun Konvensional per April

AK
Akbar

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 06 Juli 2026
ADPI Beberkan Alasan Kenaikan RoI Dana Pensiun Konvensional per April
Ilustrasi: ADPI menjelaskan faktor kenaikan Return on Investment dana pensiun konvensional per April 2026. (Gambar: NET)

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kenaikan Return on Investment (RoI) dana pensiun konvensional secara bulanan dari 0,02 persen per Maret 2026 menjadi 0,55 persen per April 2026. Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) membeberkan sejumlah faktor yang memengaruhi peningkatan kinerja tersebut.

Staf Ahli ADPI, Bambang Sri Mulyadi, mengungkapkan salah satu pendorongnya adalah penambahan portofolio deposito berjangka dari iuran dana baru. Selain itu, terdapat pencairan investasi dari fixed income yang dialihkan ke instrumen deposito.

Bambang menyebutkan bahwa faktor lain yang berperan adalah kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang relatif membaik pada April 2026 dibandingkan dengan bulan sebelumnya. "Selain itu, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terbilang lebih baik pada April 2026, dibandingkan posisi Maret 2026," ujarnya sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Perlu diketahui, kinerja IHSG tercatat turun 1,30 persen secara bulanan pada April 2026, namun penurunan tersebut lebih landai dibandingkan dengan Maret 2026 yang jatuh sebesar 5,91 persen. Bambang juga menyoroti pengaruh pelemahan nilai tukar rupiah serta langkah switching alokasi investasi dari pasar modal ke pasar uang yang dilakukan sejumlah dana pensiun.

Bambang memperkirakan industri akan menemui tantangan untuk meningkatkan RoI hingga akhir tahun ini. Ia memprediksi RoI industri kemungkinan besar akan tertahan di level 0,5 persen saja sampai penutupan tahun.

Meskipun demikian, peluang peningkatan RoI masih terbuka apabila industri dana pensiun berani mengambil langkah investasi yang lebih agresif pada instrumen saham. "Berpeluang jika dana pensiun ada yang berani berinvestasi saham secara agresif dengan memanfaatkan fluktuasi harga saham untuk membeli dan menjual kembali. Namun, risikonya cukup tinggi," ujar Bambang sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua