Ikuti Wall Street, Bursa Asia Bersiap Rebound Pasca Penurunan
JAKARTA – Bursa saham Asia bersiap bangkit dari pelemahan terdalamnya sejak Maret lalu, sejalan dengan penguatan yang terjadi di Wall Street. Di sisi lain, harga minyak mentah global terpantau stabil setelah Iran dan Israel menyatakan komitmen untuk meredakan serangan yang sebelumnya sempat membahayakan perundingan damai di Timur Tengah.
Kontrak berjangka ekuitas memperlihatkan potensi lonjakan lebih dari 2 persen di Tokyo, setelah indeks Nikkei 225 terperosok hampir 4 persen pada perdagangan Senin (8/6/2026). Pergerakan kontrak berjangka juga mengisyaratkan penguatan tipis di Sydney serta pembukaan yang moderat di bursa Hong Kong.
Kontrak berjangka S&P 500 sedikit melemah setelah kebangkitan saham produsen cip, seperti Nvidia Corp dan Micron Technology Inc, sukses mendorong penguatan indeks acuan AS tersebut pada Senin malam.
Harga minyak dunia tidak banyak berubah setelah menghapus sebagian besar lonjakan tajam pada sesi sebelumnya. Keputusan gencatan senjata antara Israel dan Iran berhasil meredam tekanan naik pada harga minyak mentah.
Sempat tertahan sejenak setelah mencetak serangkaian rekor tertinggi sepanjang masa, pelaku pasar yang memanfaatkan momentum pergerakan harga kembali membanjiri bursa AS pada hari Senin. Aksi ini kembali menyulut optimisme bahwa tren pasar bergairah masih jauh dari kata berakhir, yang juga ditopang oleh situasi kondusif di Timur Tengah.
Menurut Mike Wilson dari Morgan Stanley, aksi jual saham yang dipicu oleh penyesuaian posisi portofolio pada akhir pekan lalu merupakan sebuah pemulihan yang sehat. Ia tetap mempertahankan pandangan positif terhadap pasar yang disokong oleh kinerja laba perusahaan serta data ekonomi yang solid.
“Pasar jarang bergerak dalam garis lurus secepat yang terlihat sejak level terendah pada Maret lalu,” ujar Wilson. “Koreksi adalah hal yang tidak terhindari dan pada akhirnya menyehatkan jika tren bull market ini ingin terus berlanjut hingga akhir tahun,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Optimisme serupa juga disampaikan oleh sejumlah analis lain, termasuk tim strategi Citigroup Inc. yang dipimpin oleh Scott Chronert. Mereka menaikkan target akhir tahun untuk indeks S&P 500 setelah mengamati adanya lonjakan besar pada ekspektasi laba perusahaan.
“Kami tidak memperkirakan investor akan kehilangan kepercayaan pada prospek sektor AI,” kata Mark Haefele dari UBS Global Wealth Management, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
“Meskipun saham-saham teknologi sempat tertekan dalam beberapa hari terakhir akibat kekhawatiran terkait pemenuhan ekspektasi pasar, fundamental bisnis sektor ini tetap kuat,” tutur Mark Haefele, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Meskipun demikian, tidak semua pihak bersikap optimistis. Menurut Bank of America Securities, investor justru harus mulai waspada terhadap saham AS karena semakin banyak sinyal pasar lesu yang menunjukkan bahwa pergerakan indeks sudah mendekati puncaknya.
“Terlalu banyak lampu merah,” tulis tim strategi yang dipimpin oleh Savita Subramanian dalam sebuah nota analisis tertanggal 5 Juni, sebagaimana dilansir dari berita sumber.