Dolar AS Stabil Setelah Volatilitas Pasca Fed dan Fokus BoE
JAKARTA – Dolar AS (USD) bergerak stabil pada Kamis pagi di Eropa setelah pergerakan volatil yang terjadi pada sesi Amerika hari Rabu.
Data awal Indeks Harga Konsumen (IHK) Juli dari Jerman serta pembacaan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II dari Jerman, Zona Euro, dan AS akan dipantau ketat oleh para investor.
Selain itu, Bank of England (BoE) dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneter yang bakal dilanjutkan dengan konferensi pers Gubernur BoE Andrew Bailey.
Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan suku bunga kebijakan di kisaran 3,5 persen–3,75 persen pada pertemuan Juli untuk kelima kalinya secara beruntun, meskipun tiga pejabat The Fed tidak sependapat dan menginginkan kenaikan suku bunga seperempat poin.
Reaksi awal pasar menyebabkan USD sempat melemah karena terdapat spekulasi kenaikan suku bunga sekitar 30 persen sebelum pengumuman resmi dirilis.
Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan pandangan hawkish pada konferensi pers setelah pertemuan yang kemudian membantu USD kembali menguat.
Indeks USD bangkit pada awal Kamis dan bertahan di kisaran 101,00 atau naik sekitar 0,2 persen hari ini setelah turun lebih dari 0,5 persen pada hari Rabu.
Keteguhan Warsh terhadap target inflasi 2 persen, kesiapan bertindak, serta fokus pada inflasi inti memperkuat perkiraan bahwa kebijakan ketat akan berlanjut lebih lama demi menopang Dolar AS.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih tinggi setelah AS meluncurkan gelombang serangan besar ke wilayah Iran selatan seperti Bandar Abbas, Kish, dan Pulau Qeshm.
Sebuah kapal milik AS dilaporkan terbakar di pelabuhan Mesir akibat dugaan serangan drone, walau belum ada konfirmasi resmi dari otoritas setempat.
Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate naik sekitar 1 persen ke atas 84 Dolar AS per barel pada hari Kamis setelah menguat hampir 7 persen pada hari Rabu.
BoE diprakirakan bakal mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75 persen seusai rapat keputusan bulan Juli.
Pasangan mata uang GBP/USD masih berkonsolidasi di bawah level 1,3350 pada pagi hari di Eropa usai melonjak lebih dari 0,5 persen pada hari Rabu.
Pound sterling diperkirakan menghadapi potensi beban dalam beberapa bulan mendatang akibat situasi politik domestik serta reformasi kesejahteraan di Inggris.
Rabobank menilai bahwa kondisi tersebut berpotensi menjadi sumber volatilitas dan meningkatkan risiko kenaikan EUR/GBP menuju level 0,87 dalam tiga bulan ke depan, "mengingat potensi kekecewaan akibat tidak adanya kenaikan suku bunga dari Bank tahun ini, ditambah kemungkinan gesekan politik terkait pemotongan anggaran, kami melihat risiko kenaikan EUR/GBP menuju 0,87 dalam tiga bulan ke depan," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pasangan USD/JPY bergerak naik tipis di atas level 163,50 setelah sebelumnya mencatatkan penurunan tipis pada perdagangan hari Rabu.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menjelaskan bahwa pejabat tidak menetapkan batas atas untuk permintaan anggaran tahun depan, "karena anggaran awal bisa lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya, dan pasar bisa bereaksi berlebihan terhadap hal itu," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Harga emas (XAU/USD) sempat naik menembus 4.100 Dolar AS per ons pada sesi Amerika hari Rabu sebelum ditutup menguat hampir 1 persen di sekitar level 4.070 Dolar AS.
Pergerakan XAU/USD masih berada di bawah tekanan bearish pada Kamis pagi di Eropa dan diperdagangkan di bawah level 4.050 Dolar AS.
Analis Commerzbank menilai kenaikan harga emas terjadi seiring lonjakan imbal hasil obligasi AS tenor panjang akibat kekhawatiran pasar terhadap penanganan inflasi oleh The Fed, "imbal hasil tenor lebih panjang meningkat tajam ketika investor menilai respons The Fed belum memadai untuk menahan inflasi yang persisten," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Komunikasi bank sentral yang lebih berhati-hati dinilai belum mampu menenangkan dinamika pasar dalam waktu dekat, "pendekatan ini kemungkinan akan menjaga volatilitas pasar tetap tinggi ketika investor menilai ulang prospek kebijakan," sebagaimana dilansir dari berita sumber.