Breaking

Wamenhaj Ajak Rintis Budaya Kerja Baru Guna Layani Jemaah Haji RI

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 06 Juli 2026
Wamenhaj Ajak Rintis Budaya Kerja Baru Guna Layani Jemaah Haji RI
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI, Dahnil Anzar Simanjuntak (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak memaparkan bahwa langkah transformasi dalam penyelenggaraan ibadah haji bukan melulu bertumpu pada aspek penyempurnaan sistem serta regulasi semata, melainkan juga menuntut adanya peralihan budaya kerja yang menjunjung tinggi sendi integritas sekaligus memprioritaskan maslahat para jamaah.

“Kemenhaj harus benar-benar berwajah baru. Mari kita mulai tradisi baru dan budaya kerja baru yang lebih baik. Walaupun kita berasal dari institusi yang berbeda, tujuan kita hanya satu, yaitu memberikan pelayanan terbaik bagi jamaah haji Indonesia,” kata Wamenhaj, Senin.

Wamenhaj menggarisbawahi bahwa agenda transformasi pada tubuh Kementerian Haji dan Umrah tidak sebatas menyentuh ranah perombakan kelembagaan saja, namun wajib diimplementasikan pula ke dalam pola pikir, etos kerja, beserta komitmen dari segenap insan Kemenhaj.

Menurut pemaparannya, karakter berwajah baru dari Kemenhaj sepatutnya didirikan di atas pilar integritas. Mandat amanah yang diserahkan kepada pihak Kementerian Haji dan Umrah guna menata penyelenggaraan ibadah haji merupakan bentuk kepercayaan masif yang wajib dikawal secara kolektif lewat implementasi tata kelola yang profesional, transparan, serta akuntabel.

Segenap alur dari rantai penyelenggaraan haji, tutur dia, wajib digulirkan secara terbuka sekaligus steril dari rupa-rupa praktik yang berpotensi mencederai tingkat kepercayaan publik.

“Kalau ada KBIHU, travel, atau siapa pun yang menjadikan jamaah sebagai komoditas, maka itu akan menjadi perhatian serius kita. Tugas kita adalah memastikan jamaah memperoleh pelayanan yang aman, nyaman, dan bermartabat,” ujarnya.

Wamenhaj pun turut mengimbau perihal krusialnya mengonsep pola komunikasi yang lebih intim bersama para jamaah. Berdasarkan pandangannya, tiap-tiap rumusan kebijakan maupun bentuk pelayanan wajib senantiasa menaruh kebutuhan jamaah selaku fokus prioritas paling utama.

Sebagai elemen dari langkah transformasi pelayanan, Dahnil memacu pengaplikasian gagasan One Stop Service dengan tujuan agar masyarakat penikmat layanan mengantongi kemudahan, integrasi data, serta efisiensi yang lebih baik.

Ia mengukur jika parameter kesuksesan dari penyelenggaraan ibadah haji wajib dirancang lewat skema perencanaan yang matang di tiap-tiap fasenya, dari mulai penyusunan draf kebijakan, penentuan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH), penyediaan komponen layanan, seleksi rekrutmen petugas, bimbingan beserta manasik bagi jamaah, alur pemrosesan visa, fase pemberangkatan, dinamika operasional sewaktu di Tanah Suci, sampai dengan tahap evaluasi sebagai fondasi penyempurnaan haji di musim-musim berikutnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua