Breaking

Dow Jones Menguat di Tengah Pelemahan Indeks Nasdaq dan S&P 500

AK
Akbar

Editor: Mazroh Atul Jannah

Selasa, 23 Juni 2026
Dow Jones Menguat di Tengah Pelemahan Indeks Nasdaq dan S&P 500
Ilustrasi: Indeks Dow Jones menguat 0,29 persen didukung sektor kesehatan dan industri. (Gambar: NET)

JAKARTA – Bursa saham Wall Street ditutup dengan hasil bervariasi pada perdagangan Senin (22/6/2026) waktu setempat. Indeks S&P 500 dan Nasdaq tercatat melemah akibat tekanan penurunan pada saham-saham sektor teknologi berkapitalisasi besar, termasuk Alphabet.

Selain faktor tersebut, pelaku pasar juga turut mencermati perkembangan terkini terkait negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Berdasarkan data Reuters, Dow Jones Industrial Average berhasil naik 148,01 poin atau 0,29 persen ke level 51.712,71. Sementara itu, S&P 500 terkoreksi 27,79 poin atau 0,37 persen ke 7.472,79, dan Nasdaq Composite turun 351,33 poin atau 1,32 persen menjadi 26.166,60.

Di sisi lain, indeks Dow Jones mampu ditutup menguat berkat dukungan dari sektor kesehatan dan industri. Saham SpaceX anjlok sebesar 16,4 persen, yang menjadi penurunan harian terbesar dalam sejarahnya dan turut membebani kinerja Nasdaq Composite.

Meski begitu, saham SpaceX diketahui masih diperdagangkan di atas harga IPO-nya, yaitu sebesar USD135 per saham. Perusahaan milik Elon Musk ini baru saja meluncurkan penawaran utang perdana pada Senin dan melaporkan kepemilikan kas serta setara kas sekitar USD100,8 miliar per 19 Juni.

Optimisme terhadap kecerdasan buatan atau AI selama ini memang menopang reli Wall Street, namun investor kini mulai mempertanyakan besarnya belanja infrastruktur perusahaan hyperscaler. Saham Alphabet merosot 5 persen, sementara saham Meta, Amazon, dan Microsoft mengalami penurunan antara 2,3 persen dan 4,7 persen.

Sebagai ujian selanjutnya bagi pasar, investor menantikan laporan kinerja kuartalan Micron Technology yang akan dirilis pada hari Rabu. Perlu dicatat bahwa saham produsen chip memori ini telah mencatatkan kenaikan hampir 300 persen sepanjang tahun ini.

Tujuh dari sebelas sektor utama S&P ditutup menguat dengan dipimpin oleh sektor real estat dan energi. Adapun sektor layanan komunikasi menjadi sektor dengan kinerja terlemah setelah mencatatkan penurunan sebesar 3,8 persen.

Harga minyak dunia dilaporkan turun setelah Washington dan Teheran sepakat mengenai peta jalan menuju kesepakatan final dalam waktu 60 hari. Mediator menyatakan bahwa pejabat AS dan Iran telah mencapai “kemajuan besar” dalam putaran awal pembicaraan di Swiss, kendati ketegangan tetap ada terkait situasi di Lebanon dan Selat Hormuz.

Fokus pasar minggu ini akan beralih pada data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang akan dirilis hari Kamis sebagai indikator inflasi inti pilihan The Fed. Apabila hasil data tersebut melampaui perkiraan, ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dapat menguat setelah Ketua The Fed, Kevin Warsh, menegaskan pentingnya menekan inflasi pekan lalu.

Berdasarkan data LSEG, pasar saat ini memprediksi adanya kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh The Fed pada bulan September mendatang. Di Bursa Efek New York (NYSE), jumlah saham yang mengalami penurunan tercatat lebih banyak dibandingkan yang menguat dengan rasio 1,32 banding 1.

Sebanyak 345 saham berhasil mencapai level tertinggi baru, sementara 200 saham mencetak level terendah baru. Sementara itu, di bursa Nasdaq, sebanyak 2.078 saham menguat dan 2.773 saham melemah dengan rasio saham turun terhadap naik sebesar 1,33 banding 1.

S&P 500 mencatat 29 level tertinggi baru dan 33 level terendah baru dalam kurun waktu 52 minggu. Nasdaq Composite mencatat 144 level tertinggi baru dan 186 level terendah baru.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 22,97 miliar saham, melampaui rata-rata volume selama 20 hari perdagangan terakhir yang sebesar 22,12 miliar saham.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua