Breaking

Trinugraha Tunjuk Goldman Sachs, Saham BFI Finance Naik Tujuh Persen

AK
Akbar

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 25 Mei 2026
Trinugraha Tunjuk Goldman Sachs, Saham BFI Finance Naik Tujuh Persen
Ilustrasi Goldman Sachs (Gambar: NET)

JAKARTA – Saham PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) mengalami lonjakan hingga lebih dari 7% setelah beredarnya laporan terkait penunjukan Goldman Sachs oleh pemilik saham pengendali mereka, Trinugraha Capital. Langkah penunjukan ini diambil guna menjembatani potensi penjualan porsi kepemilikan saham pada perusahaan multifinance tersebut.

Trinugraha Capital, yang berada di bawah sokongan miliarder asal Indonesia, yakni Garibaldi "Boy" Thohir, beserta Jerry Ng, dikabarkan membidik valuasi mulai dari Rp 1.200 untuk tiap lembar sahamnya. Transaksi yang direncanakan ini sekaligus menjadi indikasi kembalinya ketertarikan raksasa finansial asal Jepang terhadap pasar pembiayaan bagi konsumen serta sektor UMKM di Indonesia.

Sejumlah analis mengalkulasi bahwa nilai wajar bagi kesepakatan bisnis ini berpeluang menyentuh angka Rp 1.540 per lembar saham. Nominal tersebut memperlihatkan kelipatan premium yang sepadan dengan aksi pencaplokan oleh korporasi Jepang yang terjadi baru-baru ini pada sektor kredit di Indonesia.

Pihak Trinugraha Capital saat ini menguasai porsi sebesar 51,12% dari saham pengendali di dalam BFI Finance. Bersumber dari laporan Investortrust, emiten konsorsium ini mempercayakan posisi penasihat keuangan kepada Goldman Sachs guna mengawal berjalannya proses pelepasan saham atau divestasi tersebut.

Trinugraha Capital sendiri bukan sekadar sebuah perusahaan holding biasa, melainkan merupakan bentuk konsorsium berskala besar yang ditopang oleh raksasa private equity dunia, yakni TPG Capital dan Northstar Group. Di dalam struktur tersebut, ikut terlibat pula figur kakap perbankan seperti Jerry Ng yang sukses membesarkan nama Bank Jago, beserta konglomerat di bidang energi, Garibaldi "Boy" Thohir.

Berdasarkan laporan pasar yang dihimpun oleh Mergermarket, proses negosiasi diindikasikan telah berjalan lewat jalur privat, alih-alih melalui mekanisme lelang terbuka bagi publik. Walaupun identitas dari calon pemegang saham baru masih disimpan rapat, arah bidikan utama tertuju kepada institusi luar negeri, dengan lembaga keuangan asal Jepang yang ditempatkan sebagai kandidat paling potensial.

Potensi Premium dan Valuasi Saham

Kondisi pasar saat ini tengah memperhitungkan nilai premi yang cukup signifikan pada saham emiten yang bergerak di bidang pembiayaan ini. Di sesi perdagangan hari Jumat, saham BFIN ditutup menguat sebanyak 7,74% menuju posisi Rp 835, yang sekaligus menggenapkan akumulasi perolehan kenaikan dalam kurun bulanan hingga lebih dari 15%.

Patokan harga terendah atau floor price yang menjadi rumor dalam proses negosiasi ini merujuk kepada tingkat harga masuk pada tahun 2022 lampau, yakni sebesar Rp 1.200 per lembar saham. Target batas harga minimum tersebut mencerminkan adanya potensi kenaikan sebesar 54% dari posisi harga pasar yang berlaku saat ini.

Skenario paling optimistis untuk para pemodal bahkan dinilai jauh lebih agresif apabila berkaca pada peristiwa akuisisi Mandala Multifinance (MFIN) oleh Adira Finance (ADMF) yang disokong penuh oleh MUFG. Aksi korporasi yang dilakukan kala itu sukses mengunci rasio Price to Book Value (PBV) di level 2,2 kali.

Jika BFI Finance berhasil mendapatkan kelipatan angka valuasi yang setara, nilai harga akuisisi diprediksikan sanggup menyentuh level Rp 1.540 untuk setiap lembar saham. Angka ini merepresentasikan adanya potensi keuntungan hingga sebesar 99% bagi para pemegang saham perusahaan saat ini.

Kualitas Aset dan Portofolio Kredit

Daya pikat paling utama dari BFI Finance bertumpu pada portofolio bisnisnya yang berhasil terdiversifikasi secara matang, mulai dari lini pembiayaan kendaraan otomotif, alat-alat berat, hingga penyaluran kredit yang berbasis ekuitas rumah. Di kala Trinugraha pertama kali masuk pada tahun 2022, besaran nilai ekuitas dari perusahaan ini ditaksir menyentuh angka Rp 11 triliun.

Rekam jejak dari korporasi yang terbukti konsisten dalam memelihara kualitas aset serta menerapkan standar manajemen risiko secara ketat turut menjadi nilai plus tersendiri. Keadaan tersebut menjadikannya sebagai aset yang siap pakai bagi institusi bank asing yang berkeinginan untuk langsung memegang kendali dominasi pada industri kredit konsumen di Indonesia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua