Sabtu, 14 Februari 2026

Tol Cibitung-Cilincing Perkuat Konektivitas Industri dan Pelabuhan Tanjung Priok

Tol Cibitung-Cilincing Perkuat Konektivitas Industri dan Pelabuhan Tanjung Priok
Tol Cibitung-Cilincing Perkuat Konektivitas Industri dan Pelabuhan Tanjung Priok

JAKARTA - Efisiensi rantai pasok nasional kini memasuki babak baru seiring dengan optimisme pengelola infrastruktur jalan tol dalam mendukung distribusi barang yang lebih kompetitif. PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo melalui PT Cibitung Tanjung Priok Port Tollways meyakini, pengembangan dan pengelolaan Jalan Tol Cibitung-Cilincing (JTCC), bagian dari Jakarta Outer Ring Road 2 (JORR2) bakal semakin memangkas biaya logistik nasional. Proyek strategis ini dirancang untuk menjadi urat nadi utama bagi pergerakan barang dari jantung industri menuju gerbang ekspor-impor.

Langkah ini dipandang sebagai solusi fundamental atas tantangan klasik distribusi barang di wilayah penyangga ibu kota. Ke depan terdapat beberapa pengembangan yang digarap, seperti pembangunan Rest Area & Logistic Hub di Km 92 yang terhubung dengan jalan tol. Selain itu, pengelola juga merencanakan penambahan pintu-pintu tol baru untuk memperluas akses masyarakat di sekitar area trase JTCC, sehingga manfaat ekonomi infrastruktur ini dapat dirasakan lebih luas oleh warga setempat.

Inovasi NPEA dan Solusi Strategis Terminal Kalibaru

Baca Juga

Daftar Lengkap Harga BBM Pertamina Terbaru 14 Februari 2026 Seluruh Indonesia

Fokus pengembangan JTCC tidak hanya berhenti pada ketersediaan jalur utama, tetapi juga pada konektivitas langsung ke titik bongkar muat kapal. Selanjutnya Tol Cibitung-Cilincing juga akan menawarkan akses langsung ke Terminal Kalibaru dengan dibangunnya New Port Eastern Access (NPEA) di Km 108. Projek ini digadang menjadi solusi strategis untuk menghindari kemacetan di jalan arteri, sekaligus mendorong efisiensi sistem distribusi barang secara masif.

Plt Direktur Utama CTP, Erwan Dwi Winanto, menyatakan bahwa pihaknya senantiasa menjaga komitmen untuk terus mendukung terciptanya efisiensi logistik nasional. Hal ini terutama dalam mengintegrasikan kawasan industri di seputar Jakarta dengan Pelabuhan Tanjung Priok. Fokus utamanya adalah memangkas hambatan non-teknis yang selama ini menghambat kecepatan arus barang. "Saat ini kami tengah mengupayakan adanya integrasi tarif JTCC dengan ruas tol lain di Jakarta," ujar Erwan pada Jumat.

Jalan tol sepanjang 34,76 km ini memang memiliki spesifikasi khusus untuk menanggung beban kendaraan berat. Menghubungkan kawasan industri di timur Jakarta dengan Pelabuhan Tanjung Priok, jalan tol ini dikelola oleh CTP sebagai Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) pasca menyelesaikan konstruksi dan mengoperasikan secara penuh sejak tahun 2023 silam. Kehadirannya diharapkan menjadi jawaban atas kebutuhan transportasi barang yang andal dan terjadwal.

Integrasi Kunci Jalur Logistik yang Strategis

Pentingnya sinergi antar-infrastruktur juga diamini oleh para praktisi di sektor logistik. Senada dengan pengelola tol, Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Mahendra Rianto, menegaskan bahwa integrasi koridor wilayah logistik menjadi kunci dalam menciptakan sistem jalur logistik yang terhubung secara strategis antar kawasan industri, pusat distribusi, dan pelabuhan. Menurutnya, jalur yang terfragmentasi hanya akan menambah beban biaya operasional bagi pengusaha.

"Integrasi ini tidak hanya akan meningkatkan kelancaran pengiriman barang, tetapi juga membuka ruang bagi penyesuaian dan penyelarasan tarif tol agar lebih terjangkau dan kompetitif bagi pelaku usaha," ungkap Mahendra. Dengan adanya kepastian jalur dan tarif, pengusaha dapat melakukan perencanaan logistik dengan lebih akurat.

Memangkas Waktu Tempuh Wilayah Penyangga Industri

Keberadaan JTCC diklaim memiliki peran sangat strategis dalam sistem logistik nasional. Perannya sangat krusial sebagai penghubung utama antara kawasan industri di wilayah timur Jakarta seperti Bekasi, Cikarang, Karawang, dan sekitarnya dengan Pelabuhan Tanjung Priok. Wilayah-wilayah tersebut merupakan pusat manufaktur terbesar di Indonesia yang memerlukan akses cepat ke pelabuhan utama untuk menjaga daya saing di pasar global.

"Dengan konektivitas ini, JTCC diharapkan mampu memangkas waktu tempuh dan biaya distribusi logistik secara signifikan," kata Mahendra. Efisiensi yang tercipta dari penghematan bahan bakar dan waktu tempuh ini diprediksi akan memberikan dampak positif pada stabilitas harga barang di tingkat konsumen serta meningkatkan performa ekspor nasional. Melalui JTCC, integrasi industri dan pelabuhan bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas infrastruktur yang siap mendukung pertumbuhan ekonomi masa depan.

David

David

teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Laporan PIHPS Rilis Harga Pangan Nasional Bawang Merah Dan Cabai Melonjak

Laporan PIHPS Rilis Harga Pangan Nasional Bawang Merah Dan Cabai Melonjak

Harga Pangan Maluku Utara PIHPS Cabai Rawit Merah Tetap Rp120.000 Per Kilogram

Harga Pangan Maluku Utara PIHPS Cabai Rawit Merah Tetap Rp120.000 Per Kilogram

Atto 3 Tembus 3.361 Unit BYD Dominasi Pasar Mobil Listrik Di Januari 2026

Atto 3 Tembus 3.361 Unit BYD Dominasi Pasar Mobil Listrik Di Januari 2026

HGII Perkuat Ketahanan Pangan Melalui Dukungan Saprotan Bagi Petani Tapanuli

HGII Perkuat Ketahanan Pangan Melalui Dukungan Saprotan Bagi Petani Tapanuli

Bupati Gunungkidul Dorong Modernisasi Pertanian Guna Perkuat Hasil Panen

Bupati Gunungkidul Dorong Modernisasi Pertanian Guna Perkuat Hasil Panen