Aksi Jual Bersih Investor Asing Menurun Jelang Evaluasi Indeks MSCI
JAKARTA – Arus keluar atau aksi jual bersih (net sell) oleh pemodal internasional di pasar modal Tanah Air terpantau mulai menyusut mendekati momentum pergantian indeks MSCI yang bakal diimplementasikan secara efektif pada penghujung Mei 2026. Sepanjang periode transaksi seminggu pada 18-22 Mei 2026, investor mancanegara tercatat melakukan net sell senilai Rp809,1 miliar pada pasar reguler.
Jumlah tersebut terhitung lebih minim jika dikomparasikan dengan beberapa kurun waktu sebelumnya yang konsisten membukukan gelombang hengkangnya modal asing dalam skala nilai triliunan rupiah.
Sebagai bentuk perbandingan, pada rentang waktu 27-30 April 2026, derasnya arus keluar dana pemodal asing bahkan sempat menyentuh kisaran Rp5,5 triliun di pasar reguler.
Sementara itu, pada kurun waktu 4-8 Mei 2026, pemodal internasional terdata melangsungkan net sell berkisar Rp2,4 triliun di pasar reguler, lalu bergerak mendaki ke posisi Rp3,2 triliun sepanjang periode 11-13 Mei 2026.
Merujuk pada data otoritas Bursa, saham milik PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menempati urutan teratas sebagai efek yang paling gencar dilego oleh pihak asing dengan perolehan nilai jual bersih mencapai Rp1,03 triliun.
Posisi tersebut disusul oleh PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dengan torehan senilai Rp624 miliar dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang mencatatkan nilai sebesar Rp589,1 miliar.
Bukan hanya itu, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turut membukukan net sell senilai Rp516,6 miliar, diikuti oleh PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp438,7 miliar serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) senilai Rp398,9 miliar.
Berikut merupakan rincian emiten dengan pencapaian net sell asing paling masif sepanjang perdagangan 18-22 Mei 2026:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp1,03 triliun
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp624 miliar
- PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) Rp589,1 militar
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) Rp516,6 miliar
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) Rp438,7 miliar
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) Rp398,9 miliar
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp397,3 miliar
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp314,2 miliar
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) Rp262,7 miliar
- PT Astra International Tbk (ASII) Rp225,2 miliar
Pada sisi yang lain, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan terjungkal sebesar 8,35% di sepanjang aktivitas transaksi 18-22 Mei 2026 menuju ke posisi level 6.162,045. Kejatuhan ini memposisikan IHSG ke dalam jajaran indeks dengan catatan kinerja paling buruk di wilayah teritorial Asia serta ASEAN sepanjang pekan kemarin.
Berdasarkan publikasi data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai kapitalisasi pasar bursa dilaporkan ikut menyusut sebesar 10,07% menyentuh angka Rp10.635 triliun dari capaian periode sebelumnya yang bertengger di level Rp11.825 triliun.
Sektor saham dari gurita bisnis milik konglomerat Prajogo Pangestu tampil menjadi beban pemberat paling utama bagi laju pergerakan IHSG pada minggu lalu. Emiten PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) anjlok sedalam 53,49% sekaligus didaulat menjadi pencipta laggard paling besar bagi IHSG lewat sumbangsih koreksi negatif sebanyak 47,55 poin.
Posisi tersebut diikuti oleh PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang tergerus sebanyak 47,34% serta PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang melorot hingga 23,44%.
Kendati demikian, untuk rata-rata nilai transaksi harian di lingkungan bursa justru dilaporkan terangkat naik sebesar 15,68% menyentuh angka Rp21,77 triliun. Namun, untuk aspek frekuensi transaksi harian justru terpantau mengalami penurunan sebesar 6,5% menjadi berada di level 2,36 juta kali aktivitas transaksi.