Sabtu, 14 Februari 2026

Tren Pasar Asuransi Soft Market Asia Picu Persaingan Sengit di Indonesia

Tren Pasar Asuransi Soft Market Asia Picu Persaingan Sengit di Indonesia
Tren Pasar Asuransi Soft Market Asia Picu Persaingan Sengit di Indonesia

JAKARTA - Dinamika industri asuransi komersial di kawasan Asia tengah mengalami pergeseran fundamental yang signifikan menjelang akhir tahun 2025. Setelah bertahun-tahun berada dalam cengkeraman harga tinggi, pasar asuransi komersial di Asia kembali mencatatkan penurunan tarif pada kuartal IV/2025. Laporan terbaru Marsh dalam Asia Insurance Market Rates: 2025 Fourth Quarter menunjukkan tarif asuransi komersial global turun 4% secara tahunan, menjadi penurunan kuartalan keenam berturut-turut.

Fenomena ini menjadi sinyal kuat bagi para pelaku usaha di tanah air. Khusus Asia, tarif komposit asuransi turun 5% pada kuartal IV/2025, sama seperti kuartal sebelumnya. Namun, sorotan utama tertuju pada pasar domestik. Khusus Indonesia, tarif komposit asuransi turun sebesar 5% pada kuartal IV/2025 atau lebih besar dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang hanya -3%. Bagi Indonesia, tren ini mengonfirmasi satu fase penting yaitu pasar telah masuk ke periode soft market, di mana kapasitas melimpah dan kompetisi antarperusahaan asuransi bakal semakin ketat.

Dominasi Kapasitas Melimpah di Lini Properti

Baca Juga

Harga Emas Antam Naik Empat Belas Ribu Galeri Dua Puluh Empat Anjlok

Sektor properti menjadi salah satu pendorong utama di balik melandainya tarif premi di kawasan ini. Di lini properti, tarif Asia turun 5% didorong kapasitas yang berlimpah dan kompetisi agresif antarpenanggung. Meskipun tren umum menurun, terdapat disparitas yang cukup tajam di beberapa negara. Penurunan tarif terbesar dialami oleh Korea sebesar 18%, sedangkan di Indonesia turun sebesar 5%. Di sisi lain, Vietnam mencatatkan diri sebagai satu-satunya negara yang mengalami kenaikan tarif sebesar 18%.

Sepanjang 2025, grafik beberapa negara dalam laporan menunjukkan kecenderungan penurunan tarif yang konsisten, kecuali Jepang dengan kenaikan tarif dan Filipina serta Vietnam dengan tren fluktuatif. Bagi para pemegang polis di sektor properti, kondisi soft market ini membawa angin segar dalam bentuk fleksibilitas kontrak. Beberapa keuntungan yang dinikmati tertanggung dengan adanya tren penurunan tarif properti ini antara lain: perbaikan sublimit, deductible lebih fleksibel, pelonggaran klausul restriktif, dan skema long-term agreement dengan diskon multi-tahun.

Namun, kendati pasar sedang melunak, disiplin penilaian risiko tetap menjadi prioritas bagi perusahaan asuransi. Underwriter tetap selektif terhadap perusahaan dengan histori klaim memburuk. Bagi sektor manufaktur, energi, hingga infrastruktur di Indonesia, kondisi ini membuka ruang negosiasi premi yang lebih kompetitif saat perpanjangan polis.

Stabilitas Lini Casualty dan Penurunan Lini Finansial

Berbeda dengan lini properti yang cukup agresif, lini casualty atau asuransi kecelakaan/tanggung gugat menunjukkan pergerakan yang lebih moderat. Untuk lini casualty, tarif premi di Asia turun tipis 1%. Di Indonesia, tren relatif stabil dengan stagnasi 0% dari kuartal sebelumnya yang sempat turun 2%. Kapasitas dari insurer regional dan global masih cukup kuat, membuat pembeli polis memiliki daya tawar lebih baik. Kenaikan signifikan justru terjadi di Jepang.

Sementara itu, penurunan terdalam terjadi di lini financial & professional lines, yang turun 10% di Asia. Di Indonesia sendiri penurunannya sebesar 6%. Tarif Directors & Officers (D&O) liability melemah akibat kompetisi tinggi, kapasitas global kembali agresif, dan pergeseran IPO China ke Hong Kong yang menekan peluang premi. Kondisi ini menjadi kesempatan emas bagi korporasi di Indonesia untuk memperkuat perlindungan bagi jajaran manajemen mereka. Emiten atau perusahaan publik domestik berpotensi mendapatkan premi D&O lebih rendah, sekaligus kesempatan meningkatkan limit pertanggungan. Namun di sisi lain, tekanan tarif bisa berdampak pada margin underwriting perusahaan asuransi nasional.

Anomali Tarif Asuransi Siber di Tengah Risiko AI

Salah satu poin yang paling menarik dalam laporan kuartal ini adalah perilaku tarif asuransi siber. Menariknya, tarif cyber di Asia turun 10%, lebih dalam dibanding kuartal sebelumnya yang turun 5%. Penurunan tarif ini terjadi di tengah intensitas insiden siber yang terus meningkat dan regulasi yang makin ketat. Hal ini menunjukkan betapa agresifnya persaingan antarperusahaan asuransi untuk menguasai pangsa pasar risiko digital.

Perusahaan asuransi terlihat terus memperluas cakupan meliputi kerusakan properti akibat serangan siber, social engineering fraud, serangan rantai pasok, dan risiko generative AI. Indonesia berada dalam arus yang sama dengan penurunan tarif lebih dalam sebesar 13% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang hanya turun 3%. Meski premi turun, proses underwriting semakin ketat, khususnya untuk risiko rantai pasok dan eksposur pihak ketiga.

Transisi Global Menuju Fase Soft Market

Kondisi premi di kuartal IV/2025 ini menegaskan bahwa Indonesia berada dalam periode kompetisi tinggi dan tekanan tarif di hampir seluruh lini asuransi komersial. Meski kapasitas kuat dan fleksibilitas polis meningkat, tetapi industri harus menjaga disiplin underwriting agar tidak terjebak dalam perang harga yang merusak stabilitas jangka panjang.

Secara makro, penurunan tarif asuransi global selama enam kuartal berturut-turut menunjukkan perubahan pasar asuransi dari fase hard market yang sudah berlangsung selama 7 tahun, menuju soft market. Di kondisi ini, penawaran lebih beragam dan harga lebih kompetitif. Penurunan tarif global disebabkan oleh meningkatnya kapasitas industri asuransi, termasuk perluasan kapasitas reasuransi dan masuknya pemain baru.

Laporan Marsh menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah utama dunia mengalami penurunan tarif, kecuali Amerika Serikat. Pasar Pasifik terkontraksi paling dalam yaitu -12%, Eropa & Asia turun rata-rata 4%-5%, Kanada turun 3%, sedangkan Inggris, Amerika Latin & Karibia masing-masing turun sekitar 6%-7%. Tren ini mencakup hampir semua lini bisnis, dengan asuransi properti global turun sekitar 9%, lini finansial dan profesional turun 4%, serta asuransi siber turun 7%. Bagi pelaku usaha di Indonesia, ini adalah momentum tepat untuk renegosiasi kontrak dan mengoptimalkan struktur perlindungan risiko mereka.

David

David

teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Harga Emas Perhiasan Hari Ini 14 Februari Dijual Dua Juta Rupiah

Harga Emas Perhiasan Hari Ini 14 Februari Dijual Dua Juta Rupiah

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Sabtu 14  Februari Semakin Meroket Tajam

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Sabtu 14 Februari Semakin Meroket Tajam

Prediksi IHSG Dan Rekomendasi Saham Rabu 18 Februari 2026

Prediksi IHSG Dan Rekomendasi Saham Rabu 18 Februari 2026

UPTD PP Gentuma Dorong Perlindungan Nelayan Lewat Asuransi Mikro Bahari

UPTD PP Gentuma Dorong Perlindungan Nelayan Lewat Asuransi Mikro Bahari

Optimisme Menkeu Purbaya Bawa Ekonomi Indonesia Menuju Fase Ekspansi 2033

Optimisme Menkeu Purbaya Bawa Ekonomi Indonesia Menuju Fase Ekspansi 2033