Selasa, 26 Mei 2026

Dow Jones Cetak Rekor Baru, Naik 0,55 Persen ke Level 50.285,66

Dow Jones Cetak Rekor Baru, Naik 0,55 Persen ke Level 50.285,66
Ilustrasi Dow Jones (Gambar: NET)

JAKARTA – Pasar saham Amerika Serikat (AS) menutup sesi perdagangan Kamis (21/5/2026) dengan kenaikan tipis, yang didorong oleh penurunan harga minyak mentah serta meningkatnya harapan positif terkait kelanjutan dialog damai antara pihak AS dan Iran. Atensi utama para pelaku pasar mengarah pada pergerakan geopolitik tersebut, lantaran minimnya sentimen kejutan dari publikasi laporan kinerja keuangan emiten periode ini.

Indeks Dow Jones Industrial Average mencatatkan kenaikan sebesar 0,55% atau bertambah 276,31 poin menuju posisi 50.285,66, yang sekaligus menjadi rekor penutupan tertinggi baru. Sementara itu, indeks S&P 500 menguat sebesar 0,17% ke level 7.445,72, dan indeks Nasdaq Composite ikut merangkak naik tipis 0,09% ke angka 26.293,10.

Alur pergerakan pasar sempat diwarnai volatilitas pada perdagangan sesi pagi, tetapi berhasil berbalik ke zona hijau pada paruh kedua perdagangan setelah harga minyak terkoreksi dari level tertingginya hari itu. Tanggapan para pelaku pasar dipengaruhi oleh informasi terkini terkait dialog AS–Iran yang dikabarkan mulai memperlihatkan perkembangan awal, walaupun beberapa poin krusial masih belum mencapai kesepakatan.

Baca Juga

Harga Emas Antam Hari Ini 25 Mei 2026 Naik Rp 30.000 per Gram

Masalah sensitif tersebut mencakup perbedaan pandangan tentang program pengayaan uranium oleh Iran serta aspek pengawasan di kawasan Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi lalu lintas distribusi minyak dunia. Penilaian dari investor memperlihatkan bahwa pasar saat ini berada dalam situasi yang sangat sensitif terhadap dinamika isu geopolitik.

Seiring berlalunya periode rilis laporan keuangan kuartalan, perhatian pasar kembali terfokus pada faktor risiko eksternal, terutama perkembangan konflik dan diplomasi di kawasan Timur Tengah.

Dari sektor emiten, saham Walmart anjlok sedalam 7,3% setelah perusahaan ritel raksasa dunia tersebut mempublikasikan proyeksi laba kuartal kedua yang berada di bawah ekspektasi pasar. Pihak manajemen juga menggarisbawahi peningkatan beban biaya, khususnya akibat tingginya harga bahan bakar, yang berisiko memicu inflasi di sektor ritel.

Di sisi lain, saham Nvidia terkoreksi sebesar 1,8% dipicu aksi ambil untung oleh para pemodal, kendati korporasi tersebut sebelumnya telah merilis proyeksi pendapatan yang kuat disertai rencana pembelian kembali saham senilai US$80 miliar.

Sentimen negatif juga datang dari kekhawatiran mengenai peningkatan persaingan di sektor industri semikonduktor. Meski demikian, indeks sektoral Philadelphia Semiconductor Index justru mampu menguat sebesar 1,3%, menggambarkan optimisme pelaku pasar bahwa capaian Nvidia tetap menjadi indikator positif bagi industri chip secara menyeluruh.

Pada sektor teknologi, pergerakan masif melanda kelompok saham komputasi kuantum setelah adanya pemberitaan bahwa pemerintah AS berencana menggelontorkan dana bagi sejumlah perusahaan di sektor terkait dengan kompensasi kepemilikan saham.

IBM membukukan lonjakan sebesar 12,4% setelah dilaporkan ikut serta dalam program baru tersebut. Saham GlobalFoundries melonjak hingga 14,9%, sedangkan D-Wave Quantum melesat tajam sebesar 33,4%.

Demikian pula dengan Rigetti Computing yang melonjak 30,6% serta Infleqtion yang menguat sebesar 31,5%. Sebaliknya, saham Intuit terperosok hingga 20% setelah perusahaan penyedia layanan TurboTax tersebut memangkas estimasi pendapatan tahunan mereka sekaligus mengumumkan program pemutusan hubungan kerja bagi sekitar 17% pegawai tetapnya.

Pelemahan ini ikut menyeret saham H&R Block yang merosot sebesar 4,8%. Beralih ke indikator makroekonomi, angka klaim tunjangan pengangguran di AS memperlihatkan penurunan, yang menandakan bahwa kondisi pasar tenaga kerja domestik masih berada dalam posisi kokoh.

Selain itu, tingkat aktivitas manufaktur juga meningkat ke posisi tertinggi dalam kurun waktu empat tahun terakhir pada bulan Mei, dipicu oleh tindakan korporasi dalam menimbun stok persediaan demi mengantisipasi potensi hambatan rantai pasok serta kenaikan harga akibat eskalasi ketegangan geopolitik. Secara makro, jumlah saham yang mencatatkan kenaikan tetap mendominasi dibandingkan dengan saham yang terkoreksi, dengan perbandingan rasio sebesar 1,51 banding 1 di Bursa Saham New York. Volume perdagangan yang tercatat menyentuh angka 17,67 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata volume dalam jangka waktu 20 sesi terakhir.

Meskipun berhasil mengakhiri perdagangan di zona hijau, situasi pasar saat ini dianggap masih berada dalam fase yang rentan, di mana arah pergerakan jangka pendek akan sangat bergantung pada dinamika geopolitik global serta proyeksi arah kebijakan di tingkat dunia.

Akbar

Akbar

teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Update 25 Mei 2026: Harga Perak Antam Melonjak ke Rp51.400 per Gram

Update 25 Mei 2026: Harga Perak Antam Melonjak ke Rp51.400 per Gram

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Stabil, Cek Rincian Lengkapnya

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Stabil, Cek Rincian Lengkapnya

Rincian Harga Emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian 25 Mei 2026

Rincian Harga Emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian 25 Mei 2026

Efek Ekspor Satu Pintu Bayangi Saham Sawit, 2 Emiten Ini Pilihan

Efek Ekspor Satu Pintu Bayangi Saham Sawit, 2 Emiten Ini Pilihan

IHSG Rawan Koreksi, Cek Saham Pilihan Analis Jelang Akhir Mei

IHSG Rawan Koreksi, Cek Saham Pilihan Analis Jelang Akhir Mei